Makna Filosofis Bulan Muharam dalam Menyusun Kembali Perjalanan Hidup Seorang Muslim

Makna Filosofis Bulan Muharam dalam Menyusun Kembali Perjalanan Hidup Seorang Muslim

Radarseluma.disway.id - Makna Filosofis Bulan Muharam dalam Menyusun Kembali Perjalanan Hidup Seorang Muslim--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id – Bulan Muharam menandai awal tahun dalam kalender Hijriyah, sekaligus menjadi bulan yang penuh dengan nilai-nilai spiritual dan filosofi mendalam dalam kehidupan seorang Muslim. Ia bukan sekadar penanggalan, melainkan momentum yang membawa pesan-pesan penting bagi transformasi diri, evaluasi kehidupan, dan tekad baru dalam menempuh jalan kebaikan.

Muharam sebagai Titik Awal Perubahan

Setiap manusia diberikan waktu dan kesempatan yang sama oleh Allah. Namun yang membedakan adalah bagaimana seseorang memaknai dan menggunakan waktu tersebut. Muharam sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriyah mengajarkan bahwa setiap awal adalah kesempatan baru untuk berubah dan berhijrah menuju kebaikan. Dalam sejarah Islam, bulan ini sangat istimewa karena menjadi penanda dimulainya kalender Hijriyah yang didasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Hijrah tersebut bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga transformasi spiritual dan sosial yang membawa perubahan besar dalam sejarah umat Islam. Maka, Muharam mengajarkan kita untuk memaknai ulang perjalanan hidup: sudahkah kita berada di jalan yang benar? Sudahkah niat dan tujuan hidup kita sesuai dengan ridha Allah?

BACA JUGA:1 Muharam: Momentum Hijrah Menuju Hidup yang Lebih Baik dan Bermakna

Makna Filosofis Muharam: Momentum Hijrah Jiwa dan Amal

Muharam adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci).” (QS. At-Taubah: 36)

Salah satu dari empat bulan haram itu adalah Muharam. Disebut "bulan haram" karena pada bulan ini, Allah mengharamkan peperangan dan kekerasan, serta memuliakan amal kebaikan. Ulama menyebutnya sebagai "Syahrullah al-Muharram" (Bulan Allah Muharram), satu-satunya bulan yang Allah nisbatkan langsung kepada-Nya, menandakan kemuliaan dan kesuciannya.

Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharam.” (HR. Muslim no. 1163)

Hadis ini menunjukkan keistimewaan bulan Muharam sebagai bulan yang sangat dianjurkan untuk beribadah, terutama puasa sunah. Di sinilah letak makna filosofisnya: Muharam mendorong kita untuk mengawali tahun dengan menahan hawa nafsu, memperbanyak amal ibadah, dan memperkuat tekad untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik.

Sumber:

Berita Terkait