Jejak Islam di Tanah Nusantara: Dari Samudera Pasai hingga Penyebaran Damai
Radarseluma.disway.id - Jejak Islam di Tanah Nusantara: Dari Samudera Pasai hingga Penyebaran Damai--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin yang membawa pesan perdamaian, kasih sayang, dan ketundukan total kepada Allah SWT. Agama ini bukan hanya menyentuh sisi spiritual, tetapi juga menjadi kekuatan transformatif dalam bidang sosial, budaya, hingga politik. Di Nusantara yang kini kita kenal sebagai Indonesia Islam hadir bukan melalui peperangan, tetapi dengan pendekatan damai, akhlak mulia, perdagangan, dan dakwah yang santun. Jejak-jejak Islam di tanah Nusantara membuktikan bahwa dakwah yang dilakukan dengan hikmah dan kasih sayang mampu menciptakan peradaban yang luhur dan berakar kuat dalam budaya lokal.
Awal Masuknya Islam ke Nusantara
Para sejarawan menyebutkan bahwa Islam mulai masuk ke Nusantara sekitar abad ke-7 hingga ke-13 Masehi. Saluran utamanya adalah melalui perdagangan internasional di wilayah pesisir seperti Aceh, Sumatra, dan Jawa. Para pedagang Muslim dari Arab, Persia, dan India bukan hanya membawa barang dagangan, tetapi juga memperkenalkan Islam melalui interaksi sosial, pernikahan, dan akhlak yang mencerminkan ajaran Islam.
Salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara adalah Kerajaan Samudera Pasai di Aceh (abad ke-13 M). Ini menjadi tonggak penting bahwa Islam telah diterima sebagai bagian dari sistem sosial dan politik masyarakat Nusantara kala itu.
BACA JUGA:Jejak Cahaya di Bulan Zulhijjah: Tokoh-Tokoh Islam Terkenal yang Lahir di Bulan Suci
Penyebaran Islam dengan Akhlak dan Kearifan Lokal
Salah satu kunci utama keberhasilan dakwah Islam di Nusantara adalah pendekatan budaya dan akhlak yang luhur. Para wali dan ulama tidak memaksakan ajaran, melainkan memasukkan nilai-nilai Islam ke dalam kearifan lokal. Contohnya, Sunan Kalijaga menggunakan seni wayang dan gamelan untuk menyampaikan nilai-nilai tauhid dan akhlak Islami.
Dalil tentang pentingnya akhlak dalam dakwah terdapat dalam Al-Qur’an:
قُلْ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
Artinya: "Katakanlah (Muhammad): 'Inilah jalanku, aku menyeru kepada Allah di atas dasar ilmu yang nyata, aku dan orang-orang yang mengikutiku. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.'" (QS. Yusuf: 108)
Ayat ini menekankan pentingnya dakwah yang dilakukan dengan ilmu dan kebijaksanaan. Dakwah Islam di Nusantara justru berhasil karena dilakukan dengan pendekatan seperti ini.
Peran Ulama dan Walisongo dalam Penyebaran Islam
Para Walisongo memainkan peran sentral dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa. Mereka adalah sembilan wali yang dikenal memiliki kedalaman ilmu agama, hikmah, dan kecintaan pada masyarakat. Misalnya:
• Sunan Ampel mendirikan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam.
• Sunan Giri menyebarkan dakwah melalui dunia anak-anak dan pendidikan.
• Sunan Bonang dikenal karena dakwah lewat seni dan lagu-lagu bernuansa Islami.
Strategi mereka sangat halus dan tidak frontal. Justru dengan cara ini, Islam diterima luas oleh masyarakat tanpa kekerasan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)
Hadits ini menjadi pijakan penting bagaimana Islam disebarkan melalui teladan akhlak, bukan hanya dengan lisan.
BACA JUGA:Peran Strategis Ulama dalam Menyebarkan Islam: Pilar Keilmuan, Dakwah, dan Keteladanan Umat
Islam dan Peradaban di Nusantara
Kehadiran Islam membawa perubahan signifikan dalam peradaban masyarakat Nusantara. Islam memperkenalkan konsep tauhid, keadilan sosial, sistem pendidikan pesantren, hingga tata pemerintahan Islam dalam bentuk kerajaan seperti Demak, Ternate, Tidore, Banten, dan Aceh.
Bahkan dalam bidang sastra, muncul karya-karya ulama Nusantara seperti Hamzah Fansuri dan Nuruddin ar-Raniri yang menggambarkan kedalaman tasawuf dan pemikiran Islam di kawasan ini. Dalam hukum, banyak kerajaan mengadopsi syariat Islam sebagai hukum positif yang mengatur kehidupan masyarakat.
Integrasi Islam dan Budaya Lokal
Keberhasilan Islam di Nusantara juga disebabkan karena sifatnya yang mampu beradaptasi dengan budaya lokal tanpa mengorbankan prinsip-prinsip utama ajaran. Ini sesuai dengan ajaran Al-Qur’an:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ
Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.".(QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menjadi dasar pendekatan budaya yang dilakukan oleh para penyebar Islam, seperti mengislamkan seni, lagu, arsitektur, bahkan upacara-upacara adat yang diisi dengan nuansa keislaman.
Tantangan dan Peluang di Era Modern
Di era modern ini, meskipun Islam telah berakar kuat di Nusantara, tantangan baru pun muncul, seperti sekularisasi, arus informasi tanpa batas, dan globalisasi budaya. Karenanya, perlu ada regenerasi ulama, da’i, dan pendidik Islam yang mampu berdakwah dengan media baru media sosial, film, dan literasi digital sebagai ladang dakwah kontemporer.
Penting juga menghidupkan kembali semangat dakwah damai dan akhlak mulia sebagaimana diajarkan para pendahulu. Umat Islam di Nusantara harus tetap menjadi umat yang moderat (wasathiyyah), toleran, dan cinta damai sebagaimana prinsip Islam yang sebenarnya.
Dari penjelasan di atas maka dapatlah kita simpulkan bahwa perjalanan panjang Islam di Nusantara bukan sekadar sejarah, tetapi merupakan bukti nyata bagaimana Islam mampu berakar dan berkembang melalui pendekatan damai dan akhlak mulia. Islam masuk ke hati masyarakat Nusantara bukan dengan pedang, tapi dengan senyuman, kebijaksanaan, dan kasih sayang para da’i.
Sejarah ini harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda, agar mereka tahu bahwa identitas keislaman dan kebudayaan Nusantara adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sebab dalam Islam sendiri telah ditegaskan:
وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ
Artinya: "Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
Maka, mari kita rawat warisan agung Islam di Nusantara ini, menjadikannya sebagai cahaya yang terus menyinari peradaban dan menuntun umat kepada jalan kebenaran dan kebajikan.(djl)
Sumber: