Menjaga Lisan dari Perkataan yang Sia-Sia: Antara Adab dan Amanah Lisan dalam Pandangan Islam

Menjaga Lisan dari Perkataan yang Sia-Sia: Antara Adab dan Amanah Lisan dalam Pandangan Islam

Radarseluma.disway.id - Menjaga Lisan dari Perkataan yang Sia-Sia: Antara Adab dan Amanah Lisan dalam Pandangan Islam--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Lisan merupakan anugerah besar dari Allah SWT kepada manusia. Dengannya manusia mampu berbicara, menyampaikan pikiran, menasihati, berdakwah, bahkan menciptakan perubahan sosial. Namun, lisan juga bisa menjadi sumber petaka jika tidak dijaga dengan baik. Betapa banyak orang celaka bukan karena perbuatannya, tetapi karena lisannya. Oleh karena itu, Islam memberi perhatian besar terhadap etika dan penjagaan lisan, termasuk menjauhi perkataan yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

Makna Perkataan Sia-Sia

Perkataan sia-sia (اللَّغْو) adalah ucapan yang tidak memiliki nilai manfaat duniawi maupun ukhrawi. Ia bukan hanya mencakup ucapan kotor dan dusta, tetapi juga semua yang tidak berguna, seperti gosip, obrolan kosong, debat kusir, candaan yang berlebihan, dan lainnya. Dalam Islam, menjaga lisan dari hal seperti ini bukan sekadar soal adab, tapi merupakan bagian dari kualitas iman seseorang.

BACA JUGA:Keteladanan Pengorbanan dan Keikhlasan Kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS.

Dalil Al-Qur'an tentang Menjaga Lisan dan Menghindari Perkataan Sia-Sia

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَقَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ، ٱلَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ، وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 1–3)

Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu ciri orang beriman yang akan mendapatkan keberuntungan adalah mereka yang menghindari al-laghw, yakni ucapan dan perbuatan sia-sia. Ini menunjukkan bahwa tidak semua yang bisa diucapkan harus diucapkan. Islam mengajarkan selektif dalam berbicara.

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍۢ مِّن نَّجْوَىٰهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَـٰحٍۢ بَيْنَ ٱلنَّاسِ ۚ

Artinya: "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali (bisik-bisikan) orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (QS. An-Nisa: 114)

Ini menegaskan bahwa pembicaraan yang tidak menjurus pada kebaikan adalah percuma, bahkan bisa menjadi dosa jika berisi ghibah, namimah, atau kebohongan.

Sumber:

Berita Terkait