Momentum Hijrah Transformasi Diri Menuju Pribadi Bertaqwa & Di Ridhoi Allah SWT

Momentum Hijrah Transformasi Diri Menuju Pribadi Bertaqwa & Di Ridhoi Allah SWT

Radarseluma.disway.id - Momentum Hijrah Transformasi Diri Menuju Pribadi Bertaqwa & Di Ridhoi Allah SWT --

Reporter: Juli Irawan 
Radarseluma.disway.id - Ramadhan adalah madrasah ruhani yang mendidik jiwa melalui puasa, shalat malam, tilawah Al-Qur’an, serta berbagai amalan kebaikan lainnya. Dalam suasana yang penuh berkah ini, hati yang keras dapat dilunakkan, dosa yang menumpuk dapat diampuni, dan kebiasaan buruk dapat ditinggalkan.
 
Allah SWT berfirman:
 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
 
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
 
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Ketaqwaan itulah inti dari hijrah sejati berpindah dari kelalaian menuju kesadaran, dari kemaksiatan menuju ketaatan.
 
1. Ramadhan sebagai Madrasah Hijrah Spiritual
 
Hijrah bukan hanya perpindahan fisik sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, tetapi juga perpindahan hati dari keburukan menuju kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
 
Artinya: “Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)
 
Hadits ini memberikan definisi hijrah yang sangat relevan dengan kehidupan umat Islam hari ini. Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk meninggalkan kebiasaan buruk seperti lalai shalat, berkata dusta, ghibah, atau meninggalkan Al-Qur’an.
 
Puasa mengajarkan pengendalian diri. Ketika seseorang mampu menahan lapar dan dahaga, sejatinya ia sedang melatih kesabaran dan disiplin. Jika ia mampu menahan yang halal di siang hari, tentu ia lebih mampu meninggalkan yang haram sepanjang waktu.
 
Allah SWT juga berfirman:
 
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
 
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)
 
Ramadhan adalah kesempatan menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs). Momentum ini tidak boleh berlalu begitu saja tanpa perubahan berarti. Jika sebelum Ramadhan seseorang masih lalai, maka setelah Ramadhan ia seharusnya menjadi pribadi yang lebih baik.
 
2. Transformasi Diri Menuju Pribadi Bertaqwa
 
Ramadhan juga menghadirkan malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah SWT berfirman:
 
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
 
Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
 
Keutamaan ini menunjukkan betapa besar peluang perubahan yang Allah berikan. Dalam satu malam saja, pahala yang diraih bisa melampaui ibadah selama lebih dari 83 tahun.
 
Rasulullah SAW bersabda:
 
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
 
Hadits ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah momen pengampunan dosa. Namun pengampunan itu bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah perubahan hidup yang nyata.
 
 
Hijrah di bulan Ramadhan bisa dimulai dengan langkah-langkah sederhana:
 
1. Memperbaiki shalat lima                waktu  dan berjamaah.
2. Membiasakan membaca Al-          Qur’an setiap hari.
3. Menjaga lisan dari perkataan        sia-sia.
4. Memperbanyak sedekah dan          kepedulian sosial.
5. Memperkuat doa dan istighfar.
 
Ramadhan juga mengajarkan empati sosial. Saat merasakan lapar, seorang Muslim belajar memahami penderitaan orang miskin. Inilah yang mendorong semangat berbagi, zakat, dan infak.
Allah SWT berfirman:
 
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
 
Artinya: “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah: 43)
 
Ketaatan personal harus diiringi dengan kepedulian sosial. Inilah wujud hijrah yang menyeluruh: perubahan spiritual sekaligus perubahan sikap sosial.
 
 
Ramadhan dan Konsistensi Setelahnya
 
Salah satu tanda diterimanya amal Ramadhan adalah adanya perubahan setelahnya. Jangan sampai semangat ibadah hanya muncul saat Ramadhan, lalu hilang ketika Syawal tiba.
 
Rasulullah SAW bersabda:
 
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
 
Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Muslim)
 
Hijrah sejati bukan perubahan sesaat, melainkan transformasi berkelanjutan. Jika di bulan Ramadhan kita mampu bangun malam untuk tahajud, maka setelahnya minimal kita menjaga shalat wajib tepat waktu. Jika selama Ramadhan kita rajin bersedekah, maka setelahnya jangan berhenti berbagi.
 
Ramadhan adalah momentum emas untuk hijrah dan perubahan diri. Melalui puasa, shalat, tilawah, sedekah, dan doa, seorang Muslim ditempa menjadi pribadi yang bertakwa. Tujuan akhir Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tetapi membentuk karakter yang lebih sabar, disiplin, jujur, dan peduli.
 
Hijrah yang sejati adalah meninggalkan larangan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Ramadhan memberi peluang pengampunan dosa, tetapi juga menuntut komitmen perubahan hidup yang nyata.
 
Sebagai umat Islam, jangan sia-siakan kesempatan yang Allah berikan setiap Ramadhan. Jadikan bulan suci ini sebagai titik balik kehidupan. Jika sebelumnya kita jauh dari Al-Qur’an, maka dekatlah. Jika sebelumnya lalai dalam shalat, maka perbaikilah. Jika sebelumnya hati dipenuhi dendam dan iri, maka bersihkanlah.
 
Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi momentum hijrah dan transformasi diri menuju ridha Allah SWT. Aamiin. (djl)

Sumber:

Berita Terkait