Menghindari Perbuatan Riya’ dalam Beramal di Bulan Dzulqa’dah
Radarseluma.disway.id - Menghindari Perbuatan Riya’ dalam Beramal di Bulan Dzulqa’dah--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Bulan Dzulqa’dah adalah salah satu dari empat bulan haram (suci) dalam Islam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah seperti shalat, puasa sunnah, dzikir, sedekah, dan lainnya. Namun, di tengah semangat beramal tersebut, ada satu penyakit hati yang sangat berbahaya dan dapat menghapus pahala semua amal yaitu riya’.
Riya’ adalah perbuatan memperlihatkan amal kebaikan kepada orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan pujian, ketenaran, atau penghargaan dari manusia. Perbuatan ini tidak hanya menghilangkan keikhlasan, tetapi juga mengundang murka Allah. Maka, penting bagi setiap Muslim untuk menjaga diri dari riya’, terutama ketika sedang memperbanyak ibadah di bulan-bulan mulia seperti Dzulqa’dah.
Pengertian Riya’ dan Bahayanya
Secara etimologi, riya’ berasal dari kata ra’aa-yura’i yang artinya memperlihatkan. Dalam istilah syar’i, riya’ adalah melakukan suatu amal ibadah dengan niat agar dilihat oleh orang lain dan mendapatkan pujian, bukan karena Allah semata.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ma'un ayat 6-7 yang berbuny:
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang berbuat riya’, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Ma’un: 6–7)
Dalam ayat ini, Allah mengecam orang-orang yang beramal karena riya’, dan tidak mau menolong orang lain dengan hal-hal kecil sekalipun. Hal ini menunjukkan bahwa riya’ bukan hanya merusak amal, tapi juga menunjukkan hati yang tidak ikhlas dan tidak peduli terhadap sesama.
Dalam hadits shahih riwayat Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Ahmad yang mana berbunyi:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.”
Para sahabat bertanya, “Apa itu Syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, الرِّيَاءُ“(Yaitu) riya’.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani)
Riya’ digolongkan sebagai syirik kecil karena menjadikan manusia sebagai tujuan ibadah, bukan Allah. Walaupun tidak sampai mengeluarkan dari Islam, tapi cukup untuk menghapus pahala amal dan mendatangkan azab jika tidak bertaubat.
Sumber: