Sangat Penting Menyiapkan Generasi Masa Depan Hadapi Dunia Kerja Baru
Menaker dan generasi muda--
Menaker menilai, penguatan keterampilan masa depan menjadi kunci dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia menuju 2045. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2045 dengan pendapatan per kapita diproyeksikan mencapai USD 23.000 hingga USD 30.300 sebagaimana tertuang dalam RPJPN 2025–2045.
Menurutnya, peluang tersebut harus didukung SDM yang unggul, adaptif, dan mampu mengikuti perkembangan zaman. Di tengah bonus demografi yang berlangsung, keberhasilan Indonesia mencapai target tersebut sangat bergantung pada kemampuan menyiapkan generasi yang kompeten dan siap menghadapi perubahan dunia kerja.
"Karena itu, generasi masa depan perlu dibekali keterampilan yang relevan agar mampu beradaptasi dan bersaing di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis," kata Menaker.
BACA JUGA:Resmi! BGN Hentikan Total Distribusi Makan Bergizi Gratis Selama Libur Sekolah
BACA JUGA:Kawasan Hutan Harus Terintegrasi dengan Tata Ruang
Menaker juga menegaskan bahwa keterampilan masa depan harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Nilai-nilai seperti integritas, disiplin, tanggung jawab, etika, dan empati merupakan fondasi penting dalam membangun talenta yang berkualitas.
Menaker menambahkan, di tengah kemajuan AI yang semakin pesat, kemampuan manusia yang tidak dapat digantikan teknologi justru akan semakin bernilai. Kemampuan membangun kepercayaan, berempati, berkomunikasi, memimpin, dan bekerja sama menjadi keunggulan yang harus terus dikembangkan.
"Semakin canggih AI, semakin penting keterampilan manusia yang tidak dapat ditiru oleh mesin. Semakin canggih AI, semakin langka dan semakin bernilai sentuhan manusia," ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, Menaker mengajak para orang tua untuk me ngambil peran aktif dalam menyiapkan generasi masa depan. Menurutnya, keluarga merupakan ekosistem pembelajaran pertama yang berperan penting dalam membentuk karakter, kebiasaan belajar, dan pola pikir anak.
Sumber: