Menjaga Kesucian Hati dan Niat dalam Beribadah
Radarseluma.disway.id - Menjaga Kesucian Hati dan Niat dalam Beribadah--
Radarseluma.disway.id - Dalam kehidupan seorang Muslim, ibadah merupakan inti dari pengabdian kepada Allah SWT. Ibadah bukan semata-mata tentang gerakan fisik atau lisan, namun lebih dalam dari itu, ia bersumber dari hati yang ikhlas dan niat yang tulus semata-mata karena Allah SWT. Kesucian hati dan kemurnian niat menjadi pondasi utama dalam beribadah. Tanpa keduanya, amal sebesar apa pun bisa kehilangan nilainya di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk senantiasa menjaga hati dan memperbaiki niat dalam setiap amal ibadah.
Pentingnya Niat dan Kesucian Hati
Dalam Islam, niat memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Bukhari dan Muslim yang mana berbunyi:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi prinsip utama dalam setiap amal. Amal yang dilakukan dengan niat karena Allah akan mendapatkan pahala dan keridhaan-Nya. Sebaliknya, jika amal dilakukan untuk riya (pamer), sum’ah (ingin didengar), atau tujuan duniawi lainnya, maka tidak akan bernilai di sisi Allah SWT.
Kesucian hati juga merupakan indikator keikhlasan seorang hamba. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Asy-Syura ayat 88 - 89 yang mana berbunyi:
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ. إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya: “(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 88–89)
Hati yang bersih adalah hati yang selamat dari kesyirikan, riya’, hasad, kebencian, dan segala penyakit hati lainnya. Hanya hati yang seperti inilah yang bisa membawa seseorang menuju keselamatan di akhirat kelak.
BACA JUGA:Pentingnya Membiasakan Dzikir dan Doa Setiap Hari Setelah Ditempa Selama Bulan Ramadhan
Menjaga Keikhlasan dari Godaan Duniawi
Di era modern yang penuh dengan kemudahan publikasi dan eksistensi di media sosial, menjaga niat menjadi tantangan tersendiri. Banyak yang secara tidak sadar terjebak dalam riya’, yaitu memperlihatkan ibadah agar mendapat pujian manusia. Padahal, riya adalah bentuk syirik kecil yang bisa menghapus pahala.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Ahmad yang mana berbunyi:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, ‘Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Riya' "(HR. Ahmad)
Oleh sebab itu, setiap Muslim hendaknya senantiasa mengevaluasi dan memperbaiki niat sebelum, selama, dan setelah beribadah. Berusahalah untuk menyembunyikan amal Shalih, sebagaimana kita menyembunyikan aib, karena amal yang tersembunyi lebih dekat kepada keikhlasan.
Tanda-tanda Amal yang Ikhlas
Berikut beberapa tanda seseorang menjaga kesucian hati dan niatnya dalam beribadah:
- Tidak mengharap pujian manusia – Ia merasa cukup dengan diketahui Allah saja.
- Tetap beramal meski tidak dilihat orang – Ia tetap shalat malam meski tidak diketahui orang lain.
- Tidak kecewa bila tidak dipuji – Ia tidak sedih saat amalnya tidak mendapat perhatian.
- Tak terpengaruh dengan popularitas – Ia tidak menjadikan ibadah sebagai sarana mencari nama atau posisi.
Upaya Menjaga Kesucian Hati dan Niat
- Memperbanyak Dzikir dan Istighfar – Mengingat Allah secara rutin melembutkan hati dan mengikis penyakit-penyakit hati.
- Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’an – Hati akan bersih bila sering tersentuh ayat-ayat Allah yang agung.
- Bergaul dengan Orang-orang Shalih – Lingkungan yang baik akan mendukung niat baik dan mencegah dari penyakit riya.
- Menghindari Ucapan dan Perbuatan yang Mengarah pada Riya – Seperti sering membicarakan amal ibadah diri sendiri secara berlebihan.
- Bermuhasabah (Introspeksi Diri) – Menilai kembali niat dalam setiap amal, apakah benar-benar karena Allah atau tidak.
Allah Menilai Hati
Satu hal yang penting disadari adalah bahwa Allah tidak menilai rupa dan harta kita, namun menilai hati dan amal kita. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Muslim yang berbunyi:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Ini menegaskan bahwa amal ibadah hanya akan diterima jika dilandasi dengan niat yang benar dan hati yang bersih.
BACA JUGA:Pandangan Islam terhadap Joget Viral Bagi-bagi THR Ala Yahudi
Dari penjelasan diatas maka dapatlah kita simpulkan bahwa Menjaga kesucian hati dan niat dalam beribadah adalah pekerjaan yang terus-menerus dan memerlukan kejujuran pada diri sendiri. Setiap Muslim hendaknya menyadari bahwa niat adalah ruh dari amal, dan hati adalah wadah utama dari keimanan. Amal yang besar tidak akan berguna bila niatnya salah, namun amal kecil bisa menjadi besar karena niat yang ikhlas.
Semoga kita senantiasa diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk menjaga hati dari penyakit-penyakitnya, dan memperbaiki niat agar setiap ibadah kita bernilai di sisi-Nya. Mari kita terus belajar untuk menjadi hamba-hamba yang ikhlas, karena sesungguhnya hanya amalan yang ikhlaslah yang akan mengantarkan kita kepada Surga Allah.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا خَالِصَةً لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيهَا لِغَيْرِكَ شَيْئًا
Artinya: "Ya Allah, jadikanlah amal kami ikhlas semata-mata karena mengharap wajah-Mu yang mulia, dan jangan Engkau jadikan sedikit pun dari amal kami ditujukan untuk selain-Mu"
Demikianlah yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat buat kita semua (djl)
Sumber: