Meninggalkan Kesibukan Dunia Sementara: Menata Hati, Mendekat pada Ilahi

Meninggalkan Kesibukan Dunia Sementara: Menata Hati, Mendekat pada Ilahi

Radarseluma.disway.id - Meninggalkan Kesibukan Dunia Sementara: Menata Hati, Mendekat pada Ilahi--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Di tengah arus kehidupan modern yang serba cepat, manusia kerap terjebak dalam pusaran kesibukan duniawi yang tiada henti. Pekerjaan, urusan ekonomi, ambisi karier, tuntutan sosial, hingga hiruk-pikuk media digital sering kali menyita hampir seluruh waktu dan perhatian. Tanpa disadari, hati menjadi lelah, jiwa terasa kosong, dan hubungan dengan Allah SWT perlahan merenggang.
 
Islam sebagai agama yang sempurna tidak melarang manusia untuk bekerja dan beraktivitas di dunia. Namun, Islam mengajarkan keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Ada saatnya seorang hamba perlu berhenti sejenak dari rutinitas dunia untuk menenangkan jiwa, membersihkan hati, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Meninggalkan kesibukan dunia sementara bukanlah bentuk kemalasan, melainkan ikhtiar untuk menguatkan ruhani agar hidup lebih bermakna.
 
Perintah Menjaga Keseimbangan Dunia dan Akhirat
 
Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak larut sepenuhnya dalam urusan dunia hingga melupakan tujuan akhir kehidupan.
 
Dalil Al-Qur’an
 
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
 
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
 
Ayat ini menegaskan prinsip keseimbangan. Dunia bukan untuk ditinggalkan sepenuhnya, tetapi juga tidak boleh menjadi tujuan utama yang melalaikan akhirat. Kesibukan dunia perlu diatur agar tidak menghalangi ibadah, dzikir, dan perenungan diri. Saat dunia mulai menguasai hati, saat itulah seorang hamba perlu mengambil jeda untuk kembali menata orientasi hidupnya.
 
Dunia yang Melalaikan Hati
 
Kesibukan yang berlebihan dapat membuat hati keras dan jauh dari Allah. Ketika seluruh energi tercurah hanya untuk urusan materi, manusia mudah lupa bahwa hidup ini sementara.
 
Dalil Al-Qur’an
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9)
 
Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa kesibukan dunia dapat melalaikan dzikir dan ibadah. Harta dan keluarga adalah nikmat, tetapi jika keduanya membuat seseorang lupa kepada Allah, maka nikmat itu berubah menjadi ujian. Meninggalkan kesibukan dunia sementara menjadi langkah untuk menyelamatkan hati dari kelalaian.
 
 
Teladan Rasulullah SAW Menyendiri untuk Ibadah
 
Rasulullah SAW memberikan contoh nyata tentang pentingnya menyisihkan waktu dari urusan dunia untuk mendekatkan diri kepada Allah.
 
Dalil Hadits
 
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
 
Artinya: “Nabi SAW beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”.(HR. Bukhari dan Muslim)
 
I’tikaf adalah bentuk nyata meninggalkan kesibukan dunia sementara. Rasulullah SAW menjauh dari aktivitas sosial dan fokus beribadah di masjid. Tujuannya bukan menghindari tanggung jawab, tetapi memperkuat ruhani dan mendekatkan diri kepada Allah. Ini menjadi pelajaran bahwa manusia membutuhkan waktu khusus untuk menyendiri bersama Tuhannya.
 
Keutamaan Menenangkan Jiwa dengan Mengingat Allah
 
Ketika seseorang menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan mengisi waktu dengan dzikir, ketenangan hati akan tumbuh.
 
Dalil Al-Qur’an
 
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
 
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
 
Kesibukan dunia sering memicu stres, kecemasan, dan kelelahan mental. Dzikir dan ibadah menghadirkan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh materi. Saat hati tenang, pikiran jernih, dan jiwa kuat, seseorang justru mampu kembali menjalani aktivitas dunia dengan lebih baik.
 
 
Hikmah Meninggalkan Dunia Sementara
 
1. Membersihkan hati dari kelalaian
 
2. Memperkuat hubungan spiritual dengan Allah
 
3. Menata ulang tujuan hidup
 
4. Mengurangi stres dan kelelahan jiwa
Meningkatkan kualitas ibadah
 
5. Meninggalkan kesibukan dunia bukan berarti mengabaikan tanggung jawab, melainkan jeda untuk memperbaiki kualitas diri.
 
Kesibukan dunia adalah bagian dari kehidupan, namun tidak boleh menguasai hati dan melalaikan akhirat. Islam mengajarkan keseimbangan yang indah antara kerja dan ibadah, antara aktivitas dunia dan persiapan menuju kehidupan abadi.
 
Dengan mengambil waktu untuk berhenti sejenak dari rutinitas dunia, seorang hamba dapat membersihkan hati, menenangkan jiwa, serta memperkuat hubungannya dengan Allah SWT. Justru dari ketenangan spiritual itulah lahir kekuatan untuk menjalani kehidupan dunia dengan lebih bijak dan bermakna.
 
Saran Membangun bagi Pembaca
 
1. Luangkan waktu harian untuk menyendiri dan berdzikir meski hanya 10–15 menit.
 
2. Kurangi distraksi digital yang tidak bermanfaat.
 
3. Jadwalkan waktu khusus untuk tilawah dan tadabbur Al-Qur’an.
 
4. Manfaatkan momen Masjid sebagai tempat menenangkan jiwa.
 
5. Seimbangkan target dunia dengan target akhirat.
 
Langkah kecil yang konsisten akan membawa perubahan besar dalam kualitas hidup dan kedekatan kepada Allah SWT. (djl)

Sumber:

Berita Terkait