Kehidupan Rasulullah SAW: Meneladani Kesederhanaan dalam Ibadah

Kehidupan Rasulullah SAW: Meneladani Kesederhanaan dalam Ibadah

Radarseluma.disway.id - Kehidupan Rasulullah SAW: Meneladani Kesederhanaan dalam Ibadah--

Reporter: Juli Irawan 

Radarseluma.disway.id - Kesederhanaan adalah salah satu nilai luhur dalam ajaran Islam yang diteladankan langsung oleh Rasulullah SAW dalam berbagai aspek kehidupannya. Meski beliau adalah manusia pilihan, kekasih Allah, dan pemimpin seluruh umat, namun kehidupan beliau sangat jauh dari sikap berlebihan, baik dalam urusan dunia maupun dalam ibadah. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa ibadah yang diterima Allah bukanlah yang penuh dengan formalitas atau tampak hebat di mata manusia, tetapi yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, konsistensi, dan kesederhanaan.

Di era modern saat ini, di mana segala sesuatu kerap dinilai dari tampilan luar dan ukuran materi, meneladani kesederhanaan Rasulullah SAW dalam beribadah menjadi sangat penting agar kita tidak terjebak pada sikap riya, takabbur, atau bahkan ghurur (tertipu oleh amal sendiri). Artikel ini akan menguraikan bagaimana kesederhanaan Rasulullah SAW dalam beribadah dan bagaimana kita bisa menjadikannya sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:Meraih Kedekatan dengan Allah Lewat Tadabbur Al-Qur’an

Kesederhanaan dalam Shalat

Rasulullah SAW sangat mencintai shalat. Namun, dalam kecintaannya itu, beliau tetap mengajarkan keseimbangan dan kesederhanaan agar ibadah tidak menjadi beban, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Dalam sebuah Hadits riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: مَا صَلَّيْتُ خَلْفَ أَحَدٍ أَخَفَّ صَلَاةً وَلَا أَتَمَّ صَلَاةً مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: "Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku tidak pernah shalat di belakang seseorang yang lebih ringan dan lebih sempurna shalatnya daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW senantiasa menjaga kesederhanaan dalam shalatnya. Beliau tidak memperpanjang shalat secara berlebihan, terutama jika menjadi imam, demi menjaga kenyamanan makmum.

Selain itu, beliau juga memperhatikan kondisi orang lain ketika mengimami shalat berjamaah. Dalam sebuah Hadits lain, Rasulullah SAW bersabda yang mana diriwayatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim yang berbunyi: 

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَذَا الْحَاجَةِ

Artinya: "Apabila salah seorang dari kalian menjadi imam bagi manusia, maka hendaklah ia meringankan (shalatnya), karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan memiliki keperluan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah bentuk nyata dari kesederhanaan yang penuh kasih dan pengertian.

BACA JUGA:Keikhlasan dalam Beramal: Fondasi Amal Diterima di Sisi Allah

Kesederhanaan dalam Puasa dan Makanan

Puasa adalah ibadah yang sangat disukai Rasulullah SAW. Meski begitu, beliau tidak pernah berlebih-lebihan dalam menyambut waktu berbuka maupun saat sahur. Beliau mengajarkan untuk berbuka dengan yang ringan dan tidak memanjakan hawa nafsu dengan berbagai hidangan mewah.

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Abu Dawud disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Artinya: "Rasulullah SAW biasa berbuka puasa dengan beberapa butir kurma segar sebelum shalat (Maghrib), jika tidak ada maka dengan beberapa butir kurma kering, jika tidak ada maka beliau meminum beberapa teguk air." (HR. Abu Dawud)

Kesederhanaan beliau dalam berbuka puasa menunjukkan bahwa yang terpenting dari ibadah adalah keikhlasan, bukan kemewahan atau kemegahan saat menyambut momen-momen ibadah.

Kesederhanaan dalam Dzikir dan Doa

Dzikir dan doa adalah ibadah hati yang sangat dijaga oleh Rasulullah SAW. Beliau tidak membebani dirinya dengan jumlah tertentu yang sulit dicapai, namun justru mengajarkan umatnya untuk istiqamah meski dalam jumlah sedikit.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Ahzab ayat 41-42 yang mana berbunyi: 

فَاذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Artinya: "Maka ingatlah Allah dengan sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."
(QS. Al-Ahzab: 41-42)

Ayat ini menunjukkan pentingnya memperbanyak dzikir, namun Rasulullah SAW tetap mencontohkan bentuk dzikir yang sederhana namun konsisten. Beliau juga tidak mengajarkan dzikir atau doa yang terlalu panjang hingga menyulitkan umat.

BACA JUGA:Menjaga Adab dalam Bertutur Kata di Bulan Dzulqa’dah

Kesederhanaan dalam Ibadah Sunnah dan Keseharian

Rasulullah SAW juga tidak pernah memaksakan diri dalam ibadah Sunnah. Aisyah RA meriwayatkan sebagaimana dijelaskan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim yang mana berbunyi: 

كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً، وَأَيُّكُمْ يُطِيقُ مَا كَانَ يُطِيقُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya: "Amalan Nabi itu terus-menerus (kontinu). Siapakah di antara kalian yang mampu melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW?" (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesederhanaan itu tidak berarti sedikit, melainkan berkesinambungan dan tidak terputus. Ini adalah pelajaran besar bahwa kualitas ibadah lebih utama daripada kuantitasnya semata.

Penjelasan dan Hikmah

Kesederhanaan Rasulullah SAW dalam ibadah bukan karena kekurangan semangat, tetapi karena kesempurnaan pemahaman. Beliau mengerti batas kemampuan manusia dan senantiasa mengajarkan umatnya agar tidak berlebihan, bahkan dalam beragama sekalipun.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari yang mana berbunyi: 

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

Artinya: "Sesungguhnya agama ini mudah. Dan tidaklah seseorang mempersulit diri dalam agama, melainkan ia akan dikalahkan oleh agama itu." (HR. Bukhari)

Ini menjadi pedoman penting bagi umat Islam agar tidak menjadikan agama sebagai beban, melainkan sebagai cahaya kehidupan yang dijalani dengan tenang dan penuh keikhlasan.

BACA JUGA:Amalan Rahasia yang Dapat Menyelamatkan di Akhirat

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa esederhanaan Rasulullah SAW dalam beribadah adalah cerminan dari pemahaman yang mendalam terhadap ajaran Islam. Beliau mengajarkan bahwa ibadah bukanlah sekadar rutinitas fisik, tetapi sebuah bentuk penghambaan hati yang penuh keikhlasan, kasih sayang, dan kesadaran diri.

Meneladani kesederhanaan beliau akan membawa kita pada ibadah yang tidak hanya ringan dan konsisten, tetapi juga lebih bermakna dan jauh dari riya serta ujub. Inilah jalan tengah yang indah dalam beragama: tidak berlebih-lebihan dan tidak pula meremehkan.

Di tengah zaman yang penuh dengan pencitraan dan formalitas dalam beragama, meneladani Rasulullah SAW dalam kesederhanaan beribadah adalah langkah konkret untuk menghidupkan sunnah dan menjadikan agama sebagai rahmat. Marilah kita kembalikan semangat ibadah kita pada esensinya: cinta, keikhlasan, dan penghambaan yang tulus kepada Allah SWT, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik teladan. (djl)

 

Sumber:

Berita Terkait