Hijrah Berani: Menolak Syubhat demi Kesucian Hati dan Kejernihan Hidup

Hijrah Berani: Menolak Syubhat demi Kesucian Hati dan Kejernihan Hidup

Radarseluma.disway.id - Hijrah Berani: Menolak Syubhat demi Kesucian Hati dan Kejernihan Hidup--

Reporter: Juli Irawan

Radarseluma.disway.id - Dalam dinamika kehidupan modern yang penuh godaan dan arus informasi yang tiada henti, umat Islam dituntut untuk memiliki ketegasan dalam menentukan sikap terhadap apa yang halal dan apa yang haram. Namun, tidak jarang kita dihadapkan pada perkara-perkara yang tidak jelas antara halal dan haram yang dalam istilah syar'i disebut sebagai syubhat. Perkara ini menjadi ujian penting dalam proses hijrah seorang Muslim. Hijrah bukan sekadar berpindah dari keburukan menuju kebaikan, tapi juga menumbuhkan keberanian menolak segala sesuatu yang meragukan dan tidak jelas hukumnya, sebagai bentuk kesempurnaan iman dan ketaqwaan.

Menolak syubhat merupakan bagian integral dari hijrah menuju ketakwaan yang hakiki. Inilah bentuk furqan, yakni kemampuan membedakan yang hak dan batil, yang hanya dimiliki oleh mereka yang bersungguh-sungguh dalam menjaga kesucian hati dan kebaikan amal.

Syubhat: Bahaya yang Mengintai Keikhlasan

Kata syubhat berasal dari kata syubha, yang berarti sesuatu yang menyerupai atau mendekati. Dalam istilah syar'i, syubhat adalah hal yang belum jelas status hukumnya apakah halal atau haram baik karena kurangnya dalil yang terang atau karena ketidakjelasan informasi. Rasulullah SAW telah memberikan peringatan yang sangat tegas tentang perkara ini dalam haditsnya:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ، لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ، فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ»

Artinya: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka siapa yang menjauhi perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa perkara syubhat adalah ujian besar dalam menjaga integritas iman seseorang. Keberanian untuk menolak dan menjauhi perkara syubhat adalah wujud nyata dari ketakwaan, serta bentuk hijrah hati dan perilaku menuju ridha Allah.

BACA JUGA:Hijrah Bukan Sekadar Awal: Menjaga Niat dari Kemunduran Menuju Istiqamah

Menolak Syubhat sebagai Cermin Hijrah Spiritual

Hijrah tidak hanya berarti berpindah tempat atau mengganti pakaian penampilan, tetapi juga berpindah dari kemaksiatan menuju ketaatan, dari keraguan menuju keyakinan, dari mengikuti hawa nafsu menuju pengendalian diri. Menolak syubhat adalah bentuk hijrah spiritual karena ia menunjukkan

1. Kesungguhan dalam menjaga kehalalan rizki.

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 168, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya: "Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu."

Ayat ini memerintahkan manusia untuk hanya mengambil yang halal dan thayyib, serta menjauhi jebakan syubhat yang sering menjadi pintu masuk kepada haram.

2. Pembersih hati dari penyakit cinta dunia.

Syubhat seringkali berakar dari cinta dunia berlebihan entah karena ingin cepat kaya, takut kehilangan kesempatan, atau ingin tampil. Padahal, Rasulullah  bersabda:

«دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ»

Artinya: "Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu." (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i)

Hadits ini mengajarkan prinsip kehati-hatian (wara’), yaitu meninggalkan apa yang tidak yakin, demi menjaga kejernihan hati dan kelurusan amal.

3. Melatih kejujuran dan amanah dalam bertindak

Dalam dunia kerja, bisnis, pergaulan, bahkan aktivitas media sosial, banyak praktik yang tampaknya sepele tapi mengandung syubhat: manipulasi data, klikbait, endorsement tidak jujur, atau transaksi digital yang samar. Orang yang berhijrah akan belajar berkata “tidak” untuk hal-hal yang mencurigakan, meski menggiurkan.

BACA JUGA:Muharam dan Perjuangan Meningkatkan Hafalan Al-Qur’an: Menyambut Tahun Baru dengan Semangat Menghafal

Syubhat di Zaman Modern: Ujian Hijrah Kekinian

Di era digital dan globalisasi, syubhat semakin kompleks. Banyak sekali bentuknya:

• Produk yang belum jelas halal-haramnya,

• Investasi yang tidak transparan,

• Konten media yang samar antara dakwah dan hiburan,

• Etika kerja dan politik yang abu-abu.

Karena itu, hijrah di masa kini bukan sekadar berpakaian syar’i, tetapi berpikir syar’i, bersikap wara’, dan menjaga prinsip di tengah derasnya godaan duniawi.

Menolak syubhat tidak selalu mudah. Dibutuhkan:

• Ilmu (untuk mengetahui mana yang jelas halal atau haram),

• Keberanian (untuk berkata tidak),

• Keikhlasan (untuk mencari ridha Allah, bukan penilaian manusia).

Sebagaimana disebut dalam QS. Al-Anfal ayat 29:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (kemampuan membedakan yang benar dan yang salah)."

Furqan adalah anugerah Allah bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam ketakwaan, termasuk yang berani meninggalkan syubhat.

Syubhat adalah Jebakan, Hijrah adalah Jalan Keselamatan

Menolak syubhat adalah bagian dari kesempurnaan hijrah. Ia bukan hanya bentuk kehati-hatian dalam agama, tapi juga penjaga kesucian hati dan amal. Orang yang wara’ tidak hanya menghindari dosa besar, tapi juga menjauh dari keraguan yang bisa menodai ketenangan batin dan keridhaan Allah.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

«لَنْ يَبْلُغَ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ بَأْسٌ» 

Artinya: "Seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin (orang bertakwa) sampai ia meninggalkan sesuatu yang tidak berdosa karena khawatir akan terjerumus pada sesuatu yang berdosa." (HR. Tirmidzi)

Hijrah bukanlah destinasi, melainkan proses panjang menuju ridha Allah. Dan dalam proses itu, keberanian menolak syubhat adalah tonggak penting yang harus dilalui. Ia menuntut ilmu, kesabaran, dan keteguhan hati. Tetapi, siapa pun yang bersungguh-sungguh, Allah akan tunjukkan jalannya, sebagaimana janji-Nya dalam QS. Al-Ankabut ayat 69

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ 

Artinya: "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik."

Semoga kita semua diberikan kekuatan untuk berhijrah secara kaffah, termasuk berani menolak segala bentuk syubhat, demi kebersihan hati, keteguhan iman, dan keberkahan hidup di dunia dan akhirat. (djl) 

Sumber:

Berita Terkait