WWF Indonesia Gandeng Artis Ikut Pemulihan Pascabencana di Aceh
WWF Indonesia dan artis--
“Kunjungan ini menyadarkan aku betapa besar dampak krisis ekosistem di Peusangan. Kerusakan infrastruktur, terutama sekolah, ditambah degradasi lingkungan di sini sangat memprihatinkan dan butuh rehabilitasi segera, khususnya di area rawan. Proses untuk benar-benar pulih masih panjang dan perjuangan kita belum selesai. Donasi yang sudah terkumpul sejauh ini sangat membantu, tapi kita butuh keterlibatan lebih banyak pihak untuk benar-benar memperbaiki keadaan. Karena itu, aku mengajak publik untuk tidak berhenti di sini dan terus berdonasi agar beban hidup warga terdampak bisa lebih ringan,” ungkap Cinta.
Pesan Cinta sederhana namun kuat: jangan berhenti peduli saat sorotan media meredup.
Rangkaian aksi dilanjutkan pada 16–19 Februari 2026 ketika Luna Maya mengunjungi Desa Karang Ampar dan Bergang – wilayah yang sempat terisolasi akibat longsor dan putusnya jembatan, serta Desa Simpang Mulia, salah satu desa yang tersapu banjir di Kabupaten Bireuen.
Di sana, Luna melihat langsung bagaimana warga bertahan dengan akses terbatas. Ia mendengarkan kisah tentang malam ketika banjir datang tiba-tiba, tentang kebun yang hilang, dan tentang kekhawatiran yang muncul setiap kali hujan turun. Luna juga mengikuti patroli di koridor gajah Peusangan bersama Tim Pengaman Flora dan Fauna (TPFF) Karang Ampar–Bergang. Upaya ini menegaskan bahwa pemulihan bukan hanya tentang manusia, tetapi juga tentang menjaga ruang hidup bersama antara warga dan satwa liar.
Dalam pesannya kepada publik, Luna menyampaikan, “Penting bagi kami untuk menjaga semangat hidup warga di wilayah terdampak. Kehadiran kami bukan hanya untuk memberi dukungan moral, tapi juga untuk memastikan upaya pemulihan terus berjalan dan tidak berhenti di tengah jalan. Kami mengajak masyarakat luas untuk turut berdonasi agar warga bisa bangkit dan pelan-pelan membangun kembali kehidupan mereka.”
Dalam kunjungan terpisah mereka, Cinta dan Luna juga melakukan kegiatan serupa di Conservation Response Unit (CRU) Peusangan. Di sana, keduanya berinteraksi langsung dengan gajah-gajah jinak yang dilatih untuk mendukung mitigasi konflik manusia–satwa sekaligus menjaga koridor jelajah gajah. Mereka turut menanam pohon di sekitar kawasan CRU sebagai bagian dari rehabilitasi vegetatif di wilayah rawan.
Langkah ini menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak dapat dipisahkan dari pemulihan ekosistem. Kegiatan di CRU menjadi simbol bahwa Peusangan adalah ruang hidup bersama – tempat manusia dan satwa berbagi lanskap yang sama – yang harus dijaga dan dipulihkan secara berkelanjutan. Lebih jauh, kehadiran keduanya menjadi bentuk komitmen untuk memastikan suara warga terus terdengar dan kebutuhan pemulihan tidak dilupakan.
BACA JUGA:Hari Ini, Jumat , Harga Emas Antam Naik Rp 28.000
BACA JUGA:Sementara, KA Bandara Soetta Disetop! Imbas Kecelakaan dengan Truk
Sumber: