Keteladanan Rasulullah SAW dalam Menghormati Pendapat Sahabat: Cermin Kepemimpinan yang Bijaksana

Keteladanan Rasulullah SAW dalam Menghormati Pendapat Sahabat: Cermin Kepemimpinan yang Bijaksana

Radarseluma.disway.id - Keteladanan Rasulullah SAW dalam Menghormati Pendapat Sahabat: Cermin Kepemimpinan yang Bijaksana dan Penuh Hikmah--

Reporter Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW bukan hanya dikenal sebagai pemimpin spiritual dan pembawa risalah Allah SWT, tetapi juga sebagai sosok pemimpin yang bijaksana, demokratis, dan menghargai pendapat orang lain. Salah satu teladan besar yang beliau tinggalkan adalah sikap beliau dalam menghormati dan mempertimbangkan pendapat para sahabat. Rasulullah SAW tidak bersikap otoriter dalam memutuskan urusan umat, bahkan sering kali meminta pandangan dan saran dari para sahabatnya, terutama dalam hal-hal yang bersifat duniawi atau strategi kemanusiaan.

Sikap beliau ini menjadi dasar penting dalam membangun kepemimpinan Islami yang adil dan penuh hikmah. Melalui cara Rasulullah SAW bermusyawarah dan menghormati pendapat sahabat, kita dapat belajar bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap terhadap orang-orang yang ia pimpin.

Dalil Al-Qur’an tentang Musyawarah dan Menghormati Pendapat

Allah SWT sendiri telah menegaskan pentingnya musyawarah dalam kehidupan seorang mukmin dan menjadikannya salah satu ciri orang beriman. Firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syura ayat 38:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ

Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura: 38)

Ayat ini menegaskan bahwa bermusyawarah dalam mengambil keputusan bukan hanya sebuah pilihan, melainkan merupakan bagian dari akhlak dan karakter kaum beriman. Rasulullah SAW sebagai pemimpin tertinggi umat Islam telah menerapkan prinsip ini dengan sangat sempurna.

Allah SWT juga memerintahkan Rasulullah SAW secara langsung untuk bermusyawarah dengan para sahabat dalam Surah Ali Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menunjukkan bagaimana Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya untuk menghormati pendapat sahabat, bukan karena beliau tidak tahu apa yang benar, tetapi untuk mengajarkan prinsip kebersamaan, penghargaan, dan tanggung jawab dalam kepemimpinan.

BACA JUGA:Rasulullah SAW dan Teladan Abadi Persaudaraan Tanpa Batas dalam Islam

Kisah Rasulullah SAW Menghormati Pendapat Sahabat

Salah satu contoh terkenal bagaimana Rasulullah SAW menghormati pendapat sahabat adalah dalam Perang Badar. Pada saat itu, Rasulullah SAW menempatkan pasukannya di dekat sumber air di Badar. Salah seorang sahabat bernama Hubab bin al-Mundzir mendekati beliau dan bertanya dengan sopan:

“Ya Rasulullah, apakah posisi ini ditentukan oleh wahyu dari Allah sehingga tidak boleh kita ubah, atau ini adalah pendapat dan strategi manusia biasa?”

Rasulullah SAW menjawab bahwa itu adalah pendapat beliau sebagai manusia. Maka Hubab mengusulkan agar pasukan berpindah ke lokasi yang lebih strategis — di dekat sumber air dan menutup akses musuh. Rasulullah SAW langsung menerima pendapat itu tanpa rasa gengsi, dan ternyata strategi tersebut terbukti membawa kemenangan besar bagi kaum Muslimin.

Peristiwa ini menjadi contoh nyata bagaimana Rasulullah SAW sangat terbuka terhadap masukan dan ide sahabatnya, selama itu membawa kemaslahatan.

Contoh lainnya terjadi dalam Perang Uhud. Sebagian sahabat, terutama kaum muda, mengusulkan agar kaum Muslimin keluar dari Madinah dan menghadapi pasukan Quraisy di luar kota. Rasulullah SAW awalnya berpendapat agar bertahan di dalam kota, namun setelah mendengar semangat para sahabat, beliau menerima pendapat mayoritas. Walaupun hasil perang itu tidak sesuai harapan, Rasulullah SAW tidak menyalahkan mereka. Beliau tetap menghormati keputusan bersama dan menjadikannya sebagai pelajaran.

Sikap ini menunjukkan kebesaran jiwa Rasulullah SAW yang tidak hanya mendengarkan, tetapi juga menghargai hasil musyawarah, meski akibatnya tidak menguntungkan bagi dirinya.

Dalam Perang Khandaq (Parit), Rasulullah SAW juga menerima saran sahabat Salman Al-Farisi yang berasal dari Persia. Salman mengusulkan agar menggali parit di sekeliling kota Madinah untuk menghadang pasukan musuh. Ide ini belum pernah dikenal di jazirah Arab sebelumnya, tetapi Rasulullah SAW menyambutnya dengan terbuka dan langsung memerintahkan kaum Muslimin melaksanakannya.

Keputusan menerima saran Salman terbukti sangat tepat. Parit tersebut menjadi penghalang utama pasukan Quraisy dan sekutunya, hingga akhirnya mereka gagal menembus Madinah. Ini menjadi bukti bahwa Rasulullah SAW menghormati pendapat sahabat tanpa memandang asal usul, bangsa, atau status sosialnya.

BACA JUGA:Rasulullah SAW dan Kepercayaan Agung kepada Bilal bin Rabah: Simbol Kesetaraan dan Keimanan Tanpa Batas

Hadits tentang Musyawarah dan Menghormati Pendapat

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits:

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ، وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ

Artinya: “Tidak akan kecewa orang yang beristikharah, dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah.” (HR. Thabrani)

Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya melibatkan orang lain dalam mengambil keputusan. Musyawarah membuka ruang bagi pertukaran ide, memperkaya pandangan, dan memperkuat kebersamaan umat.

Selain itu, Rasulullah SAW juga mencontohkan bagaimana setiap pendapat sahabat dihargai, bahkan dalam hal-hal kecil. Dalam urusan keluarga, sosial, hingga pemerintahan, beliau selalu bersikap lembut dan menghormati suara orang lain.

Makna dan Hikmah dari Sikap Rasulullah SAW

Sikap Rasulullah SAW dalam menghormati pendapat sahabat mengandung banyak pelajaran bagi umat Islam, di antaranya:

1. Teladan dalam Kepemimpinan Demokratis

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kepemimpinan bukanlah tentang kekuasaan absolut, tetapi tentang kebersamaan dan tanggung jawab moral terhadap umat.

2. Membangun Kepercayaan dan Kekuatan Jamaah

Dengan melibatkan sahabat dalam keputusan, beliau menumbuhkan rasa memiliki dan semangat kolektif di kalangan umat Islam.

3. Menghargai Ilmu dan Pendapat

Rasulullah SAW tidak membedakan pendapat berdasarkan status. Siapa pun, selama pendapatnya benar dan bermanfaat, akan beliau dengarkan.

4. Menanamkan Nilai Toleransi dan Rendah Hati

Keterbukaan Rasulullah SAW menunjukkan betapa rendah hatinya beliau, meskipun memiliki kedudukan tertinggi sebagai Rasul Allah.

Rasulullah SAW adalah sosok teladan dalam segala hal, termasuk dalam menghormati pendapat orang lain. Beliau tidak hanya mengajarkan prinsip musyawarah secara teoritis, tetapi juga mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari dan dalam peperangan besar sekalipun.

Prinsip ini menjadi fondasi bagi peradaban Islam yang adil dan beradab. Dalam konteks modern, umat Islam seharusnya meneladani sifat Rasulullah SAW ini dengan membangun budaya dialog, menghormati perbedaan, dan mengutamakan hikmah dalam setiap keputusan.

Keteladanan Rasulullah SAW dalam menghormati pendapat sahabat adalah pelajaran berharga bagi setiap pemimpin, guru, dan umat Islam secara umum. Beliau menunjukkan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa keras ia memerintah, tetapi dari seberapa tulus ia mendengarkan dan menghargai orang lain.

Semoga umat Islam masa kini mampu meneladani sikap agung tersebut, membangun masyarakat yang saling menghormati, bermusyawarah dengan bijak, dan selalu menjunjung tinggi nilai keadilan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. (djl)

Sumber:

Berita Terkait