Menjernihkan Hati: Meninggalkan Sifat Takabur dan Riya dalam Cahaya Iman

Menjernihkan Hati: Meninggalkan Sifat Takabur dan Riya dalam Cahaya Iman

Radarseluma.disway.id - Menjernihkan Hati: Meninggalkan Sifat Takabur dan Riya dalam Cahaya Iman--

Reporter: Juli Irawan

Radarseluma.disway.id - Dalam kehidupan spiritual seorang Muslim, kebersihan hati menjadi pondasi utama untuk meraih keridhaan Allah SWT. Hati yang bersih akan melahirkan amal yang ikhlas dan jauh dari noda-noda penyakit jiwa seperti takabur (sombong) dan riya (pamer ibadah). Dua sifat ini bukan hanya merusak hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, tapi juga menghancurkan nilai amal dan menghalangi keberkahan dalam hidup.

Takabur dan riya merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Keduanya sering kali tumbuh tanpa disadari, menyusup dalam amal yang tampak mulia. Islam sebagai agama fitrah sangat menekankan pentingnya menjaga keikhlasan dan menghapus segala bentuk kesombongan serta pamrih dalam beramal.

Makna Takabur dan Riya

Takabur berasal dari kata kibr yang berarti besar. Dalam istilah syar’i, takabur berarti merasa diri lebih tinggi dari orang lain dan menolak kebenaran karena merasa lebih mulia. Sementara riya adalah melakukan suatu amal bukan karena Allah, tetapi untuk mendapatkan pujian dari manusia.

Imam Al-Ghazali menyebut riya sebagai “syirik kecil” karena seseorang menjadikan manusia sebagai tujuannya dalam ibadah, bukan Allah SWT.

Allah SWT berfirman tentang larangan bersifat sombong:

وَلَا تَمْشِ فِي ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ ٱلْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ ٱلْجِبَالَ طُولًا

Artinya: "Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung." (QS. Al-Isra: 37)

Dalam ayat ini, Allah melarang perilaku arogan bahkan dalam hal yang sederhana seperti cara berjalan. Ini menunjukkan betapa Islam sangat memuliakan kerendahan hati.

Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِّنْ كِبْرٍ

Artinya: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat dzarrah dari kesombongan." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan betapa bahayanya sifat takabur. Bahkan jika hanya sebesar biji zarrah, sudah cukup menjadi penghalang untuk masuk surga.

Sumber:

Berita Terkait