Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, mengatakan:
“Melalui program PECI di Provinsi Aceh, Indonesia memprioritaskan perlindungan gajah Sumatra yang terancam punah. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, program ini diperluas menjadi 90.000 hektar pada Agustus 2025. Dengan dukungan penuh Pemerintah Inggris serta kolaborasi WWF-Indonesia dan PT Tusam Hutani Lestari, upaya konservasi telah dilakukan untuk mendorong keharmonisan antara manusia dan satwa liar. PECI juga akan berfokus pada pengembangan agroforestri, ekowisata berbasis konservasi, serta implementasi Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sebagai model konservasi nasional.”
CEO WWF-Indonesia, Aditya Bayunanda, mengatakan:
“Melindungi habitat gajah Sumatra di wilayah Peusangan sangat penting untuk menjaga sumber air dan cadangan karbon guna menghadapi krisis iklim global. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana pembiayaan konservasi inovatif dapat mendorong aksi lokal untuk melestarikan area keanekaragaman hayati di Indonesia, yang mencakup hingga 93 juta hektar, serta mendukung visi Indonesia untuk masa depan yang tangguh terhadap iklim.”
BACA JUGA:BGN Buka Rekrutmen PPPK Tahap 3 dan 4, Sediakan 32.460 Formasi Secara Umum
CEO Circular Bioeconomy Alliance, Marc Palahí, mengatakan:
“Kolaborasi ini menunjukkan apa yang mungkin dicapai ketika kita melampaui pendekatan yang terfragmentasi dan mengadopsi solusi terpadu pada tingkat lanskap. Dengan menggabungkan konservasi, produksi berkelanjutan, dan pengembangan ekonomi lokal, PECI menawarkan cetak biru praktis tidak hanya untuk Aceh, tetapi juga untuk berbagai lanskap di seluruh Indonesia. Melalui Living Lab di Aceh dan Living Lab paralel kami dengan mitra di Jawa Barat, kami menunjukkan bagaimana ekonomi berbasis alam dapat diwujudkan di lapangan, melindungi keanekaragaman hayati, memperkuat mata pencaharian, dan membangun ketahanan jangka panjang bagi manusia dan alam.”