Tabot Bengkulu: Asal Usul dan Makna Spiritual Tradisi Warisan Cinta Ahlul Bait dan Tragedi Karbala
Radarseluma.disway.id - Tabot Bengkulu: Asal Usul dan Makna Spiritual Tradisi Warisan Cinta Ahlul Bait dan Tragedi Karbala--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id -Indonesia, sebagai Negeri yang kaya akan budaya dan nilai-nilai keagamaan, menyimpan beragam tradisi yang merupakan perwujudan dari spiritualitas dan kecintaan umat terhadap ajaran Islam. Salah satu warisan budaya yang sarat makna adalah Tradisi Tabot di Provinsi Bengkulu. Tradisi ini bukan hanya perayaan seremonial, melainkan bentuk penghormatan mendalam terhadap cinta Ahlul Bait Rasulullah SAW serta refleksi dari peristiwa duka Tragedi Karbala saat cucu Nabi Muhammad Rasulullah SAW, Imam Husain bin Ali, syahid demi menegakkan kebenaran.
Tradisi Tabot telah menjadi identitas religius dan budaya masyarakat Proporsi Bengkulu, yang diperingati setiap 1–10 Muharram dalam kalender Hijriah. Namun, untuk memahami kedalaman maknanya, kita perlu menelusuri akar sejarahnya, memahami aspek spiritualitasnya, serta menilik bagaimana tradisi ini terinspirasi dari nilai-nilai Islam, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadis.
Asal Usul Tradisi Tabot Bengkulu
Tradisi Tabot berasal dari kata Arab "tabūt" (التابوت) yang berarti Peti, yang merujuk pada Peti tempat jenazah dan simbol penghormatan atas Syuhada Karbala. Tradisi ini dibawa ke Bengkulu pada abad ke -17 oleh orang-orang keturunan Syiah dari India Selatan (Madras), khususnya oleh seorang tokoh bernama Syaikh Burhanuddin, yang dikenal dengan gelar Imam Senggolo, pada masa kolonial Inggris di Bengkulu.
Dalam sejarahnya, Tabot merupakan upaya untuk mengenang syahidnya Imam Husain Bin Ali, cucu Nabi Muhammad Rasulullah SAW, di Padang Karbala pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah. Peristiwa itu menjadi simbol perlawanan terhadap tirani dan kezaliman, serta lambang pengorbanan atas dasar keimanan.
Ritual Tabot dilaksanakan secara bertahap selama 10 hari Muharram. Dimulai dari Mengambil Tanah (1 Muharram), Turun Pembuangan, Meradai, Arak Jari-jari, hingga puncaknya pada 10 Muharram, yaitu Tabot Tebuang simbol pengembalian kesedihan dan harapan kepada Tuhan.
Makna Spiritual dan Kecintaan terhadap Ahlul Bait
Cinta kepada Ahlul Bait (keluarga Nabi Muhammad Rasulullah SAW) adalah bagian dari ajaran Islam yang Agung. Dalam banyak ayat dan Hadits, umat Islam diperintahkan untuk mencintai dan menghormati mereka.
Dalam Al-Qur'an Surat Asy-Syura ayat 23 Allah SWT berfirman:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ
Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas dakwahku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.'" (QS. Asy-Syura: 23)
Ayat ini menjadi dasar yang kuat bahwa mencintai keluarga Nabi adalah perintah Allah. Tradisi Tabot merupakan pengejawantahan dari ayat ini ungkapan kasih dan empati terhadap penderitaan Ahlul Bait di Karbala. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Muslim Rasulullah SAW bersabda:
قال رسول الله ﷺ: "أذكّركم الله في أهل بيتي"
Artinya: "Aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku." (HR. Muslim)
Hadis ini merupakan wasiat langsung Nabi Muhammad SAW kepada umatnya agar menjaga dan mencintai keluarganya. Melalui Tabot, umat Islam khususnya masyarakat Bengkulu menyampaikan kecintaan itu melalui tradisi budaya yang penuh spiritualitas.
Tragedi Karbala: Simbol Pengorbanan dan Keadilan
Tragedi Karbala adalah tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah Islam. Imam Husain dan sekitar 72 pengikutnya gugur dibantai oleh pasukan Yazid Bin lMuawiyah dalam kondisi haus dan kelaparan. Namun, pengorbanan itu tidak sia-sia. Karbala menjadi sumber inspirasi perjuangan melawan kezaliman dan membela kebenaran.
Tabot hadir sebagai narasi budaya yang menyuarakan kembali semangat Karbala:
• Kesetiaan (bayyinah cinta kepada kebenaran)
• Keberanian (untuk menentang tirani)
• Kesedihan (atas syahidnya orang suci)
• Harapan (kemenangan nilai-nilai keadilan)
BACA JUGA:Muharam: Waktu Terbaik untuk Hijrah dari Kelalaian Menuju Kesadaran Iman
Tabot sebagai Warisan Budaya dan Dakwah Islam
Meskipun berasal dari tradisi Syiah India, Tabot di Bengkulu telah menyatu dengan nilai-nilai lokal dan kearifan masyarakat Melayu. Ia bukan semata ritual Syiah, tetapi sudah menjadi tradisi universal yang mengandung nilai-nilai Islam yang agung. Banyak kalangan ulama mengapresiasi Tabot sebagai bagian dari "tabligh kultural", dakwah yang menggunakan pendekatan seni dan budaya.
Tradisi Tabot juga mempererat silaturahmi umat Islam, mengajarkan toleransi, dan memperkenalkan sejarah Islam kepada generasi muda dalam bentuk yang kontekstual dan menyentuh hati.
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Tabot Bengkulu bukan sekadar perayaan, tetapi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai luhur Islam: cinta kepada Ahlul Bait, pembelaan terhadap kebenaran, dan kesedihan atas kezaliman. Ia adalah jembatan spiritual antara sejarah dan masa kini, antara agama dan budaya.
Menghidupkan Tabot berarti memperkuat nilai-nilai keimanan, kemanusiaan, dan kebudayaan. Dalam suasana Muharram, umat Islam diajak untuk merenungi kembali semangat Imam Husain yang berani menegakkan keadilan meski harus berkorban nyawa.
Sebagai bagian dari warisan budaya tak benda Indonesia yang telah diakui oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Tabot bukan hanya milik Bengkulu, tetapi milik umat Islam seluruh dunia. Melestarikan Tabot adalah menjaga warisan spiritualitas Islam yang penuh makna dan sejarah.
Semoga tradisi ini tetap hidup, memberi inspirasi, dan menjadi pengingat bahwa cinta kepada Ahlul Bait serta perjuangan melawan kezaliman adalah bagian dari iman.
“Setiap hari adalah Asyura, dan setiap tempat adalah Karbala.”
Pepatah Syiah yang menggambarkan bahwa perjuangan melawan ketidakadilan adalah kewajiban yang terus berlangsung. (djl)
Sumber: