Bumi Penuh Kekacauan dan Kedzaliman: Isyarat Kiamat Besar Saat Keadilan Lenyap dan Manusia Kehilangan Nurani
Rabu 31-12-2025,13:40 WIB
Reporter:
juliirawan|
Editor:
juliirawan
Radarseluma.disway.id - Bumi Penuh Kekacauan dan Kedzaliman: Isyarat Kiamat Besar Saat Keadilan Lenyap dan Manusia Kehilangan Nurani--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Kiamat merupakan peristiwa besar yang pasti akan terjadi. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu menghindarinya. Namun, sebelum hari kehancuran alam semesta itu tiba, Allah SWT telah memberikan berbagai tanda sebagai peringatan bagi manusia. Di antara tanda-tanda Kiamat Besar yang paling nyata dan banyak disaksikan dalam kehidupan manusia adalah ketika bumi dipenuhi dengan kekacauan, kerusakan, dan kedzaliman. Nilai-nilai keadilan runtuh, kebenaran dianggap kebatilan, dan kebatilan dibela seolah-olah kebenaran.
Fenomena ini bukan sekadar isu sosial atau politik semata, melainkan sebuah tanda besar yang telah diperingatkan dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Ironisnya, banyak manusia justru menganggapnya sebagai hal biasa, bahkan ikut terlibat di dalamnya. Padahal, kekacauan dan kedzaliman yang merajalela merupakan sinyal keras bahwa akhir zaman semakin dekat.
Kekacauan dan Kerusakan di Muka Bumi dalam Al-Qur’an
Allah SWT telah mengingatkan manusia tentang kerusakan yang akan terjadi akibat ulah mereka sendiri. Firman Allah SWT:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa kekacauan dan kerusakan bukan terjadi tanpa sebab. Ia merupakan dampak langsung dari perbuatan manusia yang melampaui batas, mengabaikan hukum Allah, dan menuruti hawa nafsu. Ketika manusia menolak kebenaran dan keadilan, maka kekacauan menjadi keniscayaan.
Kedzaliman sebagai Ciri Kuat Akhir Zaman
Kedzaliman merupakan puncak dari kerusakan moral manusia. Nabi Muhammad SAW telah memperingatkan umatnya tentang merebaknya kezaliman menjelang Kiamat. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya:
“Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa kezaliman bukan sekadar dosa sosial, melainkan dosa besar yang dampaknya akan dirasakan di akhirat. Pada akhir zaman, kezaliman dilakukan secara terang-terangan, baik oleh individu, kelompok, maupun penguasa. Hak-hak manusia dirampas, hukum diperjualbelikan, dan suara kebenaran dibungkam.
Keadilan Hilang dan Amanah Dikhianati
Salah satu bentuk kekacauan terbesar menjelang Kiamat adalah hilangnya amanah dan keadilan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِذَا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
Artinya:
“Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat.” (HR. Bukhari)
Ketika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, ketika pemimpin tidak lagi adil, dan hukum tidak ditegakkan secara jujur, maka itu adalah tanda nyata bahwa manusia sedang berjalan menuju kehancuran. Kekacauan sosial, konflik berkepanjangan, dan ketimpangan yang ekstrem adalah buah dari pengkhianatan terhadap amanah.
Pandangan Ulama tentang Kekacauan Akhir Zaman
Para ulama klasik dan kontemporer telah menjelaskan bahwa merajalelanya kezaliman merupakan tanda besar dekatnya Kiamat. Imam Ibn Katsir رحمه الله dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kerusakan di muka bumi akan semakin luas ketika manusia meninggalkan syariat Allah dan lebih mengutamakan hukum buatan manusia.
Sementara itu, Imam Al-Ghazali رحمه الله menyebutkan bahwa ketika hati manusia telah keras, tidak lagi tersentuh oleh nasihat, dan lebih mencintai dunia daripada akhirat, maka kehancuran adalah akibat yang tak terelakkan. Kekacauan bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga kekacauan akidah, moral, dan tujuan hidup.
Manusia Sibuk Dunia, Lupa Akhirat
Salah satu ironi besar di akhir zaman adalah manusia justru semakin sibuk mengejar dunia di tengah tanda-tanda kehancuran yang nyata. Rasulullah SAW bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ حَرَامٍ
Artinya:
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, seseorang tidak peduli dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari yang halal atau haram.” (HR. Bukhari)
Hadits ini sangat relevan dengan kondisi hari ini, di mana ketamakan, korupsi, dan ketidakadilan dianggap biasa. Nilai halal dan haram kabur, yang penting keuntungan dan kekuasaan.
Sikap Seorang Muslim Menghadapi Kekacauan
Di tengah kekacauan dan kedzaliman yang meluas, Islam tidak mengajarkan keputusasaan. Justru, seorang Muslim diperintahkan untuk tetap berpegang teguh pada iman, menegakkan kebenaran sesuai kemampuan, dan memperbaiki diri serta lingkungan.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
Artinya:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (QS. Hud: 113)
Ayat ini menegaskan agar umat Islam tidak ikut larut dalam kezaliman, baik dengan tindakan maupun sikap diam yang membenarkan.
Kekacauan dan kedzaliman yang memenuhi bumi merupakan tanda besar bahwa manusia sedang berada di ambang akhir zaman. Al-Qur’an dan Hadits telah memberikan peringatan yang sangat jelas, namun banyak manusia yang mengabaikannya. Ketika keadilan hilang, amanah dikhianati, dan kezaliman merajalela, maka itu adalah isyarat kuat bahwa Kiamat semakin dekat.
Sebagai umat Islam, kita dituntut untuk menjadikan fenomena ini sebagai bahan muhasabah, bukan sekadar tontonan atau bahan perbincangan. Kiamat mungkin belum tiba hari ini, tetapi tanda-tandanya telah nyata di hadapan mata. Semoga Allah SWT melindungi kita dari fitnah akhir zaman, meneguhkan iman kita, dan menjadikan kita bagian dari hamba-hamba-Nya yang tetap istiqamah di tengah kekacauan dunia. Aamiin. (djl)
Sumber: