Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah, Bukan Sebaliknya
Radarseluma.disway.id - Jadikan Media Sosial sebagai Sarana Dakwah, Bukan Sebaliknya--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Perkembangan teknologi informasi telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia. Salah satu yang paling menonjol adalah kemunculan media sosial. Platform seperti Facebook, Instagram, X (dulu Twitter), TikTok, dan YouTube telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat modern. Sayangnya, media sosial tidak jarang disalahgunakan, baik untuk menyebar kebencian, fitnah, membuka aib, bahkan memprovokasi perpecahan. Padahal, jika digunakan dengan bijak, media sosial justru bisa menjadi sarana dakwah yang luar biasa efektif di era digital ini.
Dakwah adalah kewajiban setiap Muslim, bukan hanya tugas para ulama atau ustadz. Setiap individu memiliki tanggung jawab menyampaikan kebaikan sesuai kapasitasnya. Maka, media sosial harus dimanfaatkan sebagai ladang pahala, bukan malah menjadi tempat maksiat dan dosa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: “Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Muslim).'” (QS. Fussilat: 33)
Ayat ini menunjukkan betapa mulianya orang yang menyeru kepada Allah—yakni berdakwah—apalagi jika dilakukan di ruang yang luas jangkauannya seperti media sosial.
BACA JUGA:Mengajarkan Nilai-Nilai Islam kepada Anak: Fondasi Kehidupan Dunia dan Akhirat
Urgensi Berdakwah di Media Sosial
Media sosial saat ini adalah wadah interaksi terbesar manusia. Jutaan orang mengakses informasi setiap detik. Maka, menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah adalah langkah strategis yang sejalan dengan perkembangan zaman. Rasulullah SAW bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
Artinya: “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. al-Bukhari, no. 3461)
Hadits ini menjadi dasar bahwa setiap Muslim dapat dan harus menyampaikan kebaikan sesuai kadar ilmunya. Bila dahulu dakwah dilakukan melalui mimbar, majelis, dan khutbah, kini ruang dakwah itu bertambah luas melalui unggahan status, video, cuitan, dan gambar di media sosial.
Namun, penting untuk diingat bahwa media sosial juga bisa menjadi ladang fitnah jika digunakan tanpa ilmu dan adab. Banyak orang dengan mudah menyebarkan hoaks, mencaci, mencela, bahkan menyebar aib sesama Muslim. Padahal, Islam sangat menjaga kehormatan dan larangan menyebarkan keburukan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌۭ بِنَبَإٍۢ فَتَبَيَّنُوٓا أَن تُصِيبُوا قَوْمًۭا بِجَهَـٰلَةٍۢ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـٰدِمِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
BACA JUGA:Menjadi Teladan dalam Keluarga dan Masyarakat
Etika Berdakwah di Media Sosial
Dalam berdakwah melalui media sosial, terdapat beberapa etika yang harus diperhatikan:
1. Niat yang Ikhlas
Dakwah adalah ibadah, maka niat harus lurus hanya karena Allah. Jangan sampai dakwah dijadikan ajang mencari popularitas atau pengikut.
2. Ilmu yang Shahih
Jangan menyebarkan informasi keislaman yang tidak diketahui kebenarannya. Jika belum memahami suatu dalil atau topik, lebih baik membagikan konten dari ulama atau dai yang terpercaya.
3. Sikap Lemah Lembut dan Bijak
Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun ketika berdakwah kepada Fir’aun, agar berbicara dengan kata-kata yang lembut:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًۭا لَّيِّنًۭا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
Artinya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44)
Jika kepada Fir’aun saja harus lembut, apalagi kepada sesama Muslim. Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat menegur dengan kasar, mengolok-olok, atau menghina pihak lain.
4. Tidak Menyebarkan Aib
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
Artinya: “Barang siapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim, no. 2590)
Menjadi sangat keliru ketika seseorang menyebut dirinya sedang berdakwah, namun isi unggahannya penuh celaan, pengungkapan aib, dan permusuhan.
Media Sosial: Amal Jariyah atau Dosa Jariyah
Perlu diingat bahwa konten yang diunggah di media sosial tidak mudah hilang. Ia dapat tersebar luas dan terus ditonton, bahkan setelah kita tiada. Maka, konten dakwah yang bermanfaat dapat menjadi amal jariyah. Sebaliknya, konten maksiat atau keburukan bisa menjadi dosa jariyah.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ... وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
Artinya: “Barang siapa yang memulai suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang memulai suatu kebiasaan buruk dalam Islam, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya…”(HR. Muslim, no. 1017)
BACA JUGA:Dakwah: Menyebarkan Kebaikan kepada Sesama
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa media sosial adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi jalan pahala jika digunakan untuk menyebar ilmu, motivasi islami, dakwah, dan kebaikan. Namun bisa juga menjadi sumber dosa jika digunakan untuk menyebar maksiat, fitnah, dan permusuhan.
Sebagai Muslim, sudah seharusnya kita menjadikan media sosial sebagai ladang amal. Gunakanlah media sosial untuk menulis kebaikan, membagikan kutipan Al-Qur'an dan Hadis, memotivasi orang lain agar lebih dekat kepada Allah, dan menjaga ukhuwah Islamiyah.
Mari kita renungkan, apakah jejak digital kita hari ini membawa manfaat atau justru membawa mudarat? Apakah unggahan kita menuntun orang menuju hidayah atau malah menyesatkan? Jangan sampai kita menjadi sebab orang lain berbuat dosa karena konten kita. Gunakan jari-jari kita untuk mencatat pahala, bukan dosa. Jadikan media sosial sebagai media dakwah, bukan sebaliknya.
Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk terus menyebarkan kebaikan dan menjauhkan dari keburukan, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Demikianlah penjelasan yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat dan kita bisa bijak dalam menggunakan media sosial. (djl)
Sumber: