Nanguzubillah Minzalik: Ciri-ciri Haji dan Hajjah Pengabdi Syetan

Nanguzubillah Minzalik: Ciri-ciri Haji dan Hajjah Pengabdi Syetan

Radarseluma.disway.id - Nanguzubillah Minzalik: Ciri-ciri Haji dan Hajjah Pengabdi Syetan--

Nanguzubillah Minzalik: Ciri-ciri Haji dan Hajjah Pengabdi Syetan

Reporter : Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang diwajibkan Allah SWT bagi setiap muslim yang mampu, baik secara fisik maupun finansial. Rasulullah SAW menegaskan bahwa haji mabrur balasannya tiada lain adalah surga. Sebagaimana sabda beliau:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ». قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ». قِيلَ: ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: «حَجٌّ مَبْرُورٌ

Artinya: Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata: Rasulullah SAW pernah ditanya, "Amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Iman kepada Allah dan Rasul-Nya." Ditanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah." Ditanya lagi: "Kemudian apa?" Beliau menjawab: "Haji yang mabrur." (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, di balik agungnya ibadah haji, terdapat pula ancaman bagi mereka yang sekadar berhaji sebagai simbol status sosial, kebanggaan duniawi, atau bahkan memperalatnya untuk kepentingan hawa nafsu dan syetan. Na’udzubillah min dzalik, inilah yang sering disebut sebagai “haji dan hajjah pengabdi syetan”.

Artikel ini akan menguraikan secara mendalam apa yang dimaksud dengan istilah tersebut, bagaimana ciri-cirinya sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW, serta bagaimana seorang muslim seharusnya menjaga diri agar tidak tergolong ke dalam golongan tersebut.

Haji Mabrur vs Haji yang Tertolak

Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT, ditandai dengan perubahan akhlak menjadi lebih baik, penuh ketakwaan, dan semakin rendah hati. Sedangkan haji yang tertolak adalah haji yang tidak memberikan bekas dalam kehidupan seseorang, bahkan bisa menjadikannya semakin sombong dan jauh dari Allah.

Al-Qur’an mengingatkan:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَـٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ

Artinya: "Haji itu (dilaksanakan) pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa menetapkan niat dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (ucapan kotor), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji. Apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat ini menegaskan bahwa haji sejati adalah haji yang menghapuskan perbuatan kotor, kefasikan, dan kesombongan. Bila setelah pulang haji, seseorang tetap bergelimang dalam dosa, tidak ada perubahan perilaku, bahkan semakin congkak, maka tandanya hajinya tidak memberi bekas mabrur.

Ciri-ciri Haji dan Hajjah Pengabdi Syetan

Berikut beberapa ciri yang digambarkan oleh Rasulullah SAW dan para ulama dari nash Qur’an serta hadis:

1. Menjadikan Haji sebagai Simbol Kesombongan

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya: "Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu ia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia pulang seperti hari dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebaliknya, jika haji dijadikan alat pamer, misalnya untuk menambahkan gelar “Haji/Hajjah” semata agar dihormati, namun hati tetap sombong, maka ia sejatinya mengabdi kepada syetan yang menanamkan kesombongan.

2. Haji yang Tidak Mengubah Akhlak

Nabi SAW bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Artinya: "Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika niat berhaji bukan karena Allah, maka meski melaksanakan seluruh rukun, hajinya hanya menjadi perjalanan sia-sia. Orang yang setelah haji tetap mencaci, menipu, korupsi, dan meremehkan perintah Allah adalah tanda bahwa hajinya tertolak dan dikendalikan hawa nafsu.

3. Menggunakan Harta Haram untuk Berhaji

Allah SWT berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُوا۟ مِنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَٱعْمَلُوا۟ صَـٰلِحًا ۖ إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

Artinya: "Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan"(QS. Al-Mu’minun: 51)

Hadis Nabi juga menegaskan:

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima kecuali yang baik." (HR. Muslim)

Jika seseorang berhaji dengan harta hasil riba, korupsi, atau menzalimi orang lain, maka hajinya tertolak. Bahkan sebagian ulama menyebut, itu bukan haji mabrur melainkan haji yang tertipu oleh syetan.

4. Setelah Haji Justru Semakin Lalai

Tanda lainnya adalah setelah menunaikan haji, bukannya semakin taat, justru semakin malas beribadah. Syetan menjadikan haji hanya formalitas, padahal tujuan haji adalah semakin tunduk dan taat.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

"Seharusnya haji membuat manusia bersih dari dosa. Jika setelah haji justru kembali pada dosa lama, maka itu adalah bisikan syetan" (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Menjadikan Gelar Haji sebagai Tameng Kemunafikan

Ada pula orang yang menggunakan gelar haji untuk menutupi keburukan dirinya. Gelar itu dijadikan legitimasi sosial, padahal perilakunya jauh dari ajaran Islam. Inilah yang disebut haji munafik, lebih dekat kepada pengabdian syetan daripada Allah.

Haji bukan sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, melainkan perjalanan spiritual menuju Allah. Ia harus melahirkan pribadi baru yang penuh ketundukan. Bila haji hanya menghasilkan kesombongan, riya, dan kemunafikan, maka itu adalah tanda hajinya tidak diterima.

Oleh karena itu, setiap muslim harus menjaga niat, membersihkan harta, memperbaiki akhlak, dan menjadikan haji sebagai momentum hijrah. Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa tanda haji mabrur adalah akhlak yang semakin baik dan kepedulian terhadap sesama.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Haji mabrur adalah haji yang ikhlas, membawa perubahan akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah.

2. Sebaliknya, haji yang menjadi pengabdi syetan adalah haji yang tidak memberikan bekas, hanya menjadi simbol kesombongan, dilakukan dengan harta haram, dan tidak melahirkan ketakwaan.

3. Al-Qur’an dan hadis telah menegaskan larangan berbuat fasik, sombong, dan pamer dalam ibadah haji.

4. Seorang muslim harus terus memperbarui niat agar hajinya diterima Allah dan menjadi wasilah menuju surga.

Na’udzubillah min dzalik, semoga kita terhindar dari ciri-ciri haji dan hajjah pengabdi syetan. Semoga Allah SWT menerima setiap ibadah haji kaum muslimin, menjadikannya haji mabrur, dan menguatkan tekad kita untuk berhaji dengan niat tulus karena Allah semata. (djl)

Sumber:

Berita Terkait