Kisah Qorun di Zaman Nabi Musa AS: Dari Kemewahan Dunia Hingga Ditelan Bumi
Radarseluma.disway.id - Kisah Qorun di Zaman Nabi Musa AS: Dari Kemewahan Dunia Hingga Ditelan Bumi--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Setiap zaman memiliki pelajaran besar bagi umat manusia. Di masa Nabi Musa ‘Alaihissalam, salah satu kisah yang menjadi peringatan sepanjang masa adalah kisah Qorun. Sosok yang awalnya dikenal sebagai seorang dari Bani Israil yang berilmu dan dekat dengan Nabi Musa, justru berubah menjadi manusia yang angkuh karena kekayaannya yang melimpah. Ia hidup bergelimang harta, dikelilingi pengawal, hewan ternak, dan simpanan emas permata, namun kesombongannya menyeretnya kepada kebinasaan. Al-Qur’an mengabadikan kisah Qorun bukan sekadar sejarah, melainkan sebagai peringatan keras agar manusia tidak terbuai oleh gemerlap dunia.
Qorun adalah sepupu dari Nabi Musa AS. Nama aslinya adalah Qarun bin Yashar bin Qahits bin Lawi bin Ya’qub, sehingga ia masih satu keturunan dengan Nabi Musa. Sejak kecil, Qorun dikenal cerdas, bahkan dikatakan sangat fasih membaca Taurat. Namun dari kecil pula, ia memiliki sifat cinta dunia yang berlebihan. Berbeda dengan Musa yang tumbuh dengan kesalehan, Qorun selalu mencari cara untuk menumpuk harta.
Saat beranjak remaja, Qorun mulai menunjukkan ambisi besar untuk menjadi orang terpandang di kalangan Bani Israil. Ia memanfaatkan kecerdasan dan pengaruhnya untuk berdagang dan menguasai sumber-sumber kekayaan. Perlahan-lahan, ia berhasil mengumpulkan harta berlimpah. Bahkan, riwayat menyebutkan bahwa kunci-kunci gudang harta Qorun begitu berat hingga dipikul oleh banyak orang kuat.
Allah SWT menggambarkan betapa kayanya Qorun dalam firman-Nya:
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلْعُصْبَةِ أُو۟لِى ٱلْقُوَّةِ ۗ إِذْ قَالَ لَهُۥ قَوْمُهُۥ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْفَرِحِينَ
Artinya:
“Sesungguhnya Qorun adalah termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku aniaya terhadap mereka. Dan Kami telah memberikan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya benar-benar berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah engkau terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.’” (QS. Al-Qashash: 76)
Kekayaan dan Kesombongan
Dengan harta melimpah, Qorun memiliki pengawal pribadi, hewan tunggangan mewah, serta pakaian indah yang membuatnya tampil megah di depan masyarakat. Namun, kekayaan yang seharusnya menjadi sarana bersyukur justru membuatnya sombong. Ketika dinasihati oleh Nabi Musa agar berinfak di jalan Allah, Qorun menolak dengan congkak. Ia berkata:
قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِى
Artinya:
“Qorun berkata: ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’” (QS. Al-Qashash: 78)
Ungkapan ini menunjukkan kesombongannya. Ia meyakini kekayaannya murni hasil kepintaran dan usahanya sendiri, tanpa mengakui nikmat dan pertolongan Allah SWT.
Puncak Keangkuhan
Kesombongan Qorun semakin terlihat ketika ia keluar dengan pakaian kebesaran, diiringi pasukan, dan memperlihatkan kemewahannya. Kaum yang lemah imannya pun berangan-angan ingin memiliki kekayaan seperti Qorun. Namun, orang-orang berilmu menegaskan:
وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا ۖ وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّٰبِرُونَ
Artinya:
“Orang-orang yang diberi ilmu berkata: ‘Celakalah kamu! Pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh (ucapan itu) kecuali oleh orang-orang yang sabar.’” (QS. Al-Qashash: 80)
Sumber: