Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Tirmidzi yang mana berbunyi:
السَّخِيُّ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ، قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ، قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ، بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ
Artinya: "Orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka."
(HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini menggambarkan bahwa orang yang memiliki sifat dermawan akan memperoleh kedudukan tinggi di sisi Allah. Berbagi adalah jalan menuju surga karena di dalamnya terkandung kasih sayang, keikhlasan, dan kepekaan sosial.
BACA JUGA:Menghidupkan Tradisi Berbagi di Bulan Suci Dzulqa’dah
Tradisi Berbagi dan Dimensi Sosial
Tradisi berbagi tidak hanya membawa keberkahan bagi yang memberi, tetapi juga membangun keharmonisan dalam masyarakat. Di bulan Dzulqa’dah, ketika sebagian umat Islam mulai mempersiapkan diri menuju musim haji dan Idul Adha, kebutuhan masyarakat miskin sering kali meningkat. Maka dari itu, berbagi menjadi solusi konkrit untuk meringankan beban mereka.
Masyarakat dapat menghidupkan kembali tradisi berbagi dengan berbagai cara, seperti:
Sedekah Harian:
Memberi makanan atau uang kepada fakir miskin setiap hari di bulan Dzulqa’dah.
Infak Kolektif:
Mengumpulkan dana di masjid atau komunitas untuk membantu keluarga prasejahtera.
Paket Sembako:
Menyediakan bantuan bahan pokok untuk keluarga yang kesulitan ekonomi.
Santunan Yatim dan Dhuafa:
Menyantuni anak-anak yatim dan dhuafa sebagai bentuk kasih sayang.
Teladan dari Salafus Shalih