Menelusuri Rangkaian Ritual Tabot Bengkulu: Warisan Budaya, Spiritualitas, dan Cinta Ahlul Bait

Menelusuri Rangkaian Ritual Tabot Bengkulu: Warisan Budaya, Spiritualitas, dan Cinta Ahlul Bait

Radarseluma.disway.id - Menelusuri Rangkaian Ritual Tabot Bengkulu: Warisan Budaya, Spiritualitas, dan Cinta Ahlul Bait--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id -Indonesia dikenal sebagai Negara yang kaya akan tradisi dan budaya yang melekat erat dengan nilai-nilai religius dan historis. Salah satu tradisi yang unik dan penuh makna spiritual adalah Tabot, sebuah ritual budaya yang tumbuh dan berkembang di Provinsi Bengkulu. Tabot bukan sekadar upacara adat, melainkan juga merupakan ekspresi kecintaan terhadap keluarga Rasulullah SAW, khususnya cucunya, Imam Husain bin Ali, yang gugur dalam peristiwa tragis di Karbala.

Tradisi ini telah menjadi warisan budaya tak benda yang diakui oleh Pemerintah Indonesia, dan dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 1–10 Muharram dalam penanggalan Hijriah. Rangkaian ritual Tabot sarat dengan nilai-nilai spiritual, historis, edukatif, dan sosial, serta menjadi perekat harmoni masyarakat multikultural di Bengkulu.

Asal Usul dan Makna Tradisi Tabot

Tradisi Tabot dibawa oleh para keturunan Syeikh Burhanuddin (Imam Senggolo) dari India yang menetap di Bengkulu sejak abad ke-18, khususnya dari kalangan keturunan Syiah India (Madras dan Benggali). Meski berasal dari Syiah, pelaksanaan Tabot di Bengkulu bersifat kultural dan tidak mengandung unsur ajaran syiah secara dogmatis, sehingga dapat diterima oleh mayoritas masyarakat yang bermazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Tabot diambil dari kata “ta’but” (تابوت) yang berarti peti atau usungan, mengacu pada replika keranda Imam Husain yang diarak dalam ritual utama. Tujuan utama dari ritual ini adalah mengenang perjuangan dan kesyahidan Imam Husain bin Ali di Padang Karbala pada 10 Muharram 61 H (680 M).

BACA JUGA:Menggenggam Cahaya Hijrah: Meniti Jalan Menuju Keluarga Sakinah Penuh Berkah

Rangkaian Ritual Tabot

Ritual Tabot terdiri dari berbagai tahapan yang dilaksanakan selama sepuluh hari, mulai dari tanggal 1 hingga 10 Muharram. Berikut adalah urutan dan makna dari setiap ritual:

1. Mengambil Tanah (1 Muharram)

Ritual ini dikenal dengan sebutan Ambil Tanah. Dilaksanakan pada malam 1 Muharram, para peserta mengambil tanah dari tempat yang dianggap suci, seperti makam Imam Senggolo. Tanah ini melambangkan awal penciptaan dan sekaligus mengingatkan kita bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

"منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى"

Artinya: “Dari tanah (bumi) Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55)

2. Mengarak Serunai dan Dhol (1–9 Muharram)

Selama masa ini, para pemain musik tradisional mengarak alat musik dhol dan serunai diiringi nyanyian dan zikir. Musik ini menjadi penanda kesedihan sekaligus ajakan kontemplasi atas tragedi Karbala.

"مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى."

Artinya: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih sayang, cinta, dan kelembutan mereka, seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasakannya dengan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Tabot Naik (5–9 Muharram)

Pada tahapan ini, masyarakat mulai membangun bangunan Tabot, yaitu replika keranda Imam Husain yang dihiasi secara artistik. Ini menunjukkan kesiapan umat untuk mengiringi duka keluarga Rasulullah SAW.

4. Tabot Bersanding (9 Muharram)

Pada malam 9 Muharram, seluruh Tabot dari berbagai kelompok keluarga atau suku dibawa dan disandingkan di tempat utama. Ini melambangkan kesatuan hati umat Islam dalam menyikapi duka Ahlul Bait.

5. Arak Gedang dan Arak Puncak (10 Muharram)

Puncak dari seluruh rangkaian ritual. Replika Tabot diarak secara besar-besaran ke tengah kota dan kemudian dibawa ke pantai untuk dilarung. Ini simbol dari mengembalikan ruh kesyahidan kepada Sang Pemilik dan penutup dari seluruh prosesi.

"ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتا بل أحياء عند ربهم يرزقون"

Artinya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki.”(QS. Ali Imran: 169)

BACA JUGA:Hijrah Batin: Menjernihkan Hati dari Penyakit Jiwa Menuju Kedamaian Hakiki

Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Tabot

Walau tradisi ini bernuansa budaya, kandungan nilai-nilainya sejalan dengan ajaran Islam:

• Kecintaan terhadap Ahlul Bait

Rasulullah SAW bersabda:

"أذكركم الله في أهل بيتي"

Artinya: “Aku ingatkan kalian kepada Allah perihal Ahlul Baitku.” (HR. Muslim)

• Peringatan atas Kezhaliman dan Penegakan Keadilan

Imam Husain gugur karena menolak tunduk pada pemerintahan yang zalim. Nilai ini relevan untuk semua umat Islam.

• Persaudaraan dan Solidaritas Sosial

Selama Tabot berlangsung, masyarakat dari berbagai suku, agama, dan kelompok saling bekerja sama, memperkuat ikatan sosial dan toleransi.

Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Tradisi Tabot di Bengkulu bukan hanya warisan budaya, tetapi juga refleksi spiritual dan sejarah perjuangan Ahlul Bait dalam menegakkan kebenaran. Ia menjadi jembatan antara nilai budaya dan nilai keislaman yang luhur. Rangkaian ritualnya penuh dengan simbolisme yang mengajarkan kita tentang asal-usul manusia, pentingnya solidaritas, dan penghargaan terhadap perjuangan tokoh agung dalam Islam.

Sebagai umat Islam yang mencintai Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, penting bagi kita untuk menjaga warisan budaya seperti Tabot agar tetap hidup dan menjadi media pendidikan akhlak serta sejarah bagi generasi muda. Semoga dengan mengenang perjuangan Imam Husain, kita semakin tergerak untuk menegakkan keadilan, menjaga persatuan, dan meneladani keberanian dalam membela kebenaran. (djl) 

Sumber:

Berita Terkait