Keutamaan Istighfar dan Taubat di Bulan Syawal
Radarseluma.disway.id - Keutamaan Istighfar dan Taubat di Bulan Syawal--
Reporter: Juli Irawan
Radarseluma.disway.id - Bulan Syawal hadir sebagai kelanjutan dari bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan. Setelah sebulan penuh umat Islam dilatih untuk menahan hawa nafsu, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, kini saatnya menjaga momentum tersebut dengan memperkuat amalan pasca-Ramadhan. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak istighfar dan taubat. Bulan Syawal menjadi saat yang tepat untuk meneguhkan komitmen diri dalam menjaga kesucian jiwa yang telah ditempa selama Ramadhan.
Makna dan Kedudukan Istighfar dan Taubat
Istighfar adalah permohonan ampun kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan. Sedangkan taubat adalah kembalinya seorang hamba dari perbuatan dosa menuju ketaatan kepada Allah, dengan penuh penyesalan dan niat kuat untuk tidak mengulanginya. Kedua amalan ini sangat dicintai Allah dan menjadi sebab utama diampuninya dosa-dosa.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Hud ayat 90 yang berbunyi:
فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ
Artinya: "Maka mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih."
(QS. Hud: 90)
Ayat ini menunjukkan bahwa istighfar dan taubat adalah pintu ampunan Allah SWT yang senantiasa terbuka bagi hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri.
BACA JUGA:6 Penyakit Umat Nabi Muhammad sebagai Pertanda Hari Kiamat Sudah Dekat
Syawal: Momentum Penyucian Diri yang Berkelanjutan
Bulan Syawal, secara harfiah berarti "peningkatan". Artinya, setelah Ramadhan berakhir, bukan berarti ibadah dan kedekatan kita kepada Allah ikut berakhir. Justru di bulan ini, kita harus meningkatkan kualitas iman dan amal kita, termasuk dalam hal memperbanyak istighfar dan taubat.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Tirmidzi yang mana berbunyi:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Artinya: "Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertaubat." (HR. Tirmidzi, no. 2499)
Hadits ini menegaskan bahwa manusia tidak lepas dari dosa, namun keutamaan terletak pada siapa yang mau mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah dengan hati yang tulus. Maka setelah Ramadhan, saat kita kembali berinteraksi dengan dunia luar, tidak menutup kemungkinan kita kembali khilaf. Maka taubat dan istighfar di bulan Syawal menjadi benteng untuk menjaga diri dari keterpurukan spiritual.
BACA JUGA:Dosa Jariyah Seorang Wanita yang Terus Mengalir hingga Hari Kiamat Menurut Ajaran Islam
Keutamaan Istighfar dan Taubat
Pertama: Mendatangkan Ampunan Allah
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 135 yang berbunyi disebutkan:
وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ
Artinya: “Dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah?” (QS. Ali Imran: 135)
Ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak dan mampu mengampuni dosa, dan Dia Maha Pengampun bagi siapa yang mau kembali kepada-Nya.
Kedua: Pembuka Pintu Rezek
Nabi Nuh AS berkata kepada kaumnya yang Allah SWT abadikan dalam Al-Qur'an Surat Nuh ayat 10 - 12 yang mana berbunyi:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
Artinya: “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula) di dalamnya sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)
Ini menunjukkan bahwa istighfar bukan hanya membersihkan jiwa, tetapi juga menjadi sebab turunnya keberkahan dalam kehidupan dunia.
Ketiga: Ketenangan Jiwa
Hati yang dipenuhi dosa akan gelisah, tidak tenang. Dengan taubat dan istighfar, hati akan bersih dan tenang, karena kembali dalam dekapan rahmat Allah.
Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Hadits Ibnu Majah yang mana berbunyi:
طُوبَى لِمَن وُجِدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا
Artinya: “Beruntunglah orang yang pada catatan amalnya terdapat istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah, no. 3818)
Hadits ini menunjukkan bahwa banyaknya istighfar menjadi indikator keberuntungan di sisi Allah SWT.
BACA JUGA:Memperbanyak Sedekah di Bulan Syawal: Wujud Syukur dan Konsistensi Ibadah Pasca Ramadhan
Praktik Istighfar dan Taubat di Bulan Syawal
Agar istighfar dan taubat kita menjadi lebih bermakna, berikut ini beberapa amalan yang bisa dilakukan secara praktis di bulan Syawal:
- Membaca istighfar setiap selesai shalat: Misalnya "Astaghfirullah" sebanyak tiga kali, lalu disusul dengan doa taubat.
- Mendirikan shalat sunnah taubat secara rutin, terutama saat merasa telah melakukan kesalahan.
- Murojaah dosa-dosa masa lalu, lalu menyesalinya dan berniat tidak mengulanginya.
- Menjaga lisan, pandangan, dan perbuatan agar tetap dalam koridor syariat, sebagai bentuk nyata dari taubat yang tulus.
BACA JUGA:Meneladani Akhlak Rasulullah dalam Kehidupan Sehari-hari
Mari kita jadikan bulan Syawal ini sebagai titik awal pertaubatan yang sungguh-sungguh. Jangan tunda-tunda taubat, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput. Allah SWT Maha Pengampun, dan Dia mencintai hamba-Nya yang kembali kepada-Nya. Perbanyaklah istighfar, perbanyaklah taubat, dan jaga hati agar tetap bersih dari dosa. Semoga kita termasuk golongan yang diampuni dosa-dosanya dan diberi keberkahan hidup oleh Allah SWT. (djl)
Sumber: