Inilah Sosok Suhud Sastro Kusumo: Pahlawan Tersembunyi Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945

Inilah Sosok Suhud Sastro Kusumo: Pahlawan Tersembunyi Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945

Radarseluma.disway.id - Suhud Sastro Kusumo: Pahlawan Tersembunyi Pengibar Bendera Pusaka 17 Agustus 1945--

Reporter: Juli Irawan Radarseluma.disway.id - Sejarah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 sering kali mengangkat nama-nama besar seperti Soekarno, Hatta, atau para perwira militer yang menjadi tokoh penting pada masa itu. Namun, ada sosok sederhana yang jarang tercatat dalam buku pelajaran sekolah, tetapi kiprahnya begitu vital dalam detik-detik proklamasi. Dia adalah Suhud Sastro Kusumo, seorang pemuda biasa yang dengan penuh ketulusan ikut mengibarkan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya. Namanya tidak setenar Kapten Latief Hendraningrat, namun keberadaannya memberi makna mendalam: bahwa kemerdekaan bangsa ini bukan hanya lahir dari pemimpin, tetapi juga dari rakyat jelata yang berani mengambil peran.

Masa Kecil dan Kehidupan Awal

Suhud Sastro Kusumo lahir dari keluarga sederhana di Batavia (Jakarta). Ia tumbuh di tengah kehidupan rakyat jelata yang penuh keterbatasan, namun kaya akan nilai-nilai perjuangan. Sebagai anak muda pada masa penjajahan, ia merasakan kerasnya hidup di bawah tekanan kolonial Belanda dan kemudian Jepang. Pendidikan formalnya tidak tinggi, tetapi semangatnya untuk belajar dari kehidupan dan lingkungannya menjadikannya pribadi tangguh, ulet, dan berjiwa merdeka.

Masa kecil Suhud Sastro Kusumo dipenuhi dengan aktivitas membantu orang tua dan belajar mandiri. Ia terbiasa bekerja keras sejak dini, sehingga membentuk karakternya yang disiplin. Pemuda ini tumbuh dengan cita-cita sederhana: ingin melihat bangsanya bebas dari belenggu penjajahan. Nilai-nilai inilah yang kelak mendorongnya terlibat dalam peristiwa bersejarah proklamasi kemerdekaan.

Peran Suhud Sastro Kusumo dalam Detik-Detik Proklamasi

Tanggal 17 Agustus 1945 pagi hari di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, rumah kediaman Soekarno, suasana penuh ketegangan sekaligus harapan. Setelah teks proklamasi dibacakan, tibalah saat pengibaran bendera pusaka merah putih. Tidak ada persiapan khusus. Tiang bendera hanyalah sebatang bambu sederhana yang ditancapkan di halaman rumah.

Di sinilah peran Suhud Sastro Kusumo menjadi begitu penting. Bersama Latief Hendraningrat, ia menjadi pengibar pertama Sang Saka. Suhud membantu menegakkan bambu yang menjadi tiang bendera, lalu ikut menarik tali hingga bendera merah putih itu berkibar dengan gagah di langit Jakarta. Meskipun tanpa latihan resmi, tanpa protokol militer yang ketat, ia melakukannya dengan sepenuh hati.

Suhud Sastro Kusumo bukanlah seorang perwira tinggi, melainkan rakyat jelata yang dengan kerendahan hati ikut menyumbangkan tenaganya. Namun, tindakannya hari itu menjadi bukti bahwa kemerdekaan Indonesia diraih bukan hanya oleh segelintir tokoh besar, tetapi oleh seluruh rakyat, dari pemimpin hingga orang biasa.

BACA JUGA:Tiga Pahlawan Pengibar Sang Saka Merah Putih Pertama 17 Agustus 1945: Jejak Kepahlawanan yang Terlupakan

Jasa dan Kiprah Setelah Proklamasi

Setelah proklamasi, perjuangan belum selesai. Indonesia masih harus menghadapi ancaman kembalinya Belanda yang ingin menjajah. Suhud Sastro Kusumo tetap menunjukkan pengabdiannya. Ia bergabung dengan berbagai kegiatan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan. Walaupun catatan sejarah tentang kiprahnya setelah itu tidak sebanyak tokoh-tokoh besar, perannya tetap diakui sebagai bagian dari generasi yang membela kemerdekaan di garis depan maupun di belakang layar.

Suhud Sastro Kusumo melanjutkan hidupnya dengan tetap berkiprah di masyarakat. Ia pernah terlibat dalam kegiatan sosial dan perjuangan rakyat di sekitar Jakarta. Walau tidak menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan atau militer, jasa-jasanya dalam sejarah bangsa membuatnya layak dikenang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Kehidupan Pribadi dan Karier

Dalam keseharian, Suhud Sastro Kusumo dikenal sebagai pribadi sederhana, rendah hati, dan penuh kepedulian. Ia tidak pernah membanggakan dirinya sebagai pengibar bendera pusaka pertama, karena ia meyakini bahwa apa yang ia lakukan hanyalah bagian kecil dari perjuangan besar bangsa. Ia bekerja dan hidup selayaknya rakyat biasa, namun tetap dihormati oleh orang-orang di lingkungannya karena kiprah sejarahnya.

Meski namanya tidak tercatat luas dalam buku-buku resmi, keberadaannya mulai diangkat kembali oleh sejarawan dan media yang peduli dengan kisah-kisah heroik rakyat kecil. Suhud wafat pada usia senja dengan meninggalkan teladan besar: kesetiaan pada bangsa dan pengabdian tanpa pamrih.

BACA JUGA:Kapten Latief Hendraningrat: Pahlawan Pengibar Merah Putih Pertama 17 Agustus 1945

Pesan dari Sosok Suhud Sastro Kusumo 

Kisah Suhud Sastro Kusumo mengajarkan kita bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya milik mereka yang berpidato di podium atau duduk di kursi kekuasaan. Justru, banyak rakyat kecil yang memberikan sumbangsih besar meski tanpa sorotan kamera atau catatan sejarah. Peran Suhud yang menyiapkan tiang bambu, menarik tali bendera, hingga memastikan Sang Merah Putih berkibar, menjadi simbol bahwa kemerdekaan adalah hasil gotong royong seluruh bangsa.

Ia adalah representasi rakyat jelata yang membuktikan bahwa kecintaan pada tanah air tidak mengenal status, jabatan, atau pangkat. Semangat inilah yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda, agar mereka memahami bahwa setiap orang dapat memberi kontribusi nyata bagi bangsa.

Sumber:

Berita Terkait