Tangisan dan Doa Cinta Rasulullah SAW untuk Umatnya Hingga Akhir Hayat
Senin 06-10-2025,11:11 WIB
Reporter:
juliirawan|
Editor:
juliirawan
Radarseluma.disway.id dengan Reporter Juli Irawan --
"Bukti Kasih Sayang Rasulullah SAW Tanpa Batas dari Kekasih Allah"
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Setiap insan yang beriman tentu mencintai Rasulullah SAW, sang pembawa risalah kebenaran, penuntun umat dari kegelapan menuju cahaya iman. Namun, tak semua menyadari betapa besar cinta dan kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya bahkan hingga detik-detik terakhir hayat beliau di dunia. Dalam berbagai riwayat disebutkan, Rasulullah SAW bukan hanya memikirkan umatnya di masa hidup, tetapi juga memohonkan ampun, menangis, dan berdoa untuk keselamatan mereka hingga menjelang wafat.
Tangisan beliau bukanlah karena takut terhadap diri sendiri, tetapi karena rasa cinta mendalam kepada umatnya. Beliau khawatir jika kelak di akhirat banyak umatnya yang tersesat dan jauh dari rahmat Allah. Artikel ini mengurai kisah haru tentang doa dan tangisan Rasulullah SAW untuk umatnya, disertai dalil Al-Qur’an dan hadits yang memperlihatkan betapa dalam kasih sayang beliau bagi kita semua.
Kasih Sayang Rasulullah SAW dalam Al-Qur’an
Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan sendiri dalam Al-Qur’an tentang sifat kasih sayang Rasulullah SAW terhadap umatnya.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Artinya: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari golonganmu sendiri; berat terasa olehnya penderitaanmu, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah [9]: 128)
Ayat ini menggambarkan hati mulia Rasulullah SAW. Beliau merasa berat menyaksikan penderitaan dan kesesatan umatnya. Kasih sayang dan kepedulian beliau bukanlah sebatas ucapan, tetapi diwujudkan dalam doa, tangisan, perjuangan, dan pengorbanan sepanjang hidupnya.
Tangisan Rasulullah SAW dalam Doa Malamnya
Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW sering menangis dalam shalat malamnya. Beliau menangis bukan karena takut dunia, tetapi karena merenungi nasib umatnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Suatu malam Rasulullah SAW membaca firman Allah:
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya: ‘Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.’ (QS. Al-Ma’idah [5]: 118)
Maka beliau mengangkat tangannya dan berdoa:
اللهم أمتي أمتي
Artinya: “Ya Allah, umatku... umatku...”
Beliau terus menangis hingga Allah mengutus Malaikat Jibril untuk menenangkannya dan berkata:
"Sesungguhnya Tuhanmu berfirman: Wahai Muhammad, Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu dan Kami tidak akan menyusahkanmu."(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa dalam kasih sayang Rasulullah SAW. Dalam kesendirian malam, beliau berdoa dengan linangan air mata demi keselamatan umatnya. Cinta itu begitu tulus, bahkan hingga membuat Allah sendiri menjanjikan bahwa beliau akan diridhai dengan keadaan umatnya.
Doa Rasulullah SAW Menjelang Wafatnya
Ketika ajal mulai mendekat, Rasulullah SAW masih memikirkan umatnya. Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan:
“Ketika Rasulullah SAW menjelang wafat, beliau mengusap wajahnya dengan air sambil berucap:
اللهم أعنّي على سكرات الموت
Artinya: "Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi sakaratul maut"
Lalu beliau mengangkat pandangan ke langit dan berkata lirih:
اللهم الرفيق الأعلى
Artinya: "Ya Allah, (pertemukan aku dengan) kekasih tertinggi (yakni Engkau)."
Namun di saat yang sama beliau tetap berpesan, ‘Umatku... umatku... shalat... shalat... dan takutlah kalian terhadap Allah dalam urusan budak dan orang-orang lemah di antara kalian.’”
Tangisan dan doa terakhir Rasulullah SAW adalah bentuk kasih sayang tanpa batas. Dalam kondisi paling sakit pun, beliau masih mengingat dan mendoakan umatnya agar istiqamah dalam Shalat tiang agama yang menjadi penghubung antara hamba dengan Tuhannya.
Rasulullah SAW di Hari Kiamat Masih Membela Umatnya
Cinta Rasulullah SAW kepada umatnya
tidak berhenti di dunia, bahkan berlanjut hingga hari kiamat. Dalam sebuah hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
لكل نبي دعوة مستجابة، فتعجل كل نبي دعوته، وإني اختبأت دعوتي شفاعة لأمتي يوم القيامة
Artinya: “Setiap nabi memiliki doa yang pasti dikabulkan oleh Allah. Semua nabi telah menggunakan doa itu di dunia, sedangkan aku menyimpan doaku sebagai syafa’at bagi umatku di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau sengaja menahan doa istimewanya bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memberi syafa’at (pertolongan) bagi umatnya nanti. Inilah puncak cinta seorang Rasul yang sejati cinta yang tidak mengenal batas waktu dan tempat.
Makna Tangisan Rasulullah SAW bagi Kita
Tangisan Rasulullah SAW bukan tangisan kelemahan, tetapi tangisan kasih sayang dan kepedulian terhadap nasib umat manusia. Beliau menangis karena takut umatnya jauh dari jalan Allah, tenggelam dalam dosa, dan tidak selamat di akhirat.
Tangisan itu seharusnya menggugah hati setiap mukmin. Apakah kita sudah berusaha membalas cinta Rasulullah SAW dengan meneladani akhlaknya, menjaga shalat, memperbanyak shalawat, dan menjauhi maksiat? Rasulullah SAW telah berkorban segalanya air mata, darah, dan nyawa untuk membawa umatnya menuju surga. Maka sudah seharusnya kita mencintai beliau dengan amal, bukan hanya kata-kata.
Cinta Rasulullah SAW kepada umatnya adalah cinta yang tulus dan abadi. Dari ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits shahih, hingga detik-detik wafatnya, semuanya menunjukkan betapa besar kasih sayang beliau. Beliau menangis bukan untuk dirinya, tetapi untuk kita umatnya yang belum pernah beliau temui namun selalu beliau rindukan.
Rasulullah SAW bersabda:
وَدِدْتُ لَوْ أَنِّي لَقِيتُ إِخْوَانِي
Artinya: “Aku sungguh rindu ingin bertemu dengan saudara-saudaraku.”
Para sahabat bertanya, “Bukankah kami ini saudaramu, ya Rasulullah?”
Beliau menjawab,
أَنْتُمْ أَصْحَابِي، وَإِخْوَانِي الَّذِينَ آمَنُوا بِي وَلَمْ يَرَوْنِي
Artinya: “Kalian adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudaraku adalah mereka yang beriman kepadaku namun belum pernah melihatku.” (HR. Muslim)
Kitalah yang dirindukan Rasulullah SAW Maka sudah selayaknya kita membalas kerinduan dan tangisan beliau dengan taat kepada Allah, menjaga Sunnah nya, memperbanyak shalawat, dan mencintai sesama umat Islam.
Tangisan dan doa Rasulullah SAW adalah warisan cinta yang abadi. Beliau telah memberikan segalanya agar umatnya selamat di dunia dan akhirat. Mari kita jadikan kisah ini sebagai renungan dan cambuk untuk memperbaiki diri.
Semoga Allah menjadikan kita umat yang mendapatkan syafa’at Rasulullah SAW di hari kiamat, sebagaimana sabda beliau:
أَقْرَبُكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُكُمْ عَلَيَّ صَلَاةً
Artinya: “Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Semoga kita menjadi umat yang dicintai dan diridhai oleh beliau.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (djl)
Sumber: