Kisah Rasulullah SAW dalam Perjanjian Aqabah: Tonggak Awal Terbentuknya Negara Islam

Kisah Rasulullah SAW dalam Perjanjian Aqabah: Tonggak Awal Terbentuknya Negara Islam

Radarseluma.disway.id - Kisah Rasulullah SAW dalam Perjanjian Aqabah: Tonggak Awal Terbentuknya Negara Islam--

Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Perjalanan dakwah Rasulullah SAW di Makkah selama lebih dari sepuluh tahun penuh dengan ujian dan penderitaan. Kaum Quraisy terus menolak ajaran tauhid, bahkan menyiksa para sahabat yang beriman. Namun, di tengah tekanan tersebut, Allah SWT membuka jalan kemenangan melalui Perjanjian Aqabah, yaitu pertemuan bersejarah antara Rasulullah SAW dan penduduk Yatsrib (Madinah).

Peristiwa ini menjadi tonggak awal berdirinya masyarakat Islam pertama yang terorganisir, sekaligus langkah strategis menuju pembentukan Negara Madinah.

Awal Terjadinya Perjanjian Aqabah Pertama

Pada tahun ke-11 kenabian, Rasulullah SAW bertemu dengan enam orang dari suku Khazraj yang datang ke Makkah untuk berhaji. Mereka mendengar berita tentang Nabi Muhammad SAW dan ajarannya. Ketika mendengarkan dakwah Rasulullah SAW tentang tauhid dan keadilan, hati mereka tersentuh.

Mereka berkata satu sama lain:

“Sungguh, inilah nabi yang dijanjikan oleh kaum Yahudi di Madinah. Janganlah mereka mendahului kita dalam beriman kepadanya.”

Keenam orang itu pun beriman dan berjanji untuk menyebarkan Islam di Yatsrib. Inilah Perjanjian Aqabah Pertama, yang kemudian menjadi benih tersebarnya Islam di Madinah.

BACA JUGA:Keteladanan Rasulullah SAW Menghadapi Penolakan dengan Sabar: Cermin Kekuatan Iman dan Keikhlasan dalam Dakwah

Perjanjian Aqabah Kedua: Sumpah Setia kepada Rasulullah SAW

Setahun kemudian, pada musim haji berikutnya, datang 12 orang dari Yatsrib untuk bertemu dengan Rasulullah SAW di Bukit Aqabah, sebuah tempat di Mina. Rasulullah SAW mengutus sahabat mulia Mus‘ab bin Umair RA untuk mengajarkan Islam kepada mereka.

Dakwah Mus‘ab bin Umair membuahkan hasil besar. Banyak tokoh Yatsrib masuk Islam, di antaranya Sa‘ad bin Mu‘adz dan Usaid bin Hudhair, pemimpin dari suku Aus.

Pada tahun berikutnya (tahun ke-13 kenabian), datang 73 laki-laki dan 2 perempuan dari Madinah untuk bertemu Rasulullah SAW secara rahasia di Aqabah. Mereka berjanji setia untuk:

1.Taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

2. Melindungi Rasulullah SAW seperti mereka melindungi keluarga mereka sendiri.

3. Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

4. Berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa.

Rasulullah SAW kemudian bersabda:

"Bai‘atlah kalian kepadaku untuk mendengar dan taat dalam keadaan semangat maupun malas, dan untuk menegakkan kebenaran di mana pun kalian berada." (HR. Bukhari dan Muslim)

Peristiwa ini dikenal sebagai Perjanjian Aqabah Kedua, yang menandai kesiapan umat Islam untuk membangun masyarakat Islam yang kuat.

Dalil Al-Qur’an tentang Janji dan Kesetiaan

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (wahai Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barang siapa yang melanggar janjinya, sesungguhnya dia melanggar terhadap dirinya sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 10)

Ayat ini menegaskan bahwa bai‘at kepada Rasulullah SAW sejatinya adalah bai‘at kepada Allah SWT. Mereka yang menepati janji akan mendapat ganjaran besar di sisi-Nya.

BACA JUGA:Rasulullah SAW dan Keberhasilannya Menyatukan Umat di Madinah: Teladan Persaudaraan dan Kepemimpinan yg Agung

Makna dan Hikmah Perjanjian Aqabah

1.Persaudaraan dan Kesetiaan Umat Islam

Perjanjian ini memperlihatkan semangat ukhuwah Islamiyah yang tinggi. Kaum Anshar (penduduk Madinah) siap melindungi Rasulullah SAW dengan seluruh jiwa raga mereka.

2.Strategi Dakwah yang Visioner

Rasulullah SAW mengatur dakwah dengan penuh strategi dan kesabaran. Ketika Makkah menolak, beliau membuka jalan baru menuju Madinah.

3.Awal Berdirinya Pemerintahan Islam

Setelah bai‘at ini, Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Di sana beliau memimpin umat sebagai kepala negara, membangun sistem pemerintahan berdasarkan wahyu.

4.Keteladanan dalam Kepemimpinan

Rasulullah SAW tidak hanya memimpin dengan kekuasaan, tetapi dengan amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Hadits Tentang Keutamaan Menepati Janji

عَلَامَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi pengingat agar umat Islam selalu menepati janji sebagaimana para sahabat yang berjanji setia di Aqabah.

Perjanjian Aqabah merupakan puncak strategi dakwah Rasulullah SAW yang penuh hikmah. Dari sinilah terbentuk masyarakat Islam pertama yang kuat, bersatu di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW, dan siap menegakkan kalimat Allah di bumi.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa perjuangan dan kesetiaan dalam menegakkan kebenaran akan selalu membuahkan kemenangan.

Dari Aqabah, cahaya Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia. Bai‘at para sahabat menjadi simbol komitmen dan pengorbanan yang harus diteladani oleh umat Islam hingga hari ini. (djl)

Sumber:

Berita Terkait