Menjaga Spirit Haji di Mana pun Berada: Ibadah Haji Bukan Hanya di Tanah Suci
Radarseluma.disway.id - Menjaga Spirit Haji di Mana pun Berada: Ibadah Haji Bukan Hanya di Tanah Suci--
Menjaga Spirit Haji di Mana pun Berada: Ibadah Haji Bukan Hanya di Tanah Suci
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang sangat agung. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia rela menempuh perjalanan panjang, meninggalkan keluarga, harta, dan kenyamanan demi memenuhi panggilan suci ke Baitullah. Namun, penting untuk disadari bahwa spirit haji tidak berhenti ketika rangkaian manasik selesai di Tanah Suci. Nilai-nilai luhur dari haji harus terus dihidupkan, dijaga, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh umat Islam—baik yang telah berhaji maupun yang belum.
Haji bukan hanya ritual fisik, melainkan juga pendidikan spiritual dan moral. Ia melatih kesabaran, kerendahan hati, pengorbanan, persaudaraan, keikhlasan, dan ketaatan mutlak kepada Allah SWT. Maka dari itu, menumbuhkan ruh (jiwa) haji dalam kehidupan sehari-hari menjadi bukti bahwa ibadah ini bukan semata peristiwa seremonial, melainkan transformasi akhlak menuju ketakwaan sejati.
Nilai Spiritualitas Haji dalam Al-Qur’an
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
"الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَـٰٓأُو۟لِي ٱلْأَلْبَـٰبِ"
Artinya: "Haji itu (berlangsung) pada bulan-bulan yang telah diketahui. Barangsiapa yang menetapkan niat dalam bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (berkata kotor), berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqarah: 197)
Ayat ini dengan gamblang menegaskan bahwa esensi haji adalah menjadikan diri pribadi yang lebih bertakwa. Haji bukan hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruhani untuk menggapai kualitas ketakwaan yang lebih tinggi. Bahkan setelah pulang dari Tanah Suci, semangat menahan diri dari perkataan buruk, dosa, dan perdebatan harus tetap dijaga.
BACA JUGA:Jangan Tinggalkan Amal Karena Takut Riya: Menjaga Niat Tetap Lurus dalam Ibadah
Spirit Haji di Tanah Air: Menjadi Hamba yang Tunduk dan Patuh
Rasulullah SAW bersabda:
"من حج لله فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه"
Artinya: "Barangsiapa berhaji karena Allah, lalu tidak berkata keji dan tidak berbuat fasik, maka ia pulang seperti hari ketika ia dilahirkan oleh ibunya (bersih dari dosa)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa besar dampak spiritual dari ibadah haji. Namun, menjadi 'bersih dari dosa' bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal kehidupan baru yang lebih suci. Maka dari itu, menjaga spirit haji berarti mempertahankan sikap-sikap baik itu dalam keseharian: jujur, sabar, dermawan, tawadhu’, dan menjaga lisan.
Sumber: