Beliau juga tak segan mengekspresikan cintanya. Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW sering memanggil ‘Aisyah RA dengan panggilan lembut seperti “Ya Humaira” (wahai yang pipinya kemerahan), bentuk kasih sayang yang menyejukkan hati.
Keadilan Rasulullah SAW terhadap Istri-istrinya
Meski penuh kasih dan romantis, Rasulullah SAW tetap menjaga keadilan terhadap semua istrinya. Dalam rumah tangga poligami beliau, tidak ada yang merasa diabaikan atau dianaktirikan. Keadilan beliau menjadi salah satu teladan paling tinggi bagi umat Islam.
Rasulullah SAW bersabda:
اللَّهُمَّ هَذِهِ قِسْمَتِي فِيمَا أَمْلِكُ، فَلَا تَلُمْنِي فِيمَا تَمْلِكُ وَلَا أَمْلِكُ
Artinya: “Ya Allah, inilah pembagianku terhadap apa yang aku miliki (zahir), maka janganlah Engkau mencelaku terhadap apa yang Engkau miliki dan aku tidak memilikinya (yakni perasaan hati).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan kejujuran dan kesungguhan beliau dalam berbuat adil. Beliau sadar bahwa rasa cinta tidak bisa diatur sepenuhnya, namun dalam hal hak-hak lahiriah, beliau sangat disiplin dan penuh tanggung jawab.
BACA JUGA:Rasulullah SAW: Teladan Lembut dalam Mendidik Anak dengan Kasih Sayang dan Hikmah
Kasih Sayang Rasulullah SAW saat Istri Sakit atau Sedih
Rasulullah SAW juga dikenal sangat perhatian ketika salah satu istrinya sakit atau bersedih. Beliau menenangkan, mendengarkan, dan berusaha menghibur mereka dengan kelembutan. Dalam kisah Aisyah RA saat mengalami sakit, Rasulullah SAW duduk di sisinya, mengusap kepala, dan mendoakan kesembuhan.
Ini menunjukkan bahwa cinta sejati adalah perhatian saat pasangan sedang lemah, bukan hanya saat bahagia. Rasulullah SAW menanamkan nilai bahwa suami adalah tempat berlindung bagi istrinya, bukan sumber ketakutan atau tekanan.
Keteladanan Rasulullah SAW sebagai suami mencerminkan keseimbangan antara cinta, tanggung jawab, dan keimanan. Beliau menunjukkan bahwa romantika dalam rumah tangga bukanlah sesuatu yang remeh, tetapi bagian dari ibadah yang bernilai tinggi. Suami yang mencintai istrinya dengan tulus sedang meneladani sunnah Rasulullah SAW.
Beliau mengajarkan bahwa cinta sejati bukan hanya kata-kata, tetapi sikap yang mencerminkan akhlak mulia. Dalam kesederhanaan, beliau menumbuhkan kebahagiaan; dalam kelembutan, beliau menanamkan kekuatan iman.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Dalam era modern yang sering kali dipenuhi dengan kesibukan dan egoisme, meneladani Rasulullah SAW sebagai suami penuh romantika dan perhatian adalah kebutuhan yang mendesak. Rumah tangga yang dibangun di atas kasih sayang, kesabaran, dan iman akan menjadi pondasi bagi masyarakat yang damai dan penuh berkah.
Semoga setiap suami Muslim meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW dalam memperlakukan istrinya—dengan kasih, kesetiaan, dan kelembutan yang menjadi jalan menuju ridha Allah SWT. (djl)