Safar: Momentum Menyucikan Niat dan Menata Arah Hidup

Safar: Momentum Menyucikan Niat dan Menata Arah Hidup

Radarseluma.disway.id - Safar: Momentum Menyucikan Niat dan Menata Arah Hidup--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id -Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah setelah Muharram. Dalam sejarah dan tradisi masyarakat Arab Jahiliyah, Safar sering dikaitkan dengan kesialan, bencana, dan berbagai bentuk kepercayaan negatif yang tidak berdasar. Namun Islam datang dengan membawa cahaya kebenaran, meluruskan mitos, dan mengajak umat untuk memaknai setiap waktu sebagai kesempatan berharga untuk memperbaiki diri.

Di era modern ini, Safar justru bisa dijadikan sebagai momen refleksi untuk menyucikan niat hidup. Dalam hiruk-pikuk kehidupan yang kerap kali menjauhkan kita dari nilai-nilai keikhlasan, Safar hadir mengingatkan bahwa segala yang kita jalani mesti berlandaskan niat yang lurus karena Allah semata.

Menghapus Takhayul di Bulan Safar

Dalam masyarakat jahiliyah dahulu, bulan Safar dianggap sebagai bulan kesialan. Mereka enggan melakukan perjalanan atau melaksanakan pernikahan karena takut akan tertimpa musibah. Keyakinan ini dibantah langsung oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

"لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ"

Artinya: “Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya, tidak ada thiyarah (anggapan sial karena pertanda), tidak ada burung hantu (yang dikaitkan dengan kematian), dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi bukti bahwa Islam menolak segala bentuk keyakinan takhayul dan memerintahkan umatnya untuk bersandar kepada tawakal dan keimanan, bukan pada mitos atau prasangka.

BACA JUGA:Inilah Manusia Lebih Buruk Dari Iblis dan Fir'aun. Inilah Sosok Yang Diungkapkan Al-Qur'an dan Hadits Sebagai

Niat: Pondasi Segala Amal

Salah satu aspek paling mendasar dalam ajaran Islam adalah pentingnya niat. Bulan Safar dapat dijadikan kesempatan untuk kembali meluruskan niat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى"

Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niat merupakan dasar dari semua amal. Tanpa niat yang benar, amal sebesar apa pun dapat kehilangan nilainya di sisi Allah. Oleh karena itu, menyucikan niat berarti menata ulang hidup kita agar setiap aktivitas baik bekerja, belajar, berkeluarga, maupun bermasyarakat diniatkan sebagai ibadah yang mengharap ridha-Nya.

Sumber:

Berita Terkait