Meneladani Kesungguhan Rasulullah SAW: Ibadah Semakin Intens di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Meneladani Kesungguhan Rasulullah SAW: Ibadah Semakin Intens di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Radarseluma.disway.id - Meneladani Kesungguhan Rasulullah SAW: Ibadah Semakin Intens di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Bulan Ramadhan adalah madrasah ruhani yang mendidik jiwa kaum muslimin menjadi pribadi bertakwa. Namun puncak kemuliaan bulan suci ini justru terletak pada sepuluh hari terakhirnya. Pada fase inilah ampunan Allah melimpah, pahala dilipatgandakan, dan terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah.
 
Teladan terbaik dalam memaksimalkan momentum agung ini adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau menunjukkan kesungguhan luar biasa yang bahkan melebihi hari-hari sebelumnya. Apa yang dicontohkan Rasulullah bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan manifestasi kecintaan dan totalitas penghambaan kepada Allah SWT.
 
Rasulullah Menghidupkan Malam-Malam Terakhir
 
Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah SAW tidak menyia-nyiakan sepuluh malam terakhir Ramadhan. Beliau memperbanyak shalat malam, dzikir, doa, tilawah Al-Qur’an, serta membangunkan keluarganya agar turut beribadah.
 
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah RA:
 
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
 
Artinya: “Apabila memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, Nabi mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”(HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
 
Makna “mengencangkan ikat pinggang” ditafsirkan para ulama sebagai simbol kesungguhan total dalam ibadah dan menjauhi hubungan suami-istri demi fokus beribadah. “Menghidupkan malam” berarti mengisi hampir seluruh malam dengan amal ketaatan. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak sekadar menambah ibadah, tetapi benar-benar mengoptimalkan waktu secara maksimal.
 
Dalil Al-Qur’an Tentang Keutamaan Malam Ramadhan
 
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
 
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۝ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
 
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”(QS. Al-Qadr: 1–3)
 
Ayat ini menjadi landasan utama mengapa Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir. Di antara malam-malam tersebut terdapat Lailatul Qadar yang nilainya melebihi ibadah selama lebih dari 83 tahun. Kesempatan langka ini tentu tidak akan disia-siakan oleh hamba yang mencintai Rabb-nya.
 
 
I’tikaf: Konsentrasi Total dalam Ibadah
 
Salah satu amalan yang rutin dilakukan Rasulullah SAW pada akhir Ramadhan adalah i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid untuk fokus beribadah.
 
Aisyah RA menuturkan:
 
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
 
Artinya: “Sesungguhnya Nabi SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau.” (HR. Muhammad al-Bukhari)
 
I’tikaf mengajarkan totalitas penghambaan. Seorang muslim memutus sejenak urusan dunia, memperbanyak munajat, tafakur, dan tilawah. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa momentum spiritual tertinggi diraih dengan kesungguhan dan pengorbanan.
 
Membangunkan Keluarga untuk Beribadah
 
Rasulullah SAW tidak hanya meningkatkan ibadah secara pribadi, tetapi juga mengajak keluarganya untuk meraih keberkahan malam-malam terakhir.
 
Ini menunjukkan bahwa ibadah bukan sekadar urusan individu, melainkan tanggung jawab kolektif dalam keluarga. Nilai pendidikan spiritual dalam rumah tangga menjadi teladan sepanjang zaman.
 
Allah SWT berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”(QS. At-Tahrim: 6)
 
Ayat ini selaras dengan tindakan Rasulullah SAW yang membangunkan keluarganya untuk shalat malam. Keselamatan akhirat dimulai dari rumah yang dipenuhi ibadah.
 
 
Hikmah Kesungguhan Rasulullah di Akhir Ramadhan
 
1. Mengajarkan Skala Prioritas Ibadah
 
Waktu terbaik harus diisi dengan amal terbaik.
 
2. Menunjukkan Spirit Istiqamah Hingga Akhir
 
Rasulullah tidak “kendur” di penghujung Ramadhan, justru semakin kuat.
 
3. Pendidikan Spiritual Keluarga
 
Ibadah berjamaah dalam keluarga memperkuat ikatan iman.
 
4. Optimalisasi Momentum Lailatul Qadar
 
Kesungguhan adalah kunci meraih malam kemuliaan.
 
Relevansi Bagi Umat Islam Masa Kini
 
Di era modern, banyak orang justru semakin sibuk menjelang akhir Ramadhan persiapan mudik, belanja lebaran, dan urusan dunia lainnya. Akibatnya, sepuluh malam terakhir yang paling mulia justru terlewat tanpa makna.
 
Teladan Rasulullah SAW mengingatkan bahwa keberhasilan Ramadhan ditentukan oleh akhirnya. Seperti pelari maraton yang memaksimalkan tenaga di garis finis, seorang mukmin seharusnya meningkatkan ibadah di penghujung bulan suci.
 
Rasulullah SAW memberikan teladan paripurna dalam memuliakan sepuluh hari terakhir Ramadhan. Beliau meningkatkan intensitas ibadah, menghidupkan malam dengan shalat dan dzikir, beri’tikaf di masjid, serta membangunkan keluarga untuk beribadah bersama.
 
Semua itu menunjukkan bahwa puncak penghambaan terletak pada kesungguhan di saat-saat terakhir. Kesempatan emas seperti Lailatul Qadar tidak akan diraih oleh mereka yang bermalas-malasan. 
 
Meneladani Rasulullah SAW bukan sekadar mengikuti sunnah secara lahiriah, tetapi meniru semangat totalitas ibadahnya. Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah momentum perbaikan diri, penghapus dosa, dan peningkat derajat di sisi Allah SWT.
 
Semoga kita mampu menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan dengan ibadah terbaik, sehingga keluar sebagai pribadi yang kembali suci dan meraih predikat taqwa.(djl)

Sumber:

Berita Terkait