Ketegangan AS-Iran Meningkat, Dunia Khawatir Krisis Energi Semakin Parah
Ketegangan AS-Iran Meningkat, Dunia Khawatir Krisis Energi Semakin Parah--
JAKARTA – Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan semakin meluas dalam beberapa hari terakhir. Selain menyasar target militer, konflik kini berdampak pada jalur pelayaran internasional, infrastruktur digital, hingga memicu lonjakan harga minyak dunia.
Salah satu perkembangan terbaru adalah klaim Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang menyatakan telah menyerang pusat data milik perusahaan teknologi Amazon di Bahrain menggunakan rudal jelajah. Namun hingga kini, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan belum mendapat konfirmasi resmi dari pemerintah Bahrain maupun Amazon.
Di sektor energi, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mengalami penurunan tajam akibat meningkatnya ancaman keamanan. Sejumlah kapal dilaporkan mengubah rute atau mematikan sistem pelacakan untuk menghindari potensi serangan, sehingga mengganggu distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk.
BACA JUGA:BGN Pastikan Motor Listrik Pengadaan 2025 Tetap Dimanfaatkan
BACA JUGA:Fokus Cegah Korupsi di Sektor Pengadaan Barang dan Jasa, KPK Perkuat Integritas ASN ATR/BPN
Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah dunia terus menguat. Minyak Brent dilaporkan telah menembus level di atas US$90 per barel, dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global apabila konflik terus berlanjut. Para analis memperingatkan harga minyak berpotensi kembali menembus tiga digit apabila gangguan distribusi berlangsung hingga Agustus.
Di saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi yang berpotensi mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Langkah tersebut semakin meningkatkan risiko terhadap rantai pasok energi dunia.
Sumber: