Thailand Muncul sebagai Pusat AI ASEAN yang Baru, Pergesaran Teknologi di Asia

Thailand Muncul sebagai Pusat AI ASEAN yang Baru, Pergesaran Teknologi di Asia

mendayagunakan Xinghe Intelligent High-Quality 10 Gbps Campus Network Solution dari Huawei--

 

BANGKOK, THAILAND, Radarseluma.Disway.id – Saat perhatian global tetap tertuju pada perlombaan AI, THAILAND kini sedang membangun identitas baru sebagai "Pusat AI yang sedang berkembang untuk Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN)". Pemerintah terus memajukan inisiatif "THAILAND 4.0", memposisikan ekonomi digital sebagai penggerak utama transformasi nasional.

 

BACA JUGA: Seluruh Honorer di Seluma Dirumahkan, Termasuk Tenaga Kesehatan RSUD Tais

BACA JUGA:Natal GPDI Cahaya Negeri Seluma Dihadiri 102 Jemaat, Pendeta Jonni Sampaikan Hal Ini

Ekspansi AI dan pusat data (DC) di Thailand mendorong beberapa tren transformatif:

Perubahan pola lalu lintas data. Seiring bertambahnya pusat data (DC) di Bangkok, Chonburi, dan sekitarnya, Thailand berevolusi dari "titik transit" data tradisional menjadi "pusat konvergensi" regional. Lalu lintas digital timur-barat semakin cepat, dengan klaster DC Thailand semakin memenuhi kebutuhan komputasi Asia Tenggara dan kawasan Asia-Pasifik yang lebih luas.

Pengoptimalan perutean data. Aliran data yang dulunya bergantung pada kabel bawah laut melalui Hong Kong dan Singapura secara bertahap beralih ke koridor digital berbasis darat yang menghubungkan Tiongkok, Laos, dan Thailand. Rute ini mengurangi latensi transmisi data dari Tiongkok barat daya ke Asia Tenggara.

Ekspektasi bisnis yang meningkat. Permintaan bergeser dari "bandwidth yang memadai" menuju "pengalaman berkualitas tinggi." Thailand berada di "titik optimal latensi" untuk pasar-pasar utama Asia-Pasifik, dengan latensi ke Singapura, Vietnam, dan Malaysia berada dalam kisaran optimal—keunggulan penting bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap latensi seperti kendaraan otonom, telemedisin, dan teknologi keuangan (fintech).

Peluang baru pasti membawa tantangan baru, dan Thailand juga mengatasi tiga tantangan berikut:

 

1. Beban lalu lintas yang sangat besar memengaruhi jaringan yang ada: Dibandingkan dengan pusat data yang sudah mapan seperti Singapura, Thailand memiliki kabel laut internasional yang tidak memadai. Sejumlah besar data lintas batas masih perlu ditransmisikan melalui jalur memutar. Sementara itu, seiring dengan terus meningkatnya investasi di pusat data, lalu lintas akan terus meningkat. Analisis menunjukkan bahwa pada tahun 2029, kapasitas pusat data Thailand mungkin mencapai 2000 MW, dengan lalu lintas lintas wilayah melonjak hingga 630 Tbps. Arsitektur jaringan saat ini tidak lagi mampu mendukung lalu lintas yang begitu besar.

 

BACA JUGA:Tenaga Outsourcing di Seluma Seperti Jaga Malam, Sopir dan Kebersihan Digaji Sesuai UMR

Sumber:

Berita Terkait