Hijrah Lisan: Meninggalkan Ghibah untuk Kesucian Hati dan Lisan"

Hijrah Lisan: Meninggalkan Ghibah untuk Kesucian Hati dan Lisan

Radarseluma.disway.id - Hijrah Lisan: Meninggalkan Ghibah untuk Kesucian Hati dan Lisan"--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Dalam perjalanan hijrah seorang Muslim, tidak hanya fisik dan tempat yang berubah, namun yang lebih utama adalah hijrah hati dan perilaku. Salah satu bentuk hijrah yang sering luput dari perhatian adalah hijrah lisan, yaitu upaya meninggalkan kebiasaan berkata buruk, termasuk meninggalkan ghibah (menggunjing). Padahal, ghibah adalah dosa besar yang sering kali dianggap sepele karena hanya berbentuk ucapan. Padahal, dampaknya bisa sangat merusak, baik bagi pelaku maupun objek ghibah. Artikel ini akan membahas pentingnya meninggalkan ghibah sebagai bagian dari hijrah lisan, didukung oleh dalil-dalil dari Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW, serta penjelasan dari para ulama.

Pengertian Ghibah dan Relevansi Hijrah Lisan

Ghibah secara bahasa berarti "membicarakan sesuatu di belakang orang lain". Dalam istilah syariat, ghibah adalah menyebut sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu di belakangnya, walaupun yang dikatakan itu benar. Rasulullah SAW menjelaskan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْغِيبَةُ؟ قَالَ: "ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ"، قِيلَ: أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: "إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ"

Artinya: "Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ada yang bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah ghibah itu?' Beliau menjawab, 'Engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang dia tidak sukai.' Lalu ditanyakan, 'Bagaimana jika memang hal itu benar adanya?' Nabi menjawab, 'Jika apa yang kamu katakan itu memang ada padanya, maka kamu telah mengghibahnya. Dan jika tidak ada padanya, maka kamu telah memfitnahnya.'" (HR. Muslim no. 2589)

Ghibah merusak ukhuwah, menodai hati, dan menghapus pahala kebaikan. Maka dari itu, meninggalkan ghibah merupakan bagian penting dalam hijrah lisan—meninggalkan ucapan buruk dan menggantinya dengan perkataan yang baik, bermanfaat, dan mendamaikan.

Allah Ta’ala dengan tegas mengecam ghibah dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)

Perumpamaan makan daging saudara yang telah mati menunjukkan betapa menjijikkannya perbuatan ghibah di mata Allah. Ini adalah peringatan keras agar umat Islam menjaga lisannya.

Dalam sebuah Hadits tentang ghibah Selain dari segi dosa, ghibah juga merugikan pelakunya di Akhirat kelak. Rasulullah  bersabda:

"مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ"

Artinya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber:

Berita Terkait