Merawat Konsistensi Ibadah Setelah Bulan Haji: Istiqamah Menuju Ridha Ilahi

Merawat Konsistensi Ibadah Setelah Bulan Haji: Istiqamah Menuju Ridha Ilahi

Radarseluma.disway.id--

Reporter: Juli Irawan

Radarseluma.disway.id – Bulan Dzulhijjah, khususnya momentum puncak ibadah haji dan Hari Raya Iduladha, adalah saat yang penuh keberkahan, pengampunan, dan limpahan pahala dari Allah SWT. Jutaan umat Islam menunaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci, sementara kaum muslimin di berbagai belahan dunia memperbanyak amal saleh seperti puasa Arafah, dzikir, takbir, dan penyembelihan qurban. Namun, yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana kita menjaga dan merawat konsistensi beribadah setelah bulan haji berlalu.

Mukadimah: Ibadah Tak Boleh Musiman

Sering kali semangat ibadah kita meningkat tajam saat momen-momen besar Islam seperti Ramadhan atau Dzulhijjah. Tapi sayangnya, semangat itu sering memudar usai perayaan berakhir. Padahal, Allah SWT tidak hanya disembah di bulan tertentu saja. Allah SWT berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian).”(QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini menegaskan bahwa ibadah adalah kewajiban yang terus-menerus, bukan hanya dalam bulan-bulan tertentu. Konsistensi dalam ibadah (istiqamah) adalah bukti keseriusan kita dalam mengabdi kepada Allah.

BACA JUGA:Jangan Pernah Lelah Berbuat Baik: Balasan Terbaik Hanya dari Allah SWT

Pentingnya Menjaga Konsistensi Ibadah

Konsistensi atau istiqamah dalam beribadah merupakan bentuk nyata dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda:

قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

Artinya: “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian istiqamahlah.”.(HR. Muslim)

Iman yang tidak dibarengi dengan istiqamah ibarat api yang tidak diberi bahan bakar—cepat redup dan padam. Maka, setelah kita meraih keberkahan dan semangat spiritual di bulan Dzulhijjah, jangan sampai kembali lalai atau tenggelam dalam rutinitas dunia yang melalaikan.

Dalil-Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Istiqamah

Allah SWT memuliakan orang-orang yang istiqamah dalam keimanan dan amal saleh. Firman-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (QS. Fussilat: 30)

Hadits Nabi SAW juga menegaskan nilai besar dari konsistensi dalam beramal:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi pengingat bahwa yang Allah nilai bukan hanya besar dan banyaknya amal, tapi juga kontinuitas dan keikhlasannya.

Strategi Menjaga Konsistensi Ibadah

1. Perbarui Niat dan Tujuan

Segala amal tergantung pada niatnya. Perbaharuilah niat agar ibadah bukan hanya karena suasana atau lingkungan, tapi karena cinta kepada Allah.

2. Buat Jadwal Ibadah Harian

Tanamkan rutinitas harian seperti shalat tepat waktu, dzikir pagi-petang, membaca Al-Qur'an, dan sedekah meski sedikit.

3. Cari Lingkungan yang Mendukung

Berkumpul dengan orang-orang saleh membantu memperkuat komitmen ibadah. Rasulullah bersabda:

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ

Artinya: "Seseorang itu tergantung pada agama temannya." (HR. Abu Dawud)

4. Evaluasi Diri Secara Berkala

Lakukan muhasabah setiap malam sebelum tidur: apa saja yang telah dikerjakan hari ini, dan apa yang harus diperbaiki esok hari.

5. Berdoa Memohon Keteguhan Iman

Bahkan Nabi Muhammad SAW sering berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

BACA JUGA:Niat Adalah Fondasi Amal: Menghidupkan Kembali Keikhlasan Setiap Hari

Ibadah Setelah Haji: Bukan Tamat, Tapi Awal

Bagi yang telah menunaikan ibadah haji, kembali dari Tanah Suci bukanlah titik akhir dari perjalanan spiritual, tapi awal dari kehidupan baru yang seharusnya lebih taat. Haji adalah training ruhani, dan keberhasilannya ditandai dengan perubahan perilaku.

Demikian juga bagi yang tidak berhaji, momen Dzulhijjah tetap bisa menjadi titik balik untuk memperbaiki ibadah dan mempererat hubungan dengan Allah. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya: “Barang siapa menunaikan haji lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka ia kembali (dari hajinya) seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kebersihan jiwa seperti ini harus dijaga dengan istiqamah dalam ibadah.

Menjaga konsistensi ibadah setelah bulan haji bukanlah hal mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan dengan kesungguhan dan pertolongan Allah. Bulan-bulan mulia seperti Dzulhijjah memang memberi semangat, namun jangan biarkan semangat itu padam begitu saja. Jadikan momentum tersebut sebagai awal perubahan menuju pribadi yang lebih taat.

Mari kita tanamkan semangat istiqamah dalam hati dan tindakan kita. Sebab Allah tidak menilai banyaknya amal, tetapi kontinuitas dan keikhlasannya. Dengan istiqamah, kita bisa berharap untuk wafat dalam keadaan husnul khatimah.

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوءِ الْخَاتِمَةِ

Artinya: "Ya Allah, tutuplah hidup kami dengan husnul khatimah, dan jangan Kau tutup dengan su’ul khatimah."

Demikianlah penjelasan yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat buat kita semua. Aamiin (djl).

Sumber:

Berita Terkait