AKPY-BPDP-Ditjenbun Dorong 151 Pekebun Bengkulu Naik Kelas, Kejar 24 Ton TBS

AKPY-BPDP-Ditjenbun Dorong 151 Pekebun Bengkulu Naik Kelas, Kejar 24 Ton TBS

--

 

BENGKULU, Radarseluma.disway.id— Pelatihan tidak cukup hanya menambah pengetahuan atau menghasilkan sertifikat. Bagi 151 pekebun sawit di BENGKULU, keberhasilan program diukur dari perubahan praktik di kebun dan peningkatan produktivitas.

BACA JUGA:Toyota Fortuner GR Sport, SUV Tangguh Andalan dengan Mesin Bertenaga, Irit Bahan Bakar dan Fitur Otomatis TSS

BACA JUGA:DLH Seluma Periksa TPS Limbah B3 PT Sandabi Indah Lestari

Hal itu menjadi fokus Pelatihan Panen dan Pascapanen Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 yang digelar Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian pada 28 September–2 Oktober 2026 di Bengkulu.

Pelatihan diikuti 151 pekebun, terdiri atas 112 peserta dari Bengkulu Utara dan 39 peserta dari Bengkulu Tengah. Mereka didorong meningkatkan produktivitas hingga minimal 24 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

Praktisi Kebun AKPY, Ir. Tri Haryadi, mengatakan target tersebut merupakan bagian dari upaya membuat pekebun “naik kelas”. Dengan produktivitas 24 ton TBS per hektare dan rendemen 24–25 persen, produksi CPO berpotensi mencapai sekitar 6 ton per hektare per tahun.

“Naik kelas itu targetnya supaya pekebun bisa mencapai produktivitas minimal 24 ton TBS per hektare per tahun,” ujar Tri saat mewakili Direktur AKPY, Dr. Sri Gunawan.

Menurut Tri, bibit unggul saja tidak cukup. Produktivitas juga ditentukan oleh pemupukan, teknik budidaya, organisasi panen, rotasi dan penanganan TBS.

Sebagian pekebun telah menggunakan bibit unggul dan mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Namun, tata kelola panen masih perlu dibenahi.

“Bibit unggul sudah digunakan, sebagian juga sudah mengikuti PSR. Tetapi dalam penanganan panen masih masing-masing. Belum ada perencanaan organisasi panen yang sesuai dengan GAP,” katanya.

Karena itu, pekebun didorong memperbaiki organisasi panen, termasuk pembagian seksi, jadwal dan rotasi. Pola panen yang sebelumnya sekitar dua kali sebulan diarahkan menjadi tiga hingga empat kali sesuai kondisi kebun.

Ketepatan menentukan buah matang juga menjadi perhatian. Pekebun perlu memahami indikator kematangan, termasuk keberadaan brondolan alami, agar panen dilakukan pada waktu yang tepat.

 

Sumber: