Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah merasa rendah dengan pekerjaan rumah tangga. Beliau memberi contoh bahwa suami harus terlibat dalam membantu istrinya, sehingga tercipta suasana rumah tangga yang saling mendukung dan menghargai.
Rasulullah SAW: Ayah yang Penyayang
Rasulullah SAW juga dikenal sebagai ayah yang penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Beliau sangat menyayangi putri-putrinya, terutama Fatimah Az-Zahra RA. Setiap kali Fatimah datang, Rasulullah SAW berdiri menyambutnya, mencium tangannya, dan mempersilakan duduk di tempat beliau.
Dalam sebuah riwayat:
كَانَ إِذَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ فَاطِمَةُ قَامَ إِلَيْهَا، فَأَخَذَ بِيَدِهَا، وَقَبَّلَهَا، وَأَجْلَسَهَا فِي مَجْلِسِهِ
Artinya: “Apabila Fatimah datang menemui Rasulullah SAW, beliau berdiri menyambutnya, mengambil tangannya, menciumnya, lalu mendudukkannya di tempat duduknya.” (HR. Abu Dawud)
Sikap Rasulullah SAW menunjukkan penghormatan kepada anak perempuan, yang pada masa jahiliyah sering direndahkan bahkan dikubur hidup-hidup. Dengan kasih sayang beliau, Islam mengangkat derajat perempuan dan mengajarkan bahwa anak, baik laki-laki maupun perempuan, adalah amanah Allah yang harus diperlakukan dengan penuh cinta.
Keharmonisan dengan Dialog dan Musyawarah
Salah satu prinsip rumah tangga Rasulullah SAW adalah musyawarah. Beliau selalu mengajak istri-istrinya berdiskusi dan menghargai pendapat mereka.
Contoh yang terkenal adalah saat perjanjian Hudaibiyah. Rasulullah SAW meminta pendapat Ummu Salamah RA ketika para sahabat enggan menyembelih hewan kurban. Ummu Salamah memberi saran, dan Rasulullah SAW segera melaksanakannya, hingga para sahabat pun mengikuti.
Hal ini menunjukkan bahwa seorang suami tidak boleh bersikap otoriter. Rasulullah SAW memberi teladan bahwa komunikasi dan saling mendengar adalah kunci keharmonisan rumah tangga.
BACA JUGA:Rasulullah SAW Sang Pemaaf Agung: Ketika Kekuatan Dibalut dengan Cinta dan Kasih Sayang
Prinsip Saling Menghargai dan Sabar
Rumah tangga Rasulullah SAW juga dibangun atas dasar saling menghargai dan sabar. Meski beliau seorang nabi yang maksum, kehidupan rumah tangganya tidak luput dari ujian. Terkadang terjadi perbedaan pendapat atau kecemburuan di antara istri-istrinya, namun beliau selalu menyikapi dengan bijak.
Allah SWT berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
Artinya: “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, maka (bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An-Nisa: 19)
Ayat ini menegaskan pentingnya kesabaran dan penghargaan terhadap pasangan dalam rumah tangga.
Kehidupan rumah tangga Rasulullah SAW adalah teladan sempurna yang harus dijadikan pedoman bagi umat Islam. Beliau adalah suami penuh kasih, ayah penyayang, dan pemimpin keluarga yang adil. Keharmonisan rumah tangga Rasulullah SAW dibangun atas dasar cinta, penghormatan, musyawarah, kesabaran, dan tolong-menolong.