Belajar dari Para Salaf: Ketekunan Ibadah yang Tak Pernah Padam
Radarseluma.disway.id - Belajar dari Para Salaf: Ketekunan Ibadah yang Tak Pernah Padam--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Dalam lintasan sejarah Islam, generasi awal umat ini yang dikenal sebagai as-salaf ash-shalih (para pendahulu yang saleh), telah meninggalkan teladan agung dalam segala aspek kehidupan, terutama dalam hal ketekunan beribadah. Mereka bukan hanya pemilik ilmu dan pemahaman agama yang mendalam, tetapi juga para pelaku amal yang tak mengenal lelah dalam beribadah. Ibadah bukan hanya kewajiban bagi mereka, tapi kebutuhan ruhani yang tak tergantikan. Ketekunan mereka dalam shalat malam, puasa sunah, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan jihad fi sabilillah adalah potret nyata dari kecintaan yang mendalam kepada Allah Ta’ala.
Di tengah zaman yang serba cepat dan penuh godaan, penting bagi umat Islam hari ini untuk kembali meneladani semangat ibadah para salaf. Mereka adalah panutan dalam menjaga istiqamah dan keikhlasan, dua hal yang kerap kita lupakan dalam hiruk-pikuk dunia.
BACA JUGA:Amal Kecil Bernilai Besar: Ketika Ikhlas Menjadi Kunci Utama Penerimaan di Sisi Allah
Ketekunan Ibadah Para Salaf: Antara Kecintaan dan Ketakutan
Para salaf menekuni ibadah bukan semata karena kewajiban, melainkan karena cinta kepada Allah dan rasa takut akan siksa-Nya. Ketekunan mereka merupakan wujud penghambaan yang tulus, jauh dari riya dan ujub.
1. Shalat Malam yang Tak Pernah Terlewatkan
Shalat malam (qiyamullail) menjadi salah satu kebiasaan utama para salaf. Mereka menjadikan malam sebagai ladang untuk menuai pahala dan mendekat kepada Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَانُوۡا قَلِيۡلًا مِّنَ الَّيۡلِ مَا يَهۡجَعُوۡنَ ١٧وَبِالۡاَسۡحَارِ هُمۡ يَسۡتَغۡفِرُوۡنَ ١٨
Artinya: "Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS. Az-Zariyat: 17–18)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahkan berkata:
"Orang yang terlalu banyak tidur di malam hari adalah orang yang kehilangan banyak kebaikan."
2. Tilawah dan Tadabbur Al-Qur'an
Para salaf memuliakan Al-Qur’an dengan tilawah dan tadabbur setiap hari. Diriwayatkan bahwa Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali di bulan Ramadhan, dua kali setiap harinya.
Rasulullah SAW bersabda:
"خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ"
Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya."(HR. Bukhari no. 5027)
3. Puasa Sunah Sebagai Rutinitas
Imam Ahmad bin Hanbal dikenal berpuasa hampir setiap hari, kecuali hari-hari yang dilarang. Demikian pula Hasan Al-Bashri dan para tabi’in lainnya.
Dalam hadits disebutkan:
"عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ... وَأَنْ أَصُومَ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ"
Artinya: "Kekasihku (Rasulullah SAW) berwasiat kepadaku… untuk berpuasa tiga hari setiap bulan." (HR. Bukhari dan Muslim)
BACA JUGA:Merawat Konsistensi Ibadah Setelah Bulan Haji: Istiqamah Menuju Ridha Ilahi
Dalil-Dalil Pendukung Ketekunan Beribadah
1. Al-Qur'an Menganjurkan Ibadah Konsisten
Allah berfirman:
"وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ"
Artinya: "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian)." (QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini menjelaskan bahwa ibadah bukan sebatas fase hidup, tapi perjalanan seumur hidup hingga ajal menjemput.
2. Rasulullah SAW Mencontohkan Ketekunan Ibadah
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
"كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ"
Artinya: "Rasulullah SAW jika mengerjakan suatu amalan, beliau tekun dan terus menjaganya." (HR. Muslim no. 783)
Ketekunan Bukan Sekadar Banyak, tapi Rutin dan Ikhlas
Para salaf tidak sekadar banyak beribadah, tetapi juga menjaga rutinitas dan keikhlasannya. Hal ini sesuai sabda Nabi Muhammad Rasulullah SAW:
"أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ"
Artinya: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dikerjakan meski sedikit." (HR. Bukhari no. 6465 dan Muslim no. 783)
Amalan kecil yang dilakukan secara konsisten lebih besar nilainya dibanding amalan besar yang hanya sesekali dilakukan. Para salaf memahami prinsip ini, sehingga mereka membangun hubungan dengan Allah secara berkesinambungan, bukan musiman.
Pelajaran dan Relevansi untuk Umat Hari Ini
Meneladani para salaf bukan berarti meniru 100% apa yang mereka lakukan secara teknis, tetapi mencontoh semangat, keikhlasan, dan konsistensi mereka. Di zaman yang penuh gangguan seperti sekarang, menjaga ibadah lima waktu tepat waktu, menyisihkan waktu untuk dzikir pagi-petang, membaca Al-Qur’an walau hanya satu halaman, dan shalat malam meskipun dua rakaat, adalah langkah besar dalam meniti jalan para salaf.
BACA JUGA:Keluarga Suci dalam Islam: Keteladanan Abadi dari Ahlul Kisa untuk Umat Sepanjang Zaman
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa para salaf menunjukkan kepada kita bahwa ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh ketekunan mampu melahirkan manusia-manusia unggul yang mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya. Mereka hidup dalam keheningan malam bersama Al-Qur’an, berjuang dalam jihad tanpa pamrih, dan senantiasa memelihara hati dari dunia yang melalaikan. Ibadah bagi mereka bukan rutinitas, tapi energi kehidupan.
Mari kita hidupkan kembali semangat ketekunan dalam beribadah seperti para salaf. Jangan biarkan ibadah kita hanya menjadi aktivitas kosong tanpa ruh. Mulailah dari hal kecil, istiqamahlah, dan niatkan segalanya karena Allah. Sebab, kebaikan besar dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
“Jadilah seperti para salaf, bukan hanya dalam ucapan, tapi dalam amal dan hati yang selalu terpaut kepada Allah.”
Demikianlah penjelasan yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat buat kita semua dan menjadikan kita lebih baik lagi. Aamiin. (djl)
Sumber: