Hijrah Batiniah: Menyelami Diri untuk Meraih Derajat Taqwa
Radarseluma.disway.id - Hijrah Batiniah: Menyelami Diri untuk Meraih Derajat Taqwa--
"Makna Hijrah yang Lebih Dalam"
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Hijrah adalah istilah yang sangat lekat dengan perjalanan Nabi Muhammad Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah peristiwa monumental dalam sejarah Islam. Namun, esensi hijrah tidak hanya terbatas pada perpindahan fisik semata. Hijrah juga mengandung makna yang lebih dalam yakni hijrah batiniah atau hijrah qalbiyah, yaitu perpindahan dari kegelapan hati menuju cahaya, dari kebodohan menuju pemahaman, dari maksiat menuju taat, dan dari keakuan menuju ketundukan kepada Allah SWT.
Hijrah batiniah adalah perjalanan spiritual yang menuntut seorang hamba untuk mengenali dirinya sendiri, memperbaiki niat, dan menguatkan hubungan dengan Allah. Proses ini tidak kasat mata, namun dampaknya luar biasa dalam membentuk pribadi bertaqwa. Dalam dunia yang semakin penuh distraksi dan materialisme, hijrah batiniah menjadi kebutuhan utama bagi setiap Muslim yang ingin hidup dalam keikhlasan dan kebenaran.
Mengenal Diri Sebagai Awal Hijrah Batiniah
Rasulullah SAW bersabda
"مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ"
Artinya: "Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.".(HR. Al-Baihaqi, dalam Syu’ab al-Iman)
Mengenal diri dalam konteks hijrah batiniah bukan sekadar tahu nama, pekerjaan, atau status sosial, melainkan memahami kekuatan dan kelemahan spiritual yang dimiliki. Menyadari bahwa dalam diri manusia ada potensi kebaikan sekaligus dorongan keburukan yang saling tarik-menarik. Maka, dengan mengenali hati, hawa nafsu, dan bisikan syaitan, seorang Muslim dapat menata kembali jiwanya untuk tunduk pada kebaikan.
Allah SWT berfirman
وَنَفۡسٍ وَّمَا سَوّٰٮهَا فَاَلۡهَمَهَا فُجُوۡرَهَا وَتَقۡوٰٮهَا
Artinya: "Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Allah mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." (QS. Asy-Syams: 7-8)
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap manusia telah diberi potensi oleh Allah untuk memilih jalan fujur (keburukan) atau taqwa (kebaikan). Maka, hijrah batiniah adalah upaya sadar untuk mengarahkan potensi itu kepada kebaikan.
BACA JUGA:Hijrah dari Musik Maksiat Menuju Kedamaian Bacaan Al-Qur’an: Seruan Hati Menuju Cahaya Ilahi
Membersihkan Hati dari Penyakit Spiritual
Hijrah batiniah juga mencakup proses tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa), yaitu usaha membersihkan hati dari penyakit-penyakit seperti riya', ujub, hasad, takabbur, dan cinta dunia. Dalam Al-Qur’an, Allah menyatakan:
قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ زَكّٰٮهَا وَقَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰٮهَا
Artinya: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa)nya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9-10)
Membersihkan hati adalah inti hijrah batiniah. Seseorang yang sukses dalam tazkiyah akan menjadi pribadi yang bersih dari kebencian, lapang dada, sabar terhadap ujian, dan rendah hati terhadap sesama.
Rasulullah SAW juga mengingatkan:
"أَلَا إِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ"
Artinya: "Ketahuilah bahwa dalam tubuh terdapat segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hijrah batiniah adalah tentang memperbaiki hati. Jika hati bersih, maka perilaku pun akan mencerminkan akhlak mulia.
Menuju Derajat Taqwa: Tujuan Akhir Hijrah Batiniah
Tujuan utama dari hijrah batiniah adalah meraih derajat taqwa, yakni hidup dalam kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan. Orang bertaqwa akan berhati-hati dalam ucapan, perbuatan, dan bahkan pikirannya. Ia tidak hanya menjauhi dosa besar, tetapi juga meninggalkan hal-hal syubhat dan makruh demi menjaga kebersihan hati.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.".(QS. Al-Hujurat: 13)
Taqwa bukanlah hasil dari ritual semata, tetapi buah dari perenungan, muhasabah, dan perbaikan diri secara konsisten. Dengan hijrah batiniah, seorang Muslim dapat menjadi hamba yang lebih tunduk, lebih sabar, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
BACA JUGA:Hijrah Komitmen: Solusi Menghindari Pergaulan Bebas dalam Era Modern
Kisah Inspiratif: Umar bin Khattab dan Hijrah Qalbi
Salah satu contoh nyata dari hijrah batiniah adalah kisah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Dahulu ia sangat membenci Islam, bahkan berniat membunuh Nabi Muhammad ﷺ. Namun setelah hatinya terbuka, ia menjadi sosok pemimpin adil dan bijaksana yang terkenal dengan ketakwaannya.
Hijrah Umar bukan hanya berpindah dari kekufuran ke Islam, tetapi perubahan total dari seorang pembenci menjadi pelindung Islam, dari pribadi keras menjadi pemimpin zuhud dan penuh kasih. Perubahan ini adalah bukti bahwa hijrah batiniah mampu merombak struktur jiwa seseorang ketika ia benar-benar membuka hati untuk Allah.
Hijrah Tak Selalu Tampak di Mata
Hijrah batiniah adalah proses panjang yang tidak terlihat secara lahiriah. Ia adalah kerja sunyi antara hamba dan Rabb-nya, melalui malam-malam tangis, istighfar yang tulus, dan upaya memperbaiki diri setiap waktu. Tidak ada akhir bagi hijrah batiniah, selama hayat masih dikandung badan, maka perjuangan untuk menjadi pribadi bertaqwa harus terus dilanjutkan.
Hijrah bukan hanya tentang meninggalkan pakaian lama atau tempat lama. Tapi tentang meninggalkan ego, dendam, cinta dunia, dan segala hal yang menjauhkan diri dari Allah. Dengan hijrah batiniah, kita bukan hanya menjadi Muslim yang taat secara lahiriah, tetapi juga menjadi hamba yang bersih dan kuat secara batiniah.
Saatnya Kita Menyelami Diri
Di tengah dunia yang sibuk dan penuh distraksi, saatnya kita luangkan waktu untuk menyelami diri. Tanya kembali niat kita, evaluasi hati kita, dan kuatkan tekad untuk memperbaikinya. Karena sesungguhnya, kemenangan terbesar bukanlah saat kita menang di mata manusia, tetapi saat kita mampu mengalahkan hawa nafsu dan menjadi hamba yang lebih dekat kepada-Nya.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: "Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Ankabut: 69)
Semoga kita semua diberi taufik dan hidayah oleh Allah untuk menjalani hijrah batiniah dengan tulus, agar kelak kita termasuk orang-orang yang mencapai derajat muttaqin. Aamiin. (djl)
Sumber: