Belajar dari Bencana di Daerah Lain, Ini Alasan Tambang Emas Bukit Sanggul Seluma Perlu Ditolak

Belajar dari Bencana di Daerah Lain, Ini Alasan Tambang Emas Bukit Sanggul Seluma Perlu Ditolak

Bukit sanggul--

 

 

SELUMA – Rencana penambangan emas di kawasan Bukit Sanggul, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, perlu dikaji secara mendalam dengan mempertimbangkan risiko kerusakan hutan, perubahan tata air, ancaman tanah longsor, pencemaran sungai, serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.

Penolakan terhadap rencana pertambangan emas bukan semata-mata persoalan menerima atau menolak investasi. Lebih dari itu, terdapat aspek ilmiah yang perlu menjadi pertimbangan bersama, terutama menyangkut kemampuan lingkungan dalam menopang kehidupan masyarakat Seluma yang bergantung pada ketersediaan air, lahan pertanian, perkebunan, dan kelestarian ekosistem.

Rencana pertambangan emas oleh PT Energi Swa Dinamika Muda (ESDMu) di kawasan Bukit Sanggul menjadi perhatian karena wilayah tersebut memiliki fungsi ekologis yang penting. Perubahan tutupan hutan untuk kegiatan pertambangan berpotensi mengubah kondisi bentang alam dan meningkatkan tekanan terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan prinsip kehati-hatian.

Hutan Rusak, Risiko Banjir dan Longsor Meningkat

Secara ilmiah, hutan memiliki peran penting dalam mengatur siklus air. Tajuk pohon membantu mengurangi energi jatuhnya air hujan, sementara akar tanaman dan lapisan bahan organik tanah berkontribusi terhadap struktur tanah, infiltrasi air, serta kestabilan lereng.

Ketika hutan dibuka untuk kegiatan pertambangan, kondisi tersebut dapat berubah. Hilangnya vegetasi, pemadatan tanah akibat alat berat, pembangunan jalan tambang, pemotongan lereng, dan pembukaan lahan dapat meningkatkan aliran permukaan serta memperbesar potensi erosi.

Air hujan yang sebelumnya sebagian meresap ke dalam tanah dapat mengalir lebih cepat menuju sungai. Pada kondisi tertentu, peningkatan limpasan tersebut dapat memperbesar risiko banjir, terutama ketika terjadi hujan berintensitas tinggi.

Di wilayah berbukit dan bergunung, pembukaan vegetasi serta perubahan struktur lereng juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap longsor. Besarnya risiko bergantung pada kondisi geologi, kemiringan lereng, intensitas hujan, karakteristik tanah, serta luas dan pola pembukaan lahan.

Kajian ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Trees, Forests and People pada 2026 mengenai perubahan penggunaan lahan di Indonesia juga menjelaskan bahwa perubahan tutupan lahan dapat mengurangi infiltrasi air dan meningkatkan limpasan permukaan. Dampaknya dapat berupa meningkatnya risiko banjir dan berkurangnya cadangan air pada periode kering.

Temuan tersebut menjadi salah satu dasar mengapa rencana pembukaan kawasan hutan di Bukit Sanggul perlu dinilai secara hati-hati. Apabila kegiatan pertambangan menyebabkan perubahan tutupan hutan dalam skala luas, dampaknya tidak hanya dirasakan di lokasi tambang, tetapi juga berpotensi menjalar ke daerah aliran sungai dan wilayah permukiman di bagian hilir.

Belajar dari Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera

Peristiwa banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 memberikan pelajaran penting tentang hubungan antara cuaca ekstrem, kondisi bentang alam, dan perubahan tutupan lahan.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Natural Hazards Research pada Juni 2026 menganalisis rangkaian bencana tersebut. Penelitian itu menjelaskan bahwa hujan ekstrem, kondisi topografi, kejenuhan tanah, longsoran, serta gangguan penggunaan lahan dapat saling berinteraksi dan memperbesar dampak bencana.

 

 

Sumber:

Berita Terkait