Merayakan 20 Tahun Gerakan Earth Hour, Berhasil Menyatukan Jutaan Orang Untuk Hemat Energi

Merayakan 20 Tahun Gerakan Earth Hour, Berhasil Menyatukan Jutaan Orang Untuk Hemat Energi

Earth Hour kembali dilakukan di tahun 2026 --

 

• dengan memanfaatkan momen selama 60 menit untuk menyatukan dunia dalam mendukung dan merayakan planet kita. 

• Tantangan yang kita hadapi tidak pernah sebesar ini. Laporan Living Planet 2024 oleh WWF mengungkapkan bahwa sistem alam berada dalam kondisi mengkhawatirkan, ditandai dengan penurunan populasi satwa liar dunia secara drastis. Perubahan iklim dan kerusakan alam semakin mengancam kelangsungan hidup manusia. Namun, kita masih memiliki kesempatan untuk bertindak sebelum mencapai titik yang tak dapat dibalikkan. Earth Hour menjadi pengingat kuat akan urgensi untuk mengambil langkah nyata selagi waktu masih ada.

 

• Berlandaskan pencapaian luar biasa selama 20 tahun terakhir, WWF kembali menggaungkan “Jam Terbesar untuk Bumi” dengan mengajak setiap individu, komunitas, dan pelaku usaha di seluruh dunia untuk mematikan lampu mereka dan #BeriRuanguntukBumi, serta meluangkan 60 menit melakukan aksi positif bagi planet Bumi.

 

Koranradarseluma.net, Banda Aceh – Mulai pukul 20.30 waktu setempat, jutaan orang di seluruh dunia akan kembali mematikan lampu mereka sebagai simbol momen merayakan Earth Hour—gerakan akar rumput lingkungan terbesar di dunia—yang tahun ini memasuki perayaan global ke-20 dan tahun ke-19 di Indonesia. Mengusung tema “Beri Ruang untuk Bumi,” Earth Hour menjadi ajakan sederhana tapi bermakna untuk berhenti sejenak, merefleksikan hubungan kita dengan alam, dan menunjukkan kepedulian terhadap planet yang kita tinggali. Lebih dari sekadar satu jam tanpa cahaya, Earth Hour hadir sebagai simbol harapan dan kekuatan kolektif, menginspirasi jutaan orang di lebih dari 180 negara dan wilayah untuk bergerak bersama demi masa depan bumi.

 

Tahun ini, perayaan Earth Hour akan dipusatkan di Kota Banda Aceh. Semangat kolaborasi semakin kuat dengan keterlibatan puluhan komunitas serta dukungan Pemerintah Provinsi Aceh dalam menyukseskan kampanye ini. Rangkaian kegiatan akan diawali di pagi hari dengan parade bersama para komunitas di pusat kota, menciptakan ruang bagi masyarakat untuk terhubung dan merayakan aksi nyata bagi lingkungan. Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, turut mengajak seluruh warga untuk ambil bagian dengan mematikan lampu dan perangkat elektronik yang tidak digunakan selama satu jam sebagai langkah sederhana dalam penghematan energi, sekaligus kontribusi nyata dalam menghadapi krisis iklim dan ancaman pemanasan global.

 

Di tengah penyelenggaraan Earth Hour tahun ini, masyarakat Aceh juga tengah dihadapkan pada dampak bencana yang baru saja terjadi di sejumlah wilayah. Peristiwa banjir bandang menjadi pengingat nyata bahwa krisis iklim dan degradasi lingkungan merupakan tantangan yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menegaskan urgensi upaya kolektif dalam menjaga keseimbangan ekosistem serta memperkuat ketahanan lingkungan. Oleh karena itu, pelaksanaan Earth Hour di Banda Aceh tidak hanya menjadi bagian dari gerakan global, tetapi juga momentum reflektif untuk mendorong kesadaran dan aksi bersama dalam melindungi Bumi secara berkelanjutan.

 

Pada tahun 2026, Kampanye Earth Hour di Indonesia mengajak masyarakat untuk menciptakan “Jam Terbesar untuk Bumi” yang belum pernah terjadi sebelumnya. Melalui seruan aksi “Beri Ruang Untuk Bumi”, Earth Hour mendorong setiap orang, di mana pun berada, untuk memberikan jeda sejenak untuk Bumi, agar Bumi dapat memulihkan diri. Luangkan satu jam untuk melakukan aktivitas ramah lingkungan, seperti berjalan kaki atau bersepeda santai, menikmati alam di gunung maupun pantai, menghemat air saat beraktivitas, atau sekadar beristirahat sejenak dari gawai Anda.

 

Sumber: