Industri Manufaktur Tetap Resilien Hingga Akhir 3Q25
Industri manufaktur Indonesia--
JAKARTA, Radarseluma.Disway.id - Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia pada September 2025 tercatat sebesar 50,4.
Meskipun melemah dibandingkan bulan sebelumnya (51,5), indeks ini menunjukkan bahwa industri manufaktur Indonesia masih berada dalam zona ekspansif. Pelemahan dipengaruhi perlambatan produksi yang terjadi untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir. Namun, permintaan baru tetap positif sehingga memberi dorongan pada aktivitas industri.
BACA JUGA:Kisah Rasulullah SAW dan Anak Yatim: Sentuhan Kasih yang Menggetarkan Hati Umat
BACA JUGA: Ada Promo di BSI, Cashback Hingga Emas di ISEF 2025, Jangan Ketinggalan
Tekanan utama berasal dari melemahnya daya beli masyarakat.
Kondisi ini menyebabkan pabrik menahan produksi dan menunggu persediaan berkurang. Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), pertumbuhan tahunan belanja mingguan sepanjang 2025 menunjukkan tren penurunan, terutama sejak memasuki 3Q25. Terbaru, indeks nilai belanja pada minggu keempat September 2025 tercatat sebesar 275,9, hanya meningkat 0,4% secara mingguan.
Optimisme industri tercermin pada permintaan tenaga kerja jangka panjang.
Laporan PMI mencatat bahwa tingkat lapangan kerja naik ke posisi tertinggi dalam empat bulan terakhir. Hal ini selaras dengan penurunan tingkat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 830 pekerja terkena PHK pada Agustus 2025 (vs 1.118 pada Juli 2025), turun 25,8% secara bulanan.
BACA JUGA:Bupati Seluma Tetapkan 16 Desa Wisata, 13 Masih Rintisan
BACA JUGA:Toyota Fortuner GR Sport Baru, SUV Handal dan Mewah Populer di Pasar Otomotif Indonesia
Sumber: