Seperti membicarakan fisik, kesalahan keluarga, atau aib orang lain, baik serius maupun bercanda.
• Latihan diam atau mengalihkan pembicaraan
Jika ada majelis yang mulai menggunjing, alihkan dengan topik positif atau tinggalkan.
• Perbanyak dzikir dan tilawah Al-Qur’an
Mengisi lisan dengan zikir akan menyibukkan diri dari pembicaraan sia- sia.
• Berdoa agar dijaga lisannya
Doa Nabi
ﷺ: "اللَّهُمَّ اهْدِ قَلْبِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي"
Artinya: “Ya Allah, bimbinglah hatiku, luruskanlah lisanku, dan hilangkan kedengkian dari hatiku.” (HR. Tirmidzi)
Meninggalkan ghibah adalah bukti hijrah lisan yang nyata. Dalam Islam, menjaga lisan sama pentingnya dengan menjaga amal perbuatan. Ghibah adalah penyakit hati dan sosial yang sangat merusak. Hijrah dari ghibah berarti menuju pada akhlak mulia, meneladani Rasulullah ﷺ dan membangun ukhuwah yang sehat. Semoga Allah membimbing kita dalam menjaga lisan dan menjauhi segala bentuk ucapan yang bisa menodai keimanan kita.
Hijrah tidak harus menunggu momentum besar. Memulai dari hal kecil namun konsisten, seperti menjaga lisan dari ghibah, adalah awal yang penuh berkah. Sebab, lisan adalah cerminan hati. Jika hati bersih, lisannya pun akan suci dari ghibah. Semoga kita tergolong orang-orang yang berhijrah secara hakiki, termasuk dalam menjaga kehormatan sesama. Aamiin. (djl).