Menjauhi Maksiat Kecil: Langkah Kecil Menuju Hijrah Sejati

Menjauhi Maksiat Kecil: Langkah Kecil Menuju Hijrah Sejati

Radarseluma.disway.id - Menjauhi Maksiat Kecil: Langkah Kecil Menuju Hijrah Sejati--

Hijrah Tak Selalu Tentang Hal Besar

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id -  Hijrah bukan hanya berpindah tempat atau mengubah penampilan luar. Lebih dari itu, hijrah sejati adalah transformasi ruhani dan moral seseorang menuju kehidupan yang lebih diridhai oleh Allah SWT. Banyak orang mengira bahwa untuk berhijrah, seseorang harus meninggalkan dosa-dosa besar terlebih dahulu. Padahal, langkah awal hijrah yang hakiki justru bisa dimulai dari meninggalkan maksiat kecil. Sebab dari kebiasaan kecil itulah pintu dosa besar terbuka. Rasulullah SAW bahkan memperingatkan bahwa seseorang bisa binasa karena meremehkan dosa-dosa kecil yang dilakukan terus-menerus.

Makna Maksiat Kecil dan Dampaknya

Maksiat kecil adalah pelanggaran terhadap larangan Allah yang tidak mencapai tingkat dosa besar, namun tetap tercatat dalam amal keburukan seorang hamba. Contohnya adalah berkata dusta dalam hal ringan, memandang sesuatu yang haram sebentar, menunda salat tanpa alasan syar’i, menyakiti hati orang lain dengan ucapan, hingga mendengarkan ghibah walau tidak ikut membicarakan.

Sekilas terlihat ringan, tapi ketika dilakukan terus-menerus tanpa taubat, dosa-dosa kecil itu akan menumpuk dan bisa membawa seorang hamba pada murka Allah.

BACA JUGA:Mengawali Tahun Hijriyah dengan Semangat Baru: Momentum Perbaikan Amal Harian Menuju Hidup Lebih Bermakna

Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Bahaya Meremehkan Dosa Kecil

Allah SWT berfirman:

يَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ

Artinya: "Mereka menganggapnya sesuatu yang ringan saja. Padahal di sisi Allah, itu adalah besar." (QS. An-Nur: 15)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa perilaku yang dianggap sepele oleh manusia bisa jadi merupakan pelanggaran besar di sisi Allah, apalagi jika dilakukan dengan sengaja dan tanpa penyesalan.

Dalam hadis Rasulullah SAW juga disebutkan:

"إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ"

Artinya: "Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil yang diremehkan, karena dosa-dosa itu akan berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya." (HR. Ahmad dan Thabrani)

Hadis ini menegaskan bahwa dosa kecil yang terus-menerus dilakukan tanpa taubat akan menjadi sebab kehancuran seseorang, layaknya tetesan air yang terus-menerus jatuh bisa melubangi batu.

Hijrah Sejati Dimulai dari Meninggalkan yang Kecil

Hijrah sejati bukan hanya perubahan sesaat, tetapi perubahan yang berkelanjutan. Salah satu indikator hijrah yang benar adalah seseorang merasa resah dengan dosa, sekecil apa pun itu. Ini adalah tanda bahwa hati sudah mulai hidup. Meninggalkan maksiat kecil adalah latihan bagi jiwa untuk lebih disiplin dan menjaga diri dari perkara-perkara yang lebih besar.

Dalam proses hijrah, kita perlu membangun kesadaran bahwa semua amal, besar maupun kecil, akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah SWT berfirman:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ، وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

Artinya: "Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Ayat ini menggambarkan keadilan Allah yang sangat detail; tidak ada yang luput dari perhitungan-Nya.

BACA JUGA:Hijrah Sosial: Memperbaiki Hubungan Sesama di Bulan Penuh Berkah

Langkah Praktis Meninggalkan Maksiat Kecil

1. Muhasabah diri secara rutin

Menyisihkan waktu setiap hari untuk mengevaluasi diri akan membuat kita lebih peka terhadap kesalahan kecil.

2. Menjaga lisan dan pandangan

Dua hal ini sering menjadi sumber maksiat kecil. Padahal Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa banyak manusia terjerumus ke dalam neraka karena tidak menjaga lisannya.

3. Berkumpul dengan orang saleh

Lingkungan sangat memengaruhi perilaku. Berada di tengah-tengah orang yang saleh akan menjaga diri kita dari perbuatan yang dianggap remeh namun berdosa.

4. Meningkatkan kualitas ibadah

Ketika ibadah kita berkualitas, hati kita akan lebih bersih dan peka terhadap hal yang menyimpang.

5. Berdoa agar dijauhkan dari dosa kecil dan besar

Rasulullah SAW sering membaca doa

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَعَلانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

Artinya: "Ya Allah, ampunilah seluruh dosaku, yang kecil dan besar, yang awal dan akhir, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi." (HR. Muslim)

Kebaikan Besar Dimulai dari Perubahan Kecil

Hijrah sejati bukanlah pencitraan, tetapi perjuangan batin untuk berubah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Meninggalkan dosa-dosa kecil adalah langkah awal yang konkret dan realistis dalam proses ini. Sekecil apa pun maksiat, tetaplah maksiat di mata Allah. Dan sebesar apa pun usaha kita menjauhinya, tetaplah bernilai besar di sisi-Nya.

Allah tidak melihat hasil akhir, tetapi juga menghargai proses. Maka dari itu, jangan pernah meremehkan langkah-langkah kecil menuju kebaikan. Karena boleh jadi, dari langkah kecil itulah Allah membuka pintu hidayah besar untuk kita.

Hijrah Itu Progresif, Bukan Instan

Mari kita jadikan hijrah sebagai proses berkelanjutan. Menjauhi maksiat kecil adalah pondasi kuat menuju keteguhan iman. Jadilah pribadi yang peka terhadap dosa dan selalu merasa butuh ampunan Allah. Karena ketika kita menjaga diri dari maksiat kecil, Allah akan menjaga kita dari maksiat besar. Inilah tanda cinta dan penjagaan dari-Nya.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

"وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ... كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ..."

Artinya: "Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya..." (HR. Bukhari)

Maka jangan remehkan perubahan kecil. Karena dari situlah terbentuk hijrah yang sejati. (djl)

Sumber:

Berita Terkait