Keutamaan Puasa dalam Al-Qur’an dan Hadits: Jalan Menuju Takwa, Ampunan, dan Surga Allah SWT

Keutamaan Puasa dalam Al-Qur’an dan Hadits: Jalan Menuju Takwa, Ampunan, dan Surga Allah SWT

Radarseluma.disway.id - Keutamaan Puasa dalam Al-Qur’an dan Hadits: Jalan Menuju Takwa, Ampunan, dan Surga Allah SWT--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Puasa merupakan salah satu ibadah agung dalam Islam yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT. Ibadah ini tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana penyucian jiwa, penguatan iman, serta pembentukan akhlak mulia. Setiap kali bulan Ramadhan tiba, umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan penuh suka cita, karena di dalamnya terkandung berbagai keutamaan yang luar biasa.
 
Allah SWT secara langsung mewajibkan puasa kepada orang-orang beriman sebagai bentuk kasih sayang-Nya agar hamba-Nya mencapai derajat takwa. Puasa bukan sekadar ritual tahunan, tetapi sebuah madrasah ruhani yang membentuk pribadi muslim yang sabar, disiplin, dan penuh empati.
 
Dalil Al-Qur’an tentang Kewajiban dan Tujuan Puasa
 
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Qur'an, Al-Baqarah: 183)
 
Ayat ini menjelaskan bahwa tujuan utama puasa adalah mencapai ketakwaan. Takwa berarti menjaga diri dari segala larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya dengan penuh kesadaran. Puasa melatih pengendalian diri, sehingga seseorang mampu menahan hawa nafsu, amarah, dan perilaku tercela.
 
Selain itu, Allah SWT juga berfirman:
 
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
 
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
 
Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an, sehingga puasa menjadi momentum untuk semakin dekat dengan kitab suci dan memperbaiki kualitas ibadah.
 
 
Keutamaan Puasa dalam Hadits Rasulullah SAW
 
Rasulullah SAW menjelaskan banyak keutamaan puasa melalui sabda-sabda beliau. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan:
 
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
 
Artinya: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
 
Hadits ini menunjukkan betapa istimewanya puasa. Allah SWT secara langsung menyatakan bahwa pahala puasa menjadi hak prerogatif-Nya. Artinya, balasan puasa tidak terbatas dan tidak terukur oleh manusia.
 
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:
 
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”.(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
 
Keutamaan ini menjadi kabar gembira bagi setiap muslim. Puasa Ramadhan yang dilaksanakan dengan penuh keimanan dan keikhlasan menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa masa lalu.
 
Puasa sebagai Perisai dari Api Neraka
 
Rasulullah SAW bersabda:
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
Artinya: “Puasa adalah perisai.” (HR. Sahih Bukhari)
 
Perisai di sini bermakna pelindung dari api neraka dan juga dari perbuatan maksiat. Saat seseorang berpuasa, ia terdorong untuk menjaga lisannya dari ghibah, menjaga pandangannya dari hal yang haram, serta menjaga hatinya dari penyakit riya dan dengki.
 
Dalam hadits lain disebutkan:
 
“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu pada hari kiamat.”
(HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
 
Pintu Ar-Rayyan adalah simbol kemuliaan bagi orang-orang yang istiqamah dalam ibadah puasa.
 
 
Dimensi Spiritual dan Sosial Puasa
 
Puasa tidak hanya berdampak pada hubungan vertikal kepada Allah, tetapi juga hubungan horizontal sesama manusia. Rasa lapar yang dirasakan saat berpuasa menumbuhkan empati kepada fakir miskin. Inilah hikmah sosial puasa yang membentuk kepedulian dan solidaritas.
 
Puasa juga melatih kesabaran. Sabar dalam menahan lapar, sabar dalam menahan emosi, dan sabar dalam menghadapi ujian kehidupan. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
 
Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”
(QS. Az-Zumar: 10)
 
Ayat ini selaras dengan makna puasa yang mengandung kesabaran luar biasa dan pahala tanpa batas.
 
Puasa dalam Islam memiliki keutamaan yang sangat agung sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Selain itu, puasa menjadi sebab diampuninya dosa, dilipatgandakannya pahala, serta menjadi perisai dari api neraka.
 
Keistimewaan puasa terletak pada keikhlasannya. Tidak ada yang mengetahui seseorang benar-benar berpuasa kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, balasannya pun langsung dari Allah, tanpa batas dan tanpa hitungan.
 
Sebagai umat Islam, sudah sepatutnya kita memaknai puasa bukan sekadar kewajiban tahunan, tetapi sebagai momentum pembaruan iman dan perbaikan diri. Jadikan puasa sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, memperbaiki akhlak, serta meningkatkan kepedulian sosial.
 
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang mampu menjalankan puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan, sehingga meraih derajat takwa, ampunan dosa, serta pintu Ar-Rayyan di surga-Nya. (djl) 

Sumber:

Berita Terkait