Menjaga Semangat Hijrah: Melindungi Niat dari Kemunduran dan Kehilangan Arah
Radarseluma.disway.id - Menjaga Semangat Hijrah: Melindungi Niat dari Kemunduran dan Kehilangan Arah--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Hijrah dalam Islam bukan hanya bermakna berpindah tempat secara fisik, seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Namun hijrah juga memiliki dimensi spiritual dan moral, yakni meninggalkan keburukan menuju kebaikan, dari maksiat menuju taat, dari kelalaian menuju kesadaran. Dalam semangat hijrah, niat menjadi landasan utama. Namun, sering kali dalam perjalanan hijrah itu, niat mengalami kemunduran, kelesuan, bahkan pelunturan. Ini adalah tantangan yang nyata dan sangat manusiawi, yang perlu diwaspadai dan diatasi dengan ilmu dan iman.
Allah tidak menilai dari hasil semata, melainkan dari niat yang menjadi pendorong utama setiap amal.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi pondasi kuat bahwa niat adalah dasar diterimanya amal. Maka, menjaga kemurnian dan kekuatan niat hijrah adalah pekerjaan sepanjang hayat.
BACA JUGA:Menjaga Kesucian Jiwa di Awal Tahun Hijriyah: Momen Muharam sebagai Titik Awal Penyucian Diri
1. Makna Hijrah dalam Kehidupan Muslim
Hijrah secara bahasa berarti “meninggalkan”. Secara istilah, hijrah bermakna meninggalkan apa yang dilarang Allah menuju apa yang diridhai-Nya.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "الْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ"
Artinya: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari)
Dari sini kita memahami bahwa hijrah tidak sebatas momentum awal tahun hijriyah atau sekadar perubahan tempat. Ia adalah transformasi hati dan perilaku yang berlangsung terus-menerus, menuntut konsistensi dan keteguhan niat.
2. Tantangan dalam Menjaga Niat Hijrah
Setiap perjalanan pasti memiliki rintangannya, begitu pula perjalanan hijrah. Ada beberapa tantangan yang kerap melemahkan niat:
• Godaan dunia: Keinginan kembali ke gaya hidup lama, tergoda materi, jabatan, atau kenikmatan dunia.
• Lingkungan tidak mendukung: Pergaulan buruk atau keluarga yang tidak paham bisa mempengaruhi semangat hijrah.
• Kurangnya ilmu: Tanpa ilmu, seseorang mudah terjatuh pada kebimbangan dan merasa lelah dalam ibadah.
• Rasa lelah spiritual: Ketika semangat ibadah tidak dibarengi dengan penguatan ruhiyah, maka keletihan jiwa akan mengikis keistiqamahan.
Allah mengingatkan agar kita tidak kembali ke jalan yang lama setelah mendapatkan petunjuk:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
Artinya: “Dan janganlah kamu seperti perempuan yang menguraikan benangnya setelah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92)
Ayat ini menggambarkan seseorang yang merusak usahanya sendiri, seperti kembali kepada kejahiliyahan setelah hijrah.
3. Strategi Menjaga Niat Hijrah agar Tidak Mundur
Agar niat hijrah tetap kokoh dan tidak melemah, ada beberapa upaya yang perlu dilakukan:
a. Menguatkan Tauhid dan Iman
Tauhid yang kuat akan mengarahkan seseorang hanya mencari ridha Allah, bukan pujian manusia. Allah berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama...” (QS. Al-Bayyinah: 5)
b. Memperkuat Ilmu dan Amal
Tanpa ilmu, semangat hijrah bisa tersesat. Ilmu menjaga niat agar tidak menyimpang, dan amal menjaga hati agar tetap terikat pada Allah.
c. Memilih Lingkungan yang Shalih
Bergaul dengan orang-orang saleh akan menjaga semangat hijrah tetap menyala. Rasulullah bersabda:
"المرء على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل
Artinya: “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang dijadikan teman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
d. Sering Muhasabah (Introspeksi Diri)
Dengan muhasabah, seseorang dapat memperbaiki niat yang mulai pudar dan menguatkannya kembali. Setiap malam sebelum tidur, tanyakan pada diri: “Apakah aku hijrah karena Allah?”
e. Memperbanyak Doa Meminta Keteguhan Hati
Rasulullah sendiri sering berdoa:
"يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ"
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)
Ini menunjukkan bahwa manusia sangat rentan dalam menjaga konsistensi hati dan niat.
BACA JUGA:Hijrah di Tempat Kerja dan Lingkungan Sosial: Menjadi Agen Perubahan yang Berakhlak Mulia
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Hijrah adalah jalan panjang menuju kebaikan, dan niat adalah bensin utama dalam perjalanan itu. Menjaga niat agar tetap murni dan tidak mengalami kemunduran adalah ibadah tersendiri yang memerlukan ilmu, kesabaran, dan lingkungan yang mendukung. Dalam kehidupan modern yang penuh distraksi, menjaga niat menjadi tantangan besar, tetapi sangat mungkin dilakukan jika hati terus bergantung kepada Allah, ilmu terus ditambah, dan amal terus dijaga.
Hijrah bukan sekadar langkah awal menuju perubahan, tetapi perjuangan seumur hidup. Niat yang lurus adalah cahaya dalam kegelapan, dan hijrah yang ikhlas adalah tonggak kebangkitan spiritual seorang Muslim. Maka mari terus menjaga semangat hijrah kita, meluruskan niat karena Allah, dan tidak kembali pada keburukan masa lalu. Semoga Allah menetapkan kita dalam hidayah-Nya dan menerima hijrah kita sebagai amal yang bernilai di sisi-Nya.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ إِلَيْكَ بِقُلُوبِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
Artinya: (Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berhijrah kepada-Mu dengan hati dan amal kami, dan teguhkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu). (djl)
Sumber: