Abu Bakar Ash-Shiddiq: Pemimpin Luhur yang Teguh Membela Kebenaran

Senin 11-08-2025,11:00 WIB
Reporter : juliirawan
Editor : juliirawan

إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا

Artinya: “…ketika dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’” (QS. At-Taubah: 40)

Ayat ini menjadi bukti bahwa Abu Bakar adalah sahabat sejati Rasulullah SAW dalam misi dakwah.

Ketegasan dalam Memimpin

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, umat Islam sempat mengalami kekacauan. Sebagian kabilah murtad, enggan membayar zakat, dan muncul nabi palsu. Sebagai khalifah, Abu Bakar mengambil keputusan tegas untuk memerangi semua pemberontak dalam Perang Riddah.

Banyak sahabat awalnya ragu, tetapi Abu Bakar berkata:

“Demi Allah, jika mereka enggan memberikan seutas tali yang dulu mereka serahkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka.”

Ketegasan ini menyelamatkan kesatuan umat Islam yang terancam terpecah.

Karakter dan Kepribadian

Abu Bakar memiliki sifat yang seimbang: lembut hati namun tegas dalam prinsip. Ia rendah hati, sering menangis saat membaca Al-Qur’an, namun tidak ragu mengambil keputusan sulit demi kebenaran.

Rasulullah SAW pernah memuji keutamaan beliau:

لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا غَيْرَ رَبِّي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ

Artinya: "Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih selain Tuhanku, pasti aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasih." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan kedekatan spiritual dan emosional antara Nabi dan Abu Bakar.

Jasa Besar: Pengumpulan Mushaf Al-Qur’an

Salah satu jasa terbesar Abu Bakar adalah memerintahkan pengumpulan mushaf Al-Qur’an. Setelah Perang Yamamah, banyak penghafal Qur’an gugur, sehingga Umar bin Khattab mengusulkan pengumpulan mushaf. Abu Bakar setuju dan menugaskan Zaid bin Tsabit.

Kategori :