Tetap Tangguh di Jalan Iman: Menjadi Muslim Konsisten Setelah Puncak Ibadah

Tetap Tangguh di Jalan Iman: Menjadi Muslim Konsisten Setelah Puncak Ibadah

Radarseluma.disway.id - Tetap Tangguh di Jalan Iman: Menjadi Muslim Konsisten Setelah Puncak Ibadah--

Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id – Setiap Muslim pasti pernah merasakan masa-masa keimanan yang menggebu, terutama setelah menjalani ibadah-ibadah besar seperti Ramadhan, haji, atau umrah. Pada saat itu, hati terasa lebih dekat dengan Allah, lisan lebih mudah berdzikir, dan tubuh lebih ringan dalam melaksanakan ibadah. Namun, tidak sedikit dari kita yang mengalami penurunan semangat ibadah setelah masa-masa puncak tersebut berlalu. Maka, pertanyaannya: bagaimana agar kita tetap menjadi Muslim yang konsisten dalam beribadah dan menjaga iman, bahkan setelah puncak spiritual itu usai?

Menjaga Konsistensi Iman: Tugas Seumur Hidup

Iman dalam hati manusia bersifat fluktuatif. Rasulullah SAW pun telah mengabarkan bahwa iman bisa bertambah dan berkurang. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): 'Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu'." (QS. Fussilat: 30)

Ayat ini menjadi landasan utama bahwa setelah mengakui keimanan, tugas berikutnya adalah istiqamah yaitu konsisten dan teguh dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, meski dalam kondisi suka ataupun duka.

BACA JUGA:Jangan Tinggalkan Amal Karena Takut Riya: Menjaga Niat Tetap Lurus dalam Ibadah

Hadits-Hadits Tentang Pentingnya Konsistensi

Nabi Muhammad SAW juga menekankan pentingnya istiqamah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sufyan bin Abdullah:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْ لِي فِي الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ، قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ

Artinya: "Aku berkata: Wahai Rasulullah, katakan kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya kepada selain engkau." Beliau menjawab: "Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah', kemudian beristiqamahlah." (HR. Muslim no. 38)

Hadits ini menyiratkan bahwa keimanan bukan hanya soal pengakuan lisan, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan nyata secara terus menerus.

Mengapa Konsistensi Itu Sulit?

Setelah Ramadhan, haji, atau momentum spiritual lainnya, banyak Muslim mengalami “penurunan ruhani.” Beberapa sebabnya antara lain:

1. Godaan dunia kembali menguasai hati.

2. Tidak ada suasana yang mendukung seperti ketika Ramadhan atau saat di Tanah Suci.

3. Kurangnya lingkungan yang mengingatkan.

4. Rutinitas dunia yang kembali menyita waktu.

Namun, di sinilah letak ujian sebenarnya. Allah tidak menilai puncak semangat kita sesaat, tapi keteguhan hati kita sepanjang waktu. Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menegaskan bahwa amal yang rutin dan konsisten lebih utama daripada amal besar tapi sesekali saja.

BACA JUGA:Amal Kecil Bernilai Besar: Ketika Ikhlas Menjadi Kunci Utama Penerimaan di Sisi Allah

Strategi Menjaga Konsistensi Setelah Puncak Ibadah

Agar kita tetap menjadi Muslim yang teguh dalam beribadah, berikut beberapa kiat yang bisa dijalankan:

1. Perbaharui niat setiap hari.

Niat yang tulus dan diperbarui akan menjaga semangat dalam menjalankan perintah Allah.

2. Jaga amalan kecil yang rutin.

Seperti shalat sunnah rawatib, dzikir pagi-petang, tilawah Al-Qur’an, dan sedekah walau sedikit

3. Bangun lingkungan yang mendukung.

Bergaul dengan orang-orang saleh akan menularkan semangat dan menjaga diri dari futur (lemah iman).

4. Hadir di majelis ilmu.

Ilmu adalah cahaya yang menghidupkan iman. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya: "Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim no. 2699)

5. Buat target ibadah harian.

Tanpa target, seseorang akan mudah terombang-ambing. Tuliskan dan evaluasi secara berkala.

Contoh Teladan dari Para Salaf

Para sahabat dan salafush-shalih menjadi contoh nyata tentang bagaimana menjaga konsistensi iman. Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal sangat berhati-hati agar imannya tidak turun. Umar bin Khattab menangis saat membaca ayat-ayat tentang neraka karena merasa belum cukup amal.

Imam Hasan Al-Bashri berkata:

“Istiqamah lebih berat daripada seribu karamah.”

Maknanya, konsisten di jalan kebenaran lebih berat dan lebih utama daripada sekadar memperoleh keistimewaan-keistimewaan spiritual.

Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa menjadi Muslim konsisten bukan perkara mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan. Puncak-puncak spiritual seperti Ramadhan atau haji seharusnya menjadi batu loncatan, bukan akhir perjalanan. Justru setelah itu, tantangan iman yang sesungguhnya dimulai. Allah SWT telah menjanjikan keberkahan dan ketenangan hidup bagi mereka yang istiqamah, sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَـٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami adalah Allah' kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."(QS. Al-Ahqaf: 13)

Konsistensi dalam beragama adalah buah dari keimanan sejati. Jangan jadikan ibadah hanya sebatas ritual musiman. Jadikan setiap hari sebagai ladang amal. Jadilah Muslim yang tetap tangguh di jalan iman, walau dunia terus berubah arah.

“Bukan seberapa besar ibadah kita di waktu tertentu, tapi seberapa konsisten kita dalam menjaga hati tetap dalam ketaatan kepada Allah.” (djl)

Sumber:

Berita Terkait