Diprediksi Capai 3,5 Juta, Namun Harga Emas Anjlok dari Level Rp 3 Jutaan

Diprediksi Capai 3,5 Juta, Namun Harga Emas  Anjlok dari Level Rp 3 Jutaan

Harga emas --

 

 Jakarta, Radarseluma.disway.id - Harga emas yang sempat naik terus dibandingkan sejumlah instrumen investasi lainnya, mulai alami penurunan. Sebelumnya, harga emas diprediksi akan tembus 3,5 juta. 

Namun,  eskalasi konflik geopolitik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Israel vs Iran justru melemahkan harga emas yang terus merosot tajam sepekan menjelang Idulfitri. Tercatat, dalam sepekan terakhir harga emas anjlok hingga mencapai Rp 103.000 per gram dari harga tertingginya yaitu Rp 2.996.000 per gram pada Rabu (18/3) menjadi Rp 2.893.000 per gram pada Sabtu (21/3).

 

BACA JUGA:Destinasi Wisata di Rejang Lebong, Surga Alam Sejuk di Bengkulu yang Wajib Dikunjungi

BACA JUGA:MotoGP Brasil 2026 Menangkan Marc Marquez

Harga emas juga terus mengalami fluktuasi, bahkan cenderung terus mengalami degradasi harga dalam sebulan terakhir semenjak terus memanasnya konflik di Timur Tengah. Bayangkan saja, harga emas yang sempat naik 64% per 2025 dan menjadi tahun terbaik sejak 1979, justru terus menjauhi prediksi kenaikan harga.

 

"Salah satu penyebabnya adalah perang di Timur Tengah yang tanpa pimpinan. Amerika dan Israel menyasar pucuk-pucuk pimpinan di Iran, sehingga pernyataan politis jarang sekali terdengar di Iran. Amerika dan Israel menganggap bahwa dengan terbunuhnya pemimpin-pemimpin di Iran, dengan sendirinya Iran akan takluk," ujar pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, kepada detikcom, Minggu (22/3/2026).

 

Ibrahim bilang, ketidakpastian soal berakhirnya perang dan situasi di negara tersebut membuat investor resah dan mulai mengalihkan minat investasinya dari emas ke dolar AS.

"Sehingga membuat para investor kembali meninggalkan logam mulia. Mereka untuk saat ini beralih ke dolar sebagai safe haven. Karena Iran sedang kekosongan pemimpin. Walaupun sudah ada pemimpin pun, tetapi pemimpin tersebut tidak mau berkomentar karena ada ketakutan daerahnya itu akan kelihatan dan akan diserang kembali," terangnya lanjut.

 

Tidak hanya itu, lonjakan harga minyak mentah (brent crude oil) yang menyentuh US$ 112 per barel juga jadi salah satu faktor anjloknya harga logam mulia secara tidak langsung. Ibrahim bilang, dengan tingginya harga minyak bakal mengerek harga komoditas dan inflasi yang berujung pada pengetatan suku bunga.

Sumber: