Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Di antara ibadah yang paling dirindukan oleh kaum muslimin pada malam-malam Ramadhan adalah shalat Tarawih. Suasana masjid yang hidup, lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an, serta kebersamaan dalam berdiri, rukuk, dan sujud menjadi pemandangan indah yang hanya hadir di bulan mulia ini.
Shalat Tarawih merupakan bagian dari qiyam Ramadhan, yakni ibadah malam yang dilakukan secara khusus pada bulan Ramadhan. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi sarana penyucian jiwa dan penguatan iman. Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW melaksanakannya dan para sahabat melanjutkannya dengan penuh semangat.
Dalil Al-Qur’an tentang Qiyamullail
Meskipun kata “Tarawih” tidak disebutkan secara khusus dalam Al-Qur’an, namun perintah dan keutamaan qiyamullail banyak dijelaskan. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِصْفَهُ أَوِ انقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا
Artinya: “Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) pada malam hari kecuali sedikit, (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.” (QS. Al-Muzzammil: 1-3)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat malam adalah ibadah istimewa yang diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi-Nya. Para ulama menjelaskan bahwa qiyamullail di bulan Ramadhan memiliki nilai yang lebih utama karena dilakukan di bulan penuh rahmat.
Allah juga memuji hamba-hamba-Nya yang gemar bangun malam:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Artinya: “Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzariyat: 17-18)
Ayat ini menjadi gambaran betapa mulianya orang-orang yang menghidupkan malam dengan ibadah dan istighfar.
BACA JUGA:Meluruskan dan Menata Niat Setiap Hari: Kunci Keikhlasan, Amal Bernilai, dan Hidup Penuh Keberkahan
Hadits tentang Keutamaan Tarawih
Keutamaan shalat Tarawih dijelaskan secara tegas dalam hadits Rasulullah SAW:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa yang mendirikan (shalat malam) di bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Hadits ini menjadi motivasi terbesar bagi kaum muslimin. Syaratnya adalah dua: iman (meyakini keutamaannya) dan ihtisab (mengharap pahala hanya dari Allah, bukan riya).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan shalat malam berjamaah di masjid selama beberapa malam, lalu beliau tidak keluar pada malam berikutnya karena khawatir diwajibkan atas umatnya. Setelah wafatnya Rasulullah SAW, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, shalat Tarawih kembali dikumpulkan dalam satu imam agar lebih tertib dan teratur.
Sejarah Singkat Pelaksanaan Tarawih
Pada masa Rasulullah SAW, Tarawih dilakukan secara berjamaah beberapa malam saja. Setelah itu, para sahabat melaksanakannya sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil. Ketika masa kekhalifahan Umar bin Khattab, beliau melihat umat Islam shalat sendiri-sendiri di masjid, lalu mengumpulkan mereka di bawah satu imam, yaitu Ubay bin Ka'ab.
Ketika melihat kaum muslimin shalat dengan rapi dan khusyuk, Umar berkata, “Ini adalah sebaik-baik bid’ah.” Maksudnya adalah bid’ah dalam arti bahasa (hal baru), bukan dalam syariat, karena dasarnya sudah ada dari Rasulullah SAW.
Keutamaan Shalat Tarawih
1. Menghapus Dosa-Dosa yang Lalu
Sebagaimana hadits di atas, Tarawih menjadi sebab diampuninya dosa-dosa yang telah lalu, terutama dosa kecil.
2. Menghidupkan Malam Ramadhan
Ramadhan bukan hanya bulan puasa siang hari, tetapi juga ibadah malam. Tarawih menjadi sarana menghidupkan malam dengan dzikir dan tilawah.
3. Mendekatkan Diri kepada Al-Qur’an
Biasanya dalam shalat Tarawih, imam membaca ayat-ayat Al-Qur’an secara panjang. Hal ini membuat jamaah semakin dekat dengan kalamullah.
4. Melatih Kesabaran dan Kekhusyukan
Berdiri lama dalam shalat melatih fisik dan jiwa. Kesabaran dalam mengikuti rakaat demi rakaat membentuk ketahanan spiritual.
5. Mempererat Ukhuwah Islamiyah
Masjid menjadi pusat pertemuan umat. Shalat berjamaah memperkuat silaturahmi dan persaudaraan.
BACA JUGA:Meluruskan dan Menata Niat Setiap Hari: Kunci Keikhlasan, Amal Bernilai, dan Hidup Penuh Keberkahan
Jumlah Rakaat Tarawih
Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah rakaat Tarawih. Ada yang melaksanakan 8 rakaat ditambah witir, ada pula yang 20 rakaat. Perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan, karena semuanya memiliki dasar riwayat. Yang terpenting adalah kekhusyukan dan keikhlasan.
Rasulullah SAW bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Artinya: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Imam Bukhari)
Hadits ini menjadi pedoman agar pelaksanaan shalat mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Rasulullah SAW, baik dalam bacaan maupun tata caranya.
Hikmah Spiritual Tarawih
Tarawih bukan sekadar ibadah fisik, melainkan sarana tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Di malam yang sunyi, seorang hamba berdiri menghadap Rabb-nya, mengakui kelemahan dan memohon ampunan.
Ramadhan adalah bulan pelatihan. Jika siang hari kita menahan lapar dan dahaga, maka malam hari kita melatih jiwa untuk tunduk dan khusyuk. Tarawih membangun koneksi batin yang lebih kuat dengan Allah SWT.
Shalat Tarawih adalah ibadah istimewa di bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan besar: menghapus dosa, meningkatkan iman, dan mempererat ukhuwah. Dalil Al-Qur’an dan hadits menunjukkan betapa mulianya qiyamullail, terutama di bulan penuh rahmat ini.
Perbedaan jumlah rakaat hendaknya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan rahmat dalam khazanah fiqih Islam. Yang terpenting adalah melaksanakannya dengan iman, keikhlasan, dan penuh pengharapan kepada Allah SWT.
Mari kita jadikan Tarawih bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum kebangkitan ruhani. Jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa kita memaksimalkan malam-malamnya. Semoga Allah SWT menerima ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang kembali fitrah setelah Ramadhan. (djl)